Secret Maid

Secret Maid
SM BAB 22 - Rasa Penasaran



Sementara Chris yang berada di perusahaan, kini tengah mendengar penjelasan dari sang daddy karena ada sedikit masalah di perusahaan utama tentang pemrograman mereka.


"Kalau sudah terjadi seperti ini, tim perencanaan harus mengekstrak data. Dan harus memprioritaskan pembersihan karena kelebihan beban di bagian pengembangan, kau harus menjadwalkan perubahan server secepat mungkin," jelas Saka.


Chris mengangguk paham, dia membaca semua berkas dan mulai mengatur perencanaan perubahan server.


"Kalau kau sudah lulus nanti, kau harus masuk ke perusahaan," Saka mulai menuntut karena selama ini Chris selalu menunda-nunda.


"Aku tahu," balas Chris. Dia sudah berjanji akan masuk ke perusahaan jika Saka membantunya mengusut keluarga Aya.


"Apa kira-kira rencana itu akan berhasil?" tanya Saka yang mengingat rencana Chris.


"Kita tidak tahu kalau belum mencobanya tapi dengan cara itu kita bisa tahu lebih jelas apa hubungan Aya di keluarga Brishel," jawab Chris.


Saka kali ini akan mengikuti permainan putranya, Chris memang penuh perencanaan sama sepertinya.


Hari itu setelah keluar dari perusahaan utama Aldeguera, Chris singgah di tempat dia memesan sepatu dan perhiasan untuk Aya. Dia memang memesan khusus sepatu dan perhiasan yang tidak terlalu berlebihan supaya sesuai dengan umur Aya sekarang.


"Ini pesanan anda, Tuan Muda," pemilik toko memberikannya langsung pada Chris. "Apa ini untuk kekasih anda?"


"Tentu saja, dia sangat cantik," jawab Chris percaya diri.


Pemilik toko itu menelan ludahnya, dia sudah mendengar desas-desus kalau Chris mempunyai kekasih yang buruk rupa.


"Selera anda memang unik, Tuan Muda!"


Chris tidak mau menanggapi lagi karena dia ingin cepat kembali ke mansion untuk bertemu Aya.


...***...


Di mansion, Crystal menangis karena saat mencoba gaunnya, gaun itu malah sobek padahal gadis itu menyukainya.


"Mom, ini harus diperbaiki," ucap Crystal.


"Iya, tenang saja. Pasti saat hari H gaunnya sudah bagus," Sera memeluk putri gembulnya. Kali ini dia tidak akan protes.


Sera sudah di level menyerah, biar saja nanti Crystal pasti akan sadar sendiri mengenai tubuhnya.


"Memangnya kalau mommy marah akan kau dengarkan?" balas Serra seraya menepuk perut putrinya. "Mommy hanya khawatir tentang kesehatanmu!"


"Kalau kau obesitas pasti akan muncul banyak penyakit dan mommy lihat kulitmu mulai ada stretch mark, itu akan sulit hilangnya nanti!"


Crystal jadi takut, dia pasti akan diet sampai mendapat berat badan ideal.


"Ya sudah mommy mau menghubungi desaigner dulu untuk perbaikan bajumu, apa Aya menyukai gaunnya?"


Sera ingin tahu, dia ingin memanggil gadis itu tapi keburu Chris yang menawarkan dirinya. Ternyata sedari tadi dia ada di ambang pintu kamar Crystal karena mendengar adiknya menangis.


"Kapan kau datang?" tanya Sera.


"Tepat saat si gembul itu menangis, biar aku yang ke kamar Aya," Chris berlalu pergi ke bangunan para pelayan.


Dia membawa hadiahnya dan mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Aya..." panggilnya sambil mengetuk pintu di depan kamar Aya.


Di dalam kamar Aya mendengar sayup-sayup suara Chris, dia masih merasa pusing tapi dia tetap membuka pintu kamarnya.


"Tuan Muda? Kenapa kemari? Seharusnya anda memanggil saya," Aya jadi tidak enak hati karena sang tuan muda harus pergi ke bangunan pelayan.


Chris tidak menanggapi karena fokus melihat wajah Aya yang memakai bubuk hitam tapi luntur di bagian mata. "Apa kau habis menangis? Siapa yang membuatmu mengeluarkan air mata? Cepat katakan!"


"Bukan begitu..." Aya langsung panik karena Chris tiba-tiba tampak marah. "Saya hanya sedikit pusing!"


Seketika Chris langsung melempar hadiah yang dia bawa, pemuda itu bergegas menggendong Aya dan membaringkannya ke atas ranjang.


"Kalau sakit, kenapa tidak bilang," kesal Chris.


"Hanya sakit kepala, saya sering mengalaminya jadi tidak perlu khawatir," sahut Aya sambil memegang kepalanya. "Ini karena kecelakaan yang saya alami, saya kehilangan memori masa kecil saya semenjak itu!"


"Tuan Muda..." panggil Aya karena dia penasaran akan sesuatu. "Apa sebelumnya kita saling mengenal?"