
Kamar itu terlihat gelap. Meski lampu di kamar itu tidak rusak namun, pemilik kamar itu membiarkan kamarnya tanpa pencahayaan. Yang terlihat hanya seberkas cahaya lampu jalan yang menembus tirai tipis di jendela kamar tersebut.
Pemilik kamar itu kini tangah berada di ranjangnya. Ia melipat kedua kakinya sampai dada dan memeluknya. Matanya masih terbuka meski jam telah menunjukan bahwa hari telah berganti. Matanya terlihat merah karena semalaman menangis. Pemilik kamar itu adalah Mawar.
Sejak pulang dari rumah Jiana ia memang mengurung diri di kamar. Kepada keluarganya ia menyatakan sedikit tidak enak badan dan ingin beristirahat.
Ini pertama kalinya bagi Mawar menangis sampai matanya bengkak. Beberapa hari yang lalu ia memang menangis, namun kali ini entah mengapa Mawar tidak bisa menghentikan air yang mengalir dari sudut matanya dengan mudah seperti beberapa hari yang lalu.
Dan perasaan apa ini. Sedari tadi dadanya terasa nyeri. Apa ini yang dinamakan patah hati? Tapi jika patah hati seperti ini kenapa rasanya lebih sakit dari pada mendengar Thomas, orang yang disukainya dua tahun ini, menyatakan cintanya kepada Jiana.
Apakah selama ini dia hanya mencintai Gray, yang sebenarnya adalah Brandon, anak laki-laki yang telah menolongnya? Apakah selama ini Mawar hanya mengagumi Thomas? Apakah selama ini persaannya hanya tercurahkan pada anak laki-laki itu? Mungkin saja seperti itu.
Dulu dia pernah bercerita kepada Jiana bahwa sosok Gray adalah cinta pertamanya. Ya, mungkin benar. Ia jatuh cinta sejak kelingking mereka bertahut. Tidak hanya mengikatkan janji, tetapi juga hatinya telah ia tahutkan kepada anak laki-laki itu.
Dan sekarang ketika tahu bahwa anak laki-laki, yang selama ini dirindukannya dan ingin segera ditemuinya, mengetahui keberadaannya namun tidak menemuinya membuat hati Mawar sakit. Tidak tahu kah laki-laki itu bagaimana usaha Mawar mencari tahu keberadaan dirinya?
Mawar sampai harus memaksa Rendi tiap tahun menemaninya ke Paris selama musim dingin. Berharap dia dapat tiba-tiba bertemu dengan pahlawannya itu. B
ahkan, demi mencapai impiannya ini, Mawar rela sering begadang untuk melihat video seseorang yang membuat rancangan bangunan. Demi membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh dengan impiannya.
Setiap Mawar mengejar impiannya, bayangan anak laki-laki itu muncul. Menyesalkah Mawar memilih sebuah impian agar dapat segera menemui pahlawannya? Meski ada penyesalan, tentunya Mawar tidak bisa begitu saja menyalahkan anak laki-laki itu atas penyesalannya.
Lagi pula bukankah anak laki-laki itu pernah mengingatkannya untuk mencari impian dengan mengikuti kata hatinya. Apakah sekarang Mawar akan menyalahkan kata hatinya?
Ya, Mawar akan menyalahkan kata hatinya. Lagi pula gara-gara kata hatinya ini ia selalu berharap dapat bertemu dengan pahlawannya.
Dia memang bertemu kembali dengan pahlawannya, tapi pahlawannya sudah melupakan janji mereka. Lihatlah tadi, bahkan laki-laki itu tidak berani menatap Mawar lebih lama. Meski selama di rumah Jiana tadi Mawar tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah laki-laki tersebut.
Tapi tunggu dulu. Mawar mulai mengerutkan dahinya menemukan sebuah pemikiran baru tentang Brandon. Jika dia tidak berani menatap Mawar terlalu lama bukankah itu tanda seseorang sedang merasa bersalah? Ah, jangan-jangan selama ini laki-laki itu masih mengingat janji mereka?
Sepertinya Mawar butuh udara segar ia bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu yang mengarah ke balkon. Ia memandang taburan bintang yang kini menghiasi langit malam. Dalam angannya ia membayangkan gambaran wajah Brandon di langit malam.
“Dia masih mengingatku. Jika Kau ingin memainkan peranan seperti ini untuk segera mewujudkan impianmu, maka aku akan ikuti permainanmu. Gray ah tidak Brandon, ketika Kau sudah menepati janjimu, maka aku akan memukul kepalamu saat kita bertemu.”
Mawar memaksakan sebuah senyum.
Kini ia menyadari, pahlawannya masih mengingatnya? Bukankah ketika mereka bertemu laki-laki itu berkata bahwa mereka pernah bertemu namun Mawar tidak mengetahui namanya. Ya laki-laki itu masih mengingat janji mereka. Mungkin sekarang dia ingin berusaha memenuhi janjinya.
Ah Mawar ingat dulu Jiana pernah mengatakannya bahwa kakaknya kembali ke Indonesia untuk memotret keindahan alam Indonesia. Kakaknya itu ingin menjadi fotografer yang terkenal.
Dia tengah berjuang bukan? Mawar tidak berjuang sendirian. Laki-laki itu juang berjuang untuk menepati janjinya. Mawar akan menjadi orang jahat apabila sekarang bertindak egois meminta laki-laki itu menemuinya dan menuntut penjelasan.
Oh, Mawar baru ingat satu hal. Bukankah sampai sekarang laki-laki itu telah menemuinya dua kali sebelum menepai janjinya? Apakah dia merasa bersalah atas hal itu? Sepertinya Mawar harus melakukan sesuatu agar laki-laki itu tidak terus merasa bersalah.
*****
Jiana sering melihat kakaknya melamun dan bergumam tidak jelas sendirian. Apa yang terjadi pada kakaknya? Dan lagi kenapa kakaknya itu tiba-tiba kembali ke London dalam keadaan tergesa-gesa seperti ini?
Jiana ingat Brandon mengatakan bahwa kemungkinan dirinya akan kembali ke London paling cepat minggu depan. Tapi kenapa kakaknya kembali?
Meskipun Brandon bilang ada urusan pekerjaan mendadak yang harus segera diselesaikannya, Jiana tidak mempercayainya. Brandon bukanlah workaholic yang akan tiba-tiba pergi jika menayangkut pekerjaannya.
Lagi pula, setahu Jiana kakaknya tidak sedang menjalani project apapun. Meskipun kakaknya orang yang professional, tidak perlu tergesa-gesa begini bukan? Jadi buat apa tergesa-gesa kembali?
Menurut penilaian Jiana, kakaknya seperti melarikan diri dari sesuatu. Apa yang membuat kakaknya jadi seperti itu? Jiana harus menyelidiki hal ini dan membantu kakaknya. Ia tidak suka melihat kakaknya sering melamun.
Jiana baru saja merebahkan tubuhnya ketika suara kakaknya terdengar. Mendengar hal tersebut, Jiana segera bangkit untuk mengambil benda yang menjadi sumber suara tersebut. Ponselnya. Jiana melihat sekilas nama yang tertera di layar ponselnya. Mawar.
“Hai Mawar. Ada perlu apa Kau menelfonku?”
“Hai Ji. Aku hanya ingin tanya apa aku boleh mampir ke rumahmu?”
“Tentu saja Kau boleh datang. Jam berapa Kau akan datang ke rumahku?”
Sekarang ini Jiana tidak perlu lagi meminta ijin pada Brandon untuk mengajak temannya ke rumah bukan? Tadi di bandara kakak laki-lakinya itu telah berpesan bahwa Jiana boleh mengajak temannya ke rumah tanpa meminta ijin pada dirinya.
“Mungkin setengah jam lagi aku akan tiba di rumahmu.”
Pandangan Jiana beralih pada jam digital yang berada di nakas samping tempat tidurnya. “Baiklah. Setengah jam lagi. Aku harap Kau belum makan siang karena ibuku pasti memintamu makan bersama kami.”
“Ah ya… aku lupa jika setengah jam lagi adalah waktu makan siang. Kurasa nanti sore saja aku datang ke rumahmu. Aku tidak ingin mengganggumu.”
“Oh ayolah Mawar. Tidak sesering ini aku mengajak temanku makan siang di rumah. Apa Kau tidak mau menerima sebuah kehormatan untuk menjadi yang pertama? Aku menunggumu. Jangan memaksaku untuk mengeluarkan ancaman.”
Terdengar helaan nafas di ujung sana. “As your wish your majesty. Hambamu ini akan bersedia memenuhi undangan kehormatan itu.”
“Oh Mawar berhentilah bersikap seperti itu.”
“Yeah. Aku akan datang dalam setengah jam Miss Wynn. Dan aku akan membawa dessert terenak dan jangan menolak, aku memaksa. Bye.”
Mawar sudah menutup panggilannya sebelum Jiana sempat membalas ucapan Mawar. Ya Mawar yang Jiana kenal seperti itu. Setiap datang ke rumah temannya ia akan membawa camilan. Ia selalu mengatakan bahwa tidak ingin merepotkan tuan rumah.
Tapi tunggu dulu, Jiana baru ingat satu hal. Nama panggilan apa yang tadi ia ucapkan? Miss Wynn? Oh bahkan dirinya baru beberapa hari saja berpacaran dengan Thomas Wynn sekarang namanya Jiana Wiliam telah berubah menjadi Jiana Wynn.
Ah tapi Jiana suka dengan gagasan itu. Kenapa sekarang Jiana merasa pipinya memanas? Jiana berlari kecil ke depan cermin untuk melihat wajahnya. Oh apakah gadis di cermin itu dirinya? Pipi gadis itu merah.
Hanya karena hal sepele ini saja membuat Jiana merasa malu. Untung saja Mawar mengatakan hal itu lewat telfon. Jika Mawar melihat pipinya bersemu merah, pasti gadis itu tidak henti-hentinya menggoda Jiana.