
"Menghapus bubuk hitam?" Aya meragu, apalagi dilihat banyak orang.
"Tidak sekarang tapi saat pesta nanti," ucap Chris. Dia tidak menuntut untuk terburu-buru.
Aya jadi semakin merasa tidak enak hati karena tidak bisa memberi apapun pada tuan mudanya. "Untuk sekarang, saya hanya memiliki tenaga saja, Tuan Muda!"
Terdengar gelak tawa dari Chris, dia tentu tahu apa yang dimaksud oleh Aya tersebut.
"Aku akan meminta imbalan nanti saja kalau semua masalah sudah selesai," ucap Chris kemudian.
Dia mengusap kepala Aya. "Jadi, jangan dipikirkan!"
"Apa gaunmu tidak ada masalah? mommy memintaku untuk menanyakannya," Chris mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya tidak ada masalah justru masalahnya ini terlalu berlebihan untuk pelayan seperti saya," jawab Aya.
"Siapa yang menganggapmu pelayan?" tanya Chris supaya gadis itu sadar. Kalau dia menganggap Aya pelayan, dia tidak akan sepeduli ini.
"Kau kan kekasihku," lanjutnya.
Seperti biasa Aya akan malu jika Chris mengaku jadi kekasihnya seperti itu. Jantungnya selalu berdebar.
"Jangan terus berbicara seperti itu, Tuan Muda," ucap Aya yang tidak mau diberi harapan palsu, takutnya dia sudah berharap tapi Chris hanya bercanda.
"Kau masih ragu padaku?" tanya Chris seraya mencondongkan tubuhnya sampai membuat Aya mundur tapi tubuhnya sudah mentok berada di sisi ujung kasur.
Ketika wajah mereka sudah dekat, tangan Chris mengusap wajah Aya yang masih memakai bubuk hitam.
Awalnya usapan pipi lama-lama turun ke bibir gadis itu.
"Apa aku perlu membuktikan sesuatu supaya kau tidak ragu padaku? Apa perlu ada tanda bukti kalau kita adalah pasangan kekasih?" tanya Chris.
"Tiba-tiba saja Tuan Muda langsung mengklaim sepihak, aku jadi bingung," jawab Aya. Dia memalingkan wajahnya karena merasa wajah Chris begitu dekat dengannya.
Namun, tangan Chris justru meraih dagunya dan memalingkan wajah Aya kembali.
"Jangan pernah berpaling dariku dan terus tatap aku!" pinta Chris yang semakin mendekatkan wajahnya.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar Aya dibuka seseorang.
"Kakak..." panggil Crystal yang menyusul Chris ke kamar Aya. Dia langsung membuka pintu dan mendapati sang kakak seperti akan mencium pelayan pribadinya sendiri.
"Oh, my eyes!" Crystal menutup wajahnya dengan tangan.
Buru-buru Chris dan Aya saling menjauhkan diri.
"Ada apa?" tanya Chris dengan ketus. "Lain kali ketuk pintu dulu, itu pendidikan dasar etiket!"
"Aku kan tidak tahu kalau kakak akan berciuman," Crystal berusaha membela diri.
"Ciuman apanya? Aku hanya ingin melihat jerawat Aya," elak Chris.
"Mana ada melihat jerawat tapi bibirnya maju-maju," ucap Crystal tak mau kalah.
Mendengar itu Aya jadi malu sendiri, dia pun berlari keluar kamar karena mau menghindari situasi canggung itu.
"Nah, kabur kan!" Chris menyalahkan adiknya.
"Lagipula selera kakak benar-benar yang seperti itu?" tanya Crystal yang tidak tahu menahu.
"Anak kecil dilarang ikut campur!" Chris berkata sambil berlalu pergi.
Crystal hanya bisa menggelengkan kepala melihat kakaknya yang terlihat menyukai Aya.
"Berarti aku harus menemukan dua pria tampan yang seperti kakak, pria yang menerima pasangan apa adanya," gumam Crystal yang merasa masih mempunyai harapan dengan tubuh gembulnya.
"Aku akan mencarinya sampai ke planet Mars sekalipun!"
_
Habis Aya dan Chris tamat, lanjut cerita Crystal dengan dua pacarnya, yaðŸ¤
Cerita masa remaja jadi aman dibaca pas puasa.