
Aya kembali ke kamarnya dan terus memikirkan perkataan Chris di kolam renang.
"Aaaa..." gadis itu berteriak karena Chris yang sudah tahu wajah aslinya. Dia sangat malu.
"Aku harus bagaimana sekarang? Katanya aku tidak perlu memberi imbalan apapun, kenapa tuan muda begitu aneh?"
Aya jadi bingung sendiri tapi kalau dia menolak, pasti selamanya dia akan dalam pelarian.
"Sepertinya tidak ada jalan lain," Aya sudah memutuskan untuk menerima tawaran dari Chris.
Lebih baik gagal dari pada tidak mencobanya sama sekali.
Hari itu, Aya membersihkan tubuhnya sejenak dari sisa-sisa bubuk hitam yang ada. Dia selalu standby dan dekat dengan ponselnya, kalau sewaktu-waktu Chris memanggilnya pasti dia akan datang.
Namun, sampai siang menjelang ponselnya tak kunjung berbunyi.
"Sebaiknya aku mengecek keluar," Aya kembali memoles bubuk hitam ke wajahnya.
Kemudian gadis itu keluar untuk mencari keberadaan Chris, dia tidak sabar hanya menunggu perintah dari kamar saja.
Ketika bertemu dengan Bibi An, Aya langsung menanyakan keberadaan tuan mudanya.
"Di mana tuan muda?" tanya Aya.
"Tadi tuan Saka pulang lalu membawa tuan muda Chris ke perusahaan, kau tidak menerima perintah apapun, bukan? Kau bisa beristirahat dulu," jawab Bibi An.
Seharusnya Aya merasa senang tapi entah kenapa gadis itu justru merasa kecewa, mungkin karena Bibi An lebih tahu tentang Chris dari pada dirinya.
"Padahal kan pelayan pribadinya itu aku," gerutu Aya dalam hatinya.
"Ya ampun, kenapa aku jadi marah tidak jelas begini?"
Aya rasanya ingin berteriak karena tidak tahu gejala yang dialaminya, ini semua karena Chris yang terus menggodanya. Aya kan jadi salah paham.
Saat gadis itu melamun, salah satu rekannya menepuk pundak Aya.
"Kenapa melamun di sini? nyonya Sera mencarimu," ucap rekannya itu.
Pada saat itu Sera tengah memandangi dua gaun yang terpasang pada dua patung manekin. Satu gaun berukuran ramping, satunya berukuran besar.
"Aya, kemarilah!" Sera meminta mendekat ketika melihat gadis itu datang.
Dengan kikuk Aya mendekati Sera, dia berdiri di samping nyonya rumah itu.
"Gaunmu sudah jadi, lihatlah perbedaannya dengan punya Crystal," ucap Sera.
Aya terdiam melihat gaun cantik yang ada di depannya, benarkah itu miliknya?
Baru pertama kali gadis itu mempunyai gaun secantik itu.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Nyonya?" tanya Aya yang tidak enak hati menerimanya cuma-cuma.
"Tentu saja tidak, Chris bahkan memesan sepatu dan perhiasan untukmu," jawab Sera.
"Sepatu dan perhiasan?" Aya semakin syok, ini sungguh berlebihan untuk pelayan seperti dirinya.
"Gaun ini sudah lebih dari cukup, Nyonya. Saya tidak mau merepotkan," tolak Aya kemudian.
Namun Sera seperti tidak mendengar penolakan dari Aya tersebut. Perempuan itu justru meminta Aya membawa gaunnya ke kamar.
"Bawa dan cobalah ke kamarmu, kalau merasa tidak nyaman kau bisa bilang biar diperbaiki sebelum hari H tiba," ucap Sera seraya meraih gaun Crystal.
"Aku akan membawa gaun si gembul ke kamarnya!"
Seperti biasa Aya hanya bisa pasrah, dia pun membawa gaunnya tapi atensinya jadi tertuju pada foto keluarga Aldeguera.
Bukan pertama kali dia melihatnya tapi entah kenapa dia jadi merasa tidak asing dengan wajah Chris ketika kecil.
Seketika kepalanya langsung pusing.
Sepuluh tahun lagi kita akan kembali ke sini dan membuka surat permohonan yang kita tulis
Tiba-tiba ingatan itu muncul sekilas, Aya seperti melewatkan sesuatu dan janji penting pada seseorang.