
"Ayah, lepaskan aku! Ayah..." teriak Emily yang disekap di sebuah ruangan.
Gadis itu tidak akan membiarkan ayahnya bertindak gila.
"Percuma Ayah, walaupun aku mendapat donor dari awal aku sudah tidak punya masa depan jadi relakan aku!"
Emily terus berteriak entah didengar atau tidak.
"Tolong lupakan ibu dan biarkan aku menyusulnya!"
Tuan Brishel menutup telinganya seolah-olah tidak mendengar teriakan dari Emily. Dia lebih memilih untuk mendatangi dokter pribadi keluarganya yang memeriksa Aya.
Semenjak Emily sakit, Tuan Brishel sampai mendirikan rumah sakit khusus untuk merawat Emily dengan fasilitas yang canggih.
Itulah kenapa sakit Emily bisa tertutupi selama ini.
"Bagaimana?" tanya Tuan Brishel.
"Keadaannya masih lemah dan tubuhnya terdapat beberapa luka memar," jawab sang dokter.
Tuan Brishel ingin melihat keadaan Aya sendiri, untuk pertama kalinya dia akan melihat putri keduanya.
Dulu Ibu Aya membawa Aya kabur setelah beberapa hari melahirkan. Ternyata tanpa sengaja Ibu Aya mendengar pembicaraan Tuan Brishel bersama dokter yang membicarakan masalah donor sum-sum tulang belakang.
Sebenarnya kalau dari awal Ibu Aya tidak kabur, Emily bisa segera bisa mendapat donor sum-sum tulang karena donor itu tidak berbahaya, sel bisa regenerasi lagi dalam beberapa waktu.
Hanya saja Ibu Aya kabur dan mengganti identitasnya, Emily semakin sakit dan komplikasi yang membutuhkan donor lainnya karena ginjal gadis itu tersisa satu dan sekarang sudah mulai rusak lagi.
Bayangkan saja dari kecil sudah menerima suntikan obat terus menerus, Emily bisa bertahan sampai sekarang adalah sebuah mukjizat.
"Kau pasti bisa bertahan lebih lama Emily, kau akan hidup normal seperti gadis lainnya," gumam Tuan Brishel sambil masuk ke ruangan di mana Aya berada.
Seorang gadis cantik tergeletak tak berdaya di sebuah bed pasien.
Sejenak Tuan Brishel mematung, dia sudah mendengar laporan dari mata-mata yang dia tugaskan, bagaimana hidup Aya selama ini.
"Dia sangat berbeda dengan istriku..."
Lagi-lagi Tuan Brishel teringat mendiang istrinya, dia tidak sanggup jika harus kehilangan Emily.
Sedetik kemudian Aya terbangun karena pengaruh obat bius yang disuntikkan ke badannya sudah hilang.
"Di mana aku?" gumamnya panik karena ruangan yang dia tempati berbeda dari ruangan sebelumnya.
Aya juga melihat ada seorang lelaki berdiri tak jauh dari bed pasien yang dia tiduri.
"Anda siapa? Di mana tuan muda Chris?" tanya Aya.
Tuan Brishel mendekat dan mengelus rambut Aya dengan lembut.
"Aku ayahmu yang mencarimu selama ini," ucap Tuan Brishel.
"Ayahku?" gumam Aya sambil merangkai setiap kejadian. Dia merasakan nyeri lagi di kepalanya.
"Tidak perlu banyak berpikir, ini memang jalan takdir kita bisa dipertemukan lagi, Emily adalah kakakmu," lanjut Tuan Brishel.
Kali ini Tuan Brishel memeluk Aya dan gadis itu merasakan kehangatan pelukan ayah kandungnya.
Ternyata benar Emily adalah kakaknya tapi kenapa gadis itu tidak mau mengakuinya saat di pesta?
Dan Chris, ada di mana?
Rasanya tidak mungkin kalau Chris melepas Aya begitu saja.
"Panggil aku ayah mulai sekarang," pinta Tuan Brishel.
"A... ayah?" panggil Aya dengan canggung.
"Ya benar begitu, kau adalah putriku dan anggota keluarga Brishel," Tuan Brishel berusaha membuat Aya percaya padanya.