
"Tanggung jawab?" gumam Aya dalam hatinya.
Bisa-bisanya Chris bicara seperti itu padanya apalagi sambil mencium lehernya yang membuatnya geli.
"Bisakah lepaskan aku?" tanya Aya yang merasa malu karena sebagian tubuhnya dilihat oleh Chris.
"Kenapa? Aku ingin memelukmu lebih lama," balas Chris yang tidak berniat melepas Aya.
"Tapi, aku malu..." Aya menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu.
"Kenapa malu? Kau bahkan sudah melihat barang berhargaku," Chris mengungkit kejadian pagi itu.
Dan Aya jadi mengingat kembali belalai gajah Chris. Pipinya langsung memanas.
"Kau gadis pertama yang melihatnya jadi kau juga harus bertanggung jawab," pinta Chris yang ingin membuat Aya juga berjanji padanya.
Aya tidak bersuara karena malu, dia hanya mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu.
"Aku sudah membuka kadomu, apa itu kau buat sendiri?" tanya Chris.
Aya memang sengaja menyulam sebuah sapu tangan sebagai kado untuk tuan mudanya.
"Iya, aku tidak punya uang jadi aku minta nona Crystal memberiku bahan untuk menyulam," jawab Aya.
"Kau tahu, sapu tangan itu adalah kado paling mahal dari semua kado yang aku terima," ucap Chris yang membuat pipi Aya semakin memanas.
Wajah gadis itu sudah seperti kepiting rebus andai saja Chris melihatnya.
"Bagaimana dengan Jane dan Bibi Jill?" tanya Aya mengalihkan pembicaraan.
"Dua orang itu pasti tidak akan mengganggumu lagi," jawab Chris.
Bersamaan dengan itu, asisten setia Saka masuk ke ruangan Aya di rawat.
"Uncle Jois," panggil Chris yang masih dalam posisinya.
Bisa-bisanya Chris tidak melepaskan Aya, gadis itu rasanya mau pura-pura pingsan saja.
"Saya ingin berbicara penting, Tuan Muda," ucap Jois.
"Aku akan cepat kembali," pamit Chris sebelum pergi.
Pemuda itu berbicara berdua dengan Jois perihal Emily yang meminta bertemu secara pribadi.
"Apa dia sudah tahu mengenai Aya?" tanya Chris.
"Saya sudah memberitahu dan dia langsung panik," jawab Jois.
Memang sebelumnya Emily ingin menghubungi Chris tapi Jois lebih dulu menghubungi gadis itu dan memberitahu keadaan Aya.
Emily panik dan langsung pergi karena ingin melihat Aya di rumah sakit.
"Bagus, satu ikan lagi akan kita dapatkan," ucap Chris tidak sabar.
Tak berselang lama, Emily benar-benar mendatangi Aya ke rumah sakit. Gadis itu langsung dihadang oleh para bodyguard.
"Aku ingin melihat adikku jadi biarkan aku masuk," ucap Emily dengan nafas terengah-engah. Dia kabur dan datang seorang diri.
"Silahkan bicara pada tuan muda terlebih dahulu," salah satu bodyguard berbicara dan mengantarkan gadis itu pada Chris yang sudah menunggunya.
Chris duduk di sebuah ruangan dengan meminum teh chamomile. Saat melihat Emily datang, dia mempersilahkan gadis itu duduk.
"Silahkan duduk, Lady," ucapnya.
"Di mana Aya?" tanya Emily gusar. Dia tidak bisa tenang sebelum melihat gadis itu.
"Untuk orang yang baru mengenal Aya, kau tampak panik, Lady. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang Aya?" tanya Chris.
Emily mendudukkan dirinya, sepertinya Chris orang yang bisa dipercaya jadi dia akan membuka rahasia keluarganya.
Sebelum itu, Emily menghapus make up di wajahnya memakai tisu. Wajah yang sebelumnya terlihat segar kini terlihat memucat.
Kemudian Emily membuka wig yang dipakainya, terlihat kepalanya yang ternyata selama ini sudah tidak bisa tumbuh rambut lagi.
"Semua berawal dari ini," ucap Emily yang membuka topengnya.