
Mawar membongkar isi koper terakhirnya yang belum sempat ia buka. Mengatur apartemen sendirian memang melelahkan.
Sebenarnya, ibunya akan membantunya menata ulang apartemen yang baru dibeli orang tuanya ini. Namun, karena kakeknya mendadak sakit ibunya hanya bisa menginap di apartemen ini sehari saja.
Apartemen ini benar-benar kosong tanpa perabotan ketika orang tua Mawar membelinya. Jadi Mawar harus benar-benar menata interior apartemennya sendirian.
Baru sekarang ia bisa membongkar isi kopernya dan mengeluarkan semua baju-bajunya. Mawar baru saja mengeluarkan beberapa baju ketika ponselnya berdering. Mawar memandang sekilas nama yang tertera di layar ponselnya sebelum menjawabnya.
“Hai.” Sapa Mawar “Ada apa Kau menelfonku Ji?”
“Hai Mawar. Apa Kau sedang sibuk?”
"Emm, memangnya kenapa?"
Mawar memindahkan ponselnya ke telinga kanannya. Sekilas pandangannya beralih pada kopernya yang setengah terisi itu. Pakaiannya belum sepenuhnya berpindah ke almari yang ada kamarnya.
Mawar bukanlah orang yang suka menunda pekerjaan. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda itu dan beristirahat sepenuhnya.
Sudah lima hari Mawar mengurung dirinya di apartemen untuk menata tempat tinggal yang akan ditinggalinya selama empat tahun kedepan. Setelah menyelesaikan ini Mawar berjanji akan sedikit memanjakan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan di London.
Lagi pula, rencananya untuk kedatangannya ke London telah maju selama satu minggu. Jadi, apabila dia berjalan-jalan sebentar, tidak akan mengganggu jadwal yang telah disusunnya bukan?
Ah pasti menyenangkan apabila menikmati sore harinya dengan berjalan-jalan di sekitar Victoria Embankment. Menikmati kapal-kapal yang berlalu lalang di sungai Thames.
Oh atau mungkin Mawar bisa mencoba untuk menaiki salah satu kapal di sana dan menyusuri sungai Thames. Terdengar menyenangkan. Tapi semuanya tidak akan terlaksana jika pekerjaannya ini belum terselesaikan. Dan sekarang sepertinya temannya akan mengajaknya pergi keluar. Mawar yakin itu.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan mungkin kita akan makan siang dulu sebelumnya."
"Jalan-jalan? Oh tunggu, Kau sudah tiba di London?"
"Ya. Aku baru tiba tadi pagi. Bagaimana, apakah Kau bisa?"
“Apa Kau tidak lelah? Kenapa Kau malah ingin jalan-jalan? Kau baru saja sampai di London bukan? Seharusnya Kau beristirahat.”
“Apa Kau menolak ajakanku?”
Mawar memutar bola matanya. Sepertinya dia melupakan salah satu sifat dari Jiana. Jika dia sudah menginginkan sesuatu dia akan segera melakukannya. Tidak peduli bahwa dirinya tengah lelah atau bahkan sakit.
Pernah dulu Jiana ingin ikut datang ke acara ulang tahun salah satu temannya. Dia memaksa datang meskipun badannya sedang sakit. Dan akibatnya, Jiana pingsan di tempat pesta.
Sebentar lagi Jiana pasti akan memaksanya dengan kata-kata yang membuat Mawar enggan untuk menolak.
“Aku tidak menolakmu hanya saja aku belum selesai membereskan apartemenku. Aku tidak dapat meninggalkannya jika belum menyelesaikan hal ini.”
Terdengar Jiana tengah menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. “Kau sudah mengurung dirimu selama seminggu untuk menata apartemenmu itu. Kau butuh udara segar Mawar.”
“Bagaiman…”
“Jangan tanya bagaimana aku bisa tau hal itu. Ingat kita ini sama-sama orang keras kepala. Kau tidak akan istirahat jika pekerjaanmu itu belum selesai bukan?”
“Sebelum aku berangkat ke London, ibumu memintaku untuk mengajakmu keluar dari sarangmu. Begini saja, kita jalan-jalan hari ini dan setelah itu aku akan membantumu beres-beres.”
See, Jiana bisa mengeluarkan kata-kata yang membuat Mawar enggan untuk menolak. Dia akan berbuat apapun agar keinginannya terpenuhi. Termasuk membantu Mawar membereskan apartemennya.
Ah lagi pula pekerjaan yang belum terselesaikan hanyalah menata pakaiannya ke dalam almari. Mungkin untuk yang satu ini Mawar bisa menundanya.
“Baiklah. Kau ingin jalan-jalan kemana Miss Wynn?”
Sekarang ini adalah hobi baru Mawar, menggoda Jiana dengan memanggilnya menggunakan nama keluarga Thomas. Jika digoda seperti ini pipi Jiana akan bersemu merah.
Ia baru mengetahui tentang hal ini ketika di rumah Jiana Mawar memanggil gadis itu dengan sebutan Miss Wynn dan seketika pipinya bersemu merah. Sungguh pemandangan yang menggelikan.
“Kenapa? Kau tidak menyukainya? Bukankah jika suatu hari nanti Kau menikah dengan Thom, panggilanmu akan berubah menjadi Mrs. Wynn bukan? Jadi bukannya bagus membiasakannya dari sekarang.” Ucap Mawar sembari terkekeh.
“Ayolah Mawar. Jangan membahas itu dulu. Lagi pula jika nantinya aku menikah dengan Thom itu masih akan terjadi beberapa tahun lagi.”
“Kalau kalian akan membangun rumah jangan lupa hubungi aku untuk membuat desainnya.”
“Mawar, berhentilah menggodaku. Lebih baik Kau bersiap-siap. Kita akan bertemu di salah satu café kesukaanku. Aku akan mengirim lokasinya padamu. Setelah itu baru kita akan memikirkan jalan-jalan kemana.”
“Yes Miss Wynn.” Jawab Mawar yang langsung mematikan panggilannya.
Ia tidak ingin mendangar Jiana menggerutu lagi. Pastinya temannya itu sedang kesal karena Mawar memanggilnya dengan panggilan Miss Wynn. Dan lagi, Mawar langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan hal itu.
Mawar yakin jika bertemu nanti Jiana akan meluapkan kekesalannya dengan cara mengomel panjang. Mawar hanya tersenyum menanti hal itu.
*****
Mawar dan Jiana menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling kota London. Mereka berkeliling layaknya seorang turis yang ingin berjalan-jalan di kota itu. Setelah puas berkeliling, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen Mawar.
Kepada Mawar, Jiana meminta agar diijinkan menginap. Selain karena ingin memenuhi janjinya kepada temannya untuk membantu membereskan apartemennya, Jiana tidak ingin tidur di apartemen kakaknya sendirian.
Kakaknya tidak akan pulang malam ini. Ia tengah sibuk membersiapkan konser come backnya minggu depan. Jadi Jiana berakhir dengan mengungsi ke apartemen Mawar untuk mendapatkan teman.
"Kau benar-benar menata isi ruangan ini sendirian?" Tanya Jiana ketika memasuki apartemen Mawar. Jiana mengedarkan pandangannya. Interior apartemen ini sangat nyaman bagi Jiana.
"Sebenarnya tidak juga. Aku hanya menyuruh orang untuk mengangkat perabotan ini ketempat yang sesuai keinginanku. Jadi aku tidak sepenuhnya menata tempat ini sendirian."
"Di apartemenmu banyak perabotannya tapi penataan yang sesuai membuat tempat ini tetap terlihat luas." Jiana berjalan ke arah sofa berwarna toska yang ada di tengah ruangan.
"Kau benar-benar tidak salah pilih untuk menjadi seorang arsitek. Kau memiliki bakat itu."
Mawar berjalan ke arah dapurnya dan membuka kulkas miliknya. "Kau mau minum apa?"
"Tidak perlu. Aku masih belum terlalu haus." Mawar mengambil dua botol orange juice dari dalam kulasnya.
Mawar menghampiri Jiana dan menghempaskan dirinya di sebelah gadis itu. "Sebenarnya aku tidak yakin memiliki bakat itu. Kau tau, aku hanya mempersiapkan segalanya sejak kecil."
"Oh benarkah? Kau sungguh mempersiapkan semuanya dari kecil?" Mawar mengangguk pelan. "Tapi usahamu itu membuahkan hasil bukan?"
Mawar sedikit mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya begitu."
"Oh ya, boleh aku melihat bagaimana interior kamarmu? Mungkin jika aku terkesan aku akan memintamu merombak kamarku. Kau tau, interior apartemen kakakku sangat payah. Perabotannya sangat tidak mendukung konsep apartemen modern minimalis yang diusung."
Mawar menggerakkan kepalanya menuju pintu kamarnya. Mempersilahkan Jiana untuk memasuki kamarnya.
"Go ahead. Kau boleh melihatnya. Tapi kamarku masih sedikit berantakan. Aku menghabiskan waktuku untuk mendekorasi ruangan ini dan sedikit mengabaikan kamarku sendiri."
"Oh ayolah Mawar. Jika Kau bilang kamarmu berantakan berarti kamarku bisa Kau ibaratkan sebagai kapal pecah. Kau selalu rapi dalam hal apapun."
Jiana bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Mawar.