
Brandon baru saja mematikan laptonya ketika pintu kamarnya diketuk. “Masuk.” Pandangan Brandon mengarah pada pintu kamarnya. Dari balik pintu itu Jiana keluar dan masuk ke kamarnya.
“Apa Kau perlu sesuatu?” tanya Brandon ketika Jiana mulai duduk di ranjangnya.
“Aku ingin meminta ijin pada kakak.”
“Meminta ijin padaku? Untuk apa?” Aneh sekali. Seingat Brandon Jiana tidak pernah meminta ijin Brandon untuk melakukan sesuatu.
Bukannya Brandon tipe kakak yang membebaskan adiknya sebebas-bebasnya. Bukan. Tapi Brandon akan selalu menghargai apa yang dipilih Jiana.
Jiana tidak perlu meminta ijinnya untuk melakukan sesuatu. Jika ada yang salah dengan apa yang dilakukan Jiana, maka Brandon akan menjadi kakak yang akan mengingatkan Jiana dan membimbing adiknya itu untuk memperbaiki kesalahannya.
Lagi pula, jika meminta ijin untuk melakukan sesuatu, bukannya dia harus meminta ijin Daddy dan Bunda, orang tua Jiana.
“Aku ingin mengajak temanku makan malam di rumah. Kakak ingat, dari dulu kakak melarangku untuk mengajak temanku main ke rumah. Sampai sekarang aku tidak tahu apa alasan kakak. Yang pasti, sekarang aku ingin mengajak temanku untuk makan malam di sini.”
Brandon ingat hal itu, ia pernah bertindak konyol dengan melarang adiknya untuk membawa teman sekolahnya ke rumah. Bukannya Brandon tidak suka apabila Jiana mengajak temannya ke rumah, bukan. Tapi karena salah satu teman Jiana adalah orang yang paling dia hindari.
Walaupun ingin Brandon tidak bisa bertemu dengan orang itu. Lalu, jika teman Jiana itu datang ke rumah maka besar kemungkinan orang yang Brandon hindari juga akan datang ke rumah ini. Hal terakhir yang Brandon inginkan adalah orang itu mengetahui bahwa Branon adalah kakak Jiana, temannya sejak kecil.
“Memangnya siapa yang akan Kau ajak makan malam di sini?”
“Thomas juga Mawar dan sepupunya. Kakak tahu, ini hanya bentuk permintaan maafku pada Mawar. Kami sudah berteman lama, dan aku tidak sadar bahwa Mawar juga menyukai Thom. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Apalagi dengan kejadian di pesta tiga hari yang lalu. Aku harap dengan begini setidaknya bisa mengurangi kecanggungan antara Thom dan Mawar.”
“Oh gadis itu akan datang kemari? Jika dia datang bukankah kami akan bertemu? Jika demikian, aku akan kembali melanggar janjiku. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Sudah cukup pertemuan yang walaupun secara tidak sengaja tiga hari yang lalu itu.”
“Aku tidak ingin lagi melanggar janji yang telah aku buat. Tapi jika aku menghindar, Jiana akan curiga. Apalagi setelah aku dan Mawar terihat cukup akrab bagiku.” Pikir Brandon.
“Tentu Kau boleh mengajak mereka. Bagaimana kalau nanti kita adakan pesta barbecue? Mungkin akan sangat menyenangkan jika kita melakukannya.”
Mata Jiana terlihat berbinar-binar mendengar ucapan dari kakaknya. Sepertinya gadis itu sangat senang mendengar jawaban kakaknya. Seingat Jiana, sudah lama dirinya tidak pesta barbecue. Apalagi sejak Brandon pindah ke London, Jiana sekeluarga sudah jarang melakukannya.
“Great. Jasmine pasti senang mendengar ini. Sudah lama dia menginginkan hal ini. Kak Brandon memang pintar untuk membahagiakan adik-adiknya.”
“It was my pleasure.” Ucap Brandon sembari menyilangkan sebelah tangannya di depan dadanya dan sedikit membungkukkan bandan. Mendengar hal itu, Jiana segera berhambur ke pelukan kakaknya.
“You’re the best brother that I have.”
*****
Mawar tengah bermain game bersama Rendi ketika telfonnya bersering. Mawar segera mengangkat telfon tersebut tanpa melihat siapa yang menelfon. “Halo.”
“Hai Mawar its me, Jiana.”
“Oh Hi Ji, what up?”
“Apa Kau dan Rendi sibuk malam ini?”
“Memang kenapa?”
“Aku mengundang kalian datang ke barbecue party di rumahku nanti malam. Apa kalian bisa datang?”
Tumben sekali Jiana mengajaknya ke rumahnya, apalagi ini untuk barbecue party. Ia tahu betul sedari dulu Jiana tidak pernah mengajak satu pun temannya untuk datang ke rumah.
Dulu Mawar ingin sekali datang ke rumah Jiana, tapi gadis itu menolak permintaan Mawar. Bahkan ketika Mawar memaksa sekalipun Jiana tidak akan pernah mau mangajaknya ke rumah. Entah sekarang ada angin apa yang membuat Jiana mengajaknya datang ke rumahnya.
“Wait a minute, I will ask Rendi.” Mawar segera menutup ponselnya dengan tangannya dan memandang ke arah Rendi yang duduk di sampingnya.
Merasa dibicarakan, Rendi mengalihkan pandangannya ke arah sepupunya. “Siapa?”
“Jiana ngajak kita barbecue party di rumahnya. Lo mau ikut nggak?”
“Di rumah Jiana?” Mawar menganguk pelan. “Iya gue ikut. Bilang ke dia gue ikut. Sama tanyain sekalian kita perlu bawa apa untuk barbecue party nanti.”
“Hai Ji… Kau masih di sana?”
“Ya Mawar bagaimana? Kalian datang?”
“Ya kami akan datang. Kapan lagi kami memiliki kesempatan untuk bisa datang ke rumahmu. Apa kami perlu membawa sesuatu untuk nanti malam.”
“Cukup bawa diri kalian ke sini saja sudah cukup bagiku.”
“Baiklah aku akan membawa beberapa botol coke, jangan menolak karena aku akan tetap membawanya nanti malam.”
“Bye Ji.” Setelah mematikan telfonnya, Mawar melihat sepupunya yang kini sedang berdiri sambil melompat-lompat kegirangan.
“Ren, lo ngapain sih. Kayak nggak pernah diajak barbecue party aja.”
Rendi segera menghentikan acara melompat-lompatnya dan menghampiri Mawar . Ia menggenggam tangan sepupunya itu.
“Lo nggak nyadar, ini itu bukan barbecue party biasa. Lo nggak inget siapa kemungkinan ikut nanti malam?”
“Paling Thomas.” Tebak Mawar. “Dia udah pasti dateng kan? Secara dia itu cowoknya Jiana.”
“Aduh, sepupu gue kok pinternya kalo soal pelajaran aja sih. Nih gue tanya, siapa kakak Jiana?”
“Brandon?” Jawab Mawar singkat.
“Apa pekerjaannya? Dia itu penyanyi terkenal Mawar. Bayangin nih kita akan ikut barbecue partynya seorang penyanyi terkenal. Mimpi apa gue semalam kok bisa dapet rejeki nomplok kayak gini.”
“Emang kakaknya masih di Indonesia?” Pertanyaan Mawar ini langsung membuat harapan Rendi pupus.
Rendi menepuk jidatnya pelan.
“Aduh kok gue tadi lupa nggak nyuruh lo buat nanyain itu ya? Kalo nggak ada Brandon barbecue partynya sama aja dong kayak barbecue party lainnya.”
Mawar mengernyitkan dahinya sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak habis pikir dengan sikap sepupunya. Bukannya mempertanyakan kenapa tiba-tiba Jiana mengajak mereka barbecue party di rumahnya, Rendi malah mempertanyakan ada tidaknya Brandon nanti malam.
*****
Sedari tadi Rendi tidak henti-hentinya memutar lagu milik Brandon Wiliam selama dalam perjalanan menuju rumah Jiana. Rendi beranggapan bahwa mungkin saja dari salah satu lagu yang sedang ia dengarkan sekarang bisa menjadi bahan pembicarannya nanti.
Setelah tadi sore Jiana mengkonfirmasi bahwa kakaknya ikut dalam barbecue party nanti, membuat Rendi semakin bersemangat untuk datang. Bahkan Rendi membeli kaos baru hanya untuk datang malam ini.
Ia juga sudah mencetak sebuah poster milik Brandon untuk dimintai tanda tangan. Katanya dia akan membawanya ke Paris nanti untuk dipajang di kamarnya.
Setelah berkendara selama setengah jam, Rendi memberhentikan mobilnya di depan rumah berwarna putih gading. Rumah itu terlihat indah, apalagi dengan taman yang ada di depan rumah tersebut.
“Lo yakin ini rumahnya?” tanya Mawar.
Rendi menganguk.
“Ya. Ini udah sesuai ama lokasi yang dikirim Jiana. Lo coba turun dulu deh. Tanya satpam rumahnya untuk memastikannya.”
Rendi memperhatikan Mawar yang turun dari mobilnya. Dia melihat sepupunya itu kini bercakap-cakap dengan satpam yang ada di rumah itu.
Tidak berapa lama kemudian, satpam itu membukakan gerbangnya. Mawar melambaikan tangannya sejenak ke Rendi. Ia tidak kembali ke mobil dan memilih berjalan menuju rumah.
Rendi segera memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Honda Jazz merah yang ia yakini sebagai mobil milik Thomas.
“Sepertinya Thom sudah datang. Tapi kenapa aku tidak melihat mobil lain? Apa hanya kita yang di undang?” Tanya Rendi ketika sudah sampai di dekat Mawar.
“Entah Ren. Dari pada nebak-nebak terus mendingan kita masuk sekarang.”
Mawar segera memencet bel yang ada di rumah tersebut. Tidak lama kemudian pintu itu dibuka oleh salah satu adik Jiana.
“Hai Kak Mawar, Kak Rendi.”
“Halo Jasmine. Apa semua sudah datang?”
“Ayo masuk. Semuanya sudah menunggu di taman belakang.”
Mawar dan Rendi segera masuk dan mengikuti adik Jiana yang terpaut dua tahun itu. pandangan mata Mawar mengamati seisi ruangan yang ada di rumah tersebut.
Tanpa sengaja pandangan Mawar menangkap sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mawar berhenti mengikuti Jasmine dan berjakan mendekat ke arah benda tersebut. Sebuah foto anak lelaki yang ada di ruang tamu.
“Jasmine, boleh aku bertanya sesuatu?”
Suara Mawar membuat Jasmine dan Rendi menghentikan langkahnya dan mendekat ke arah Mawar.
“Ya, ada apa kak?”
“Foto siapa ini?” tanya Mawar sembari menunjuk foto anak laki-laki yang sangat familier baginya.
“Oh itu foto Kak Brandon waktu masih kecil.”