
"Emily..." panggil tuan Brishel ketika melihat putrinya baru kembali pulang. "Kau pasti menghabiskan waktumu di galeri!"
"Aku butuh udara segar, Ayah," ucap Emily dengan nada lemah.
Tuan Brishel mendekat dan menatap putrinya. "Kau pasti kelelahan, cepat istirahat dan jangan lupa obatmu!"
Emily memang lelah tapi bukan lelah fisik tapi lelah dengan keadaan.
"Ayah, tolong relakan aku," pinta Emily.
Bukan kali pertama Emily meminta hal seperti itu dan seperti biasa tuan Brishel akan meminta Emily untuk bertahan.
"Kita pasti menemukan adikmu jadi kau harus bertahan," ucapnya.
Kalimat yang tidak ingin didengar oleh Emily sama sekali.
"Semoga dia tidak pernah ditemukan," batin Emily.
...***...
Chris kembali ke mansion ketika waktu makan malam tiba tapi pemuda itu tampak tidak berselera makan.
"Aku akan ke kamar," ucapnya yang tidak ikut bergabung di meja makan.
"Mungkin Chris lelah," komentar Sera. Dia melihat sekeliling mencari Aya tapi gadis itu tidak ada.
"Bibi An, tolong siapkan makanan untuk Chris dan bawa ke kamarnya!"
"Baik, Nyonya," Bibi An bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan sesuai perintah Sera.
Crystal yang ada di meja makan hanya bisa memakan sayuran dari piringnya, dia harus menghemat tenaga jadi tidak mau protes pada sang mommy.
"Daddy sudah memesan peralatan make up yang kau inginkan itu," ucap Saka tiba-tiba.
"Benarkah?" Crystal langsung bersemangat.
"Karena limited edition jadi harus menunggu beberapa hari," jelas Saka.
Crystal berdiri dan memeluk Saka karena kesenangan. "I love you, daddy. Kalau aku sudah mendapatkan badan ideal nanti daddy harus buatkan pabrik kecantikan untukku, ya?"
"Ehem!" Sera berdehem karena Crystal meminta sesuatu yang berlebihan. "Pikirkan nilaimu dulu!"
"Jangan terlalu menuruti kemauan Crystal, dia harus belajar untuk mendapatkan sesuatu dengan usahanya sendiri," ucap Sera memberi peringatan pada suaminya.
Saka hanya diam saja karena perkataan Sera ada benarnya.
Sementara Bibi An sudah selesai menyiapkan sesuatu untuk Chris, perempuan paruh baya itu ingin ke kamar sang tuan muda tapi nampan yang dibawanya diambil oleh Aya tiba-tiba.
"Maafkan aku, Bibi An. Aku tadi sedang membersihkan noda di baju putih tuan muda jadi terlambat," ucap Aya.
"Tidak apa-apa, cepat antarkan makanan itu!" balas Bibi An.
Aya bergegas ke kamar Chris dan memanggil pemuda itu di depan pintu kamarnya.
"Tuan Muda, ini saya," ucap Aya.
Cukup lama Aya berdiri sampai Chris membuka pintu.
"Masuklah!" pinta Chris.
Tampaknya pemuda itu baru saja mandi terlihat dari rambutnya yang basah dan acak-acakan. Chris jadi terlihat semakin tampan.
Sampai wajah Aya bersemu merah kalau saja tidak ditutupi bubuk hitam.
"Silahkan makan, Tuan Muda," ucap Aya setelah selesai menyusun makanan di meja yang ada di kamar itu.
Chris duduk dan meminta Aya juga duduk di sampingnya. "Kemarilah, aku ingin berbicara penting!"
"Ini mengenai memancing ikan, aku hari ini sudah mendatangi dua ikan yang menjadi target kita!"
Mendengar itu, Aya duduk di samping Chris karena ingin mendengar lebih jauh.
"Bagaimana ikannya, Tuan Muda?" tanya Aya kemudian.
"Aku butuh tenaga untuk bercerita jadi suapi aku dulu," pinta Chris.
"Apa?" Aya selalu tak habis pikir akan permintaan Chris yang bertujuan menggodanya itu.
Namun, demi keberhasilan memancing ikan, dia harus menurut.