Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
My Little Scarlet



Sudah sekian kalinya Brandon menyobek kertas yang ada di depannya. Ia merasa kurang pas dengan apa yang tertulis di sana. Sekarang ini Brandon tengah menulis lagu baru. Tiba-tiba saja di benaknya memunculkan sebuah ide untuk membuat lagu baru.


Memang sebagian lagu yang dinyanyikan oleh Brandon adalah ciptaannya sendiri. Jadi tidak heran jika Brandon sekarang tengah menulis lagu.


Brandon kembali menulis beberapa kata di kertas baru. Sesekali ia memetik gitar yang ada di pengkuannya. Mencoba menemukan nada yang pas untuk lagu yang sedang ia tulis.


Merasa pikirannya buntu kembali, Brandon melangkah menuju meja yang ada di kamarnya. Ia menyalakan benda persegi panjang miliknya. Beberapa saat kemudian benda tersebut menampilkan gambar seorang gadis kecil yang tengah berpose.


Gadis itu memakai jaket berwarna merah serta sebuah syal abu-abu tengah melingkar di leher gadis kecil itu. Gadis kecil yang terlihat di layar laptopnya adalah sumber inspirasinya dalam menulis lagu. Gadis kecil itu adalah Mawar.


Setiap Brandon merasa suntuk Brandon akan segera membuka laptopnya dan melihat foto Mawar yang tersimpan secara tersembunyi di laptopnya.


Bagi Brandon, memandang foto masa kecil Mawar dapat menaikkan semangatnya. Seperti sekarang ini. Setelah inspirasinya menguap, melihat foto Mawar membuatnya mendapatkan inspirasinya kembali.


Dengan segera Brandon menulis apa yang sedang ia pikirkan ke dalam kertas yang ada di depannya. Mawar memang lentera yang ia temukan di Paris. Lentera yang meneranginya ketika dirinya merasa dalam kegelapan.


I took my sweater for ya


to warm you up


My little scarlet


I will warm you up in this cold winter


my beautiful angel


you look so dazzling


with the snow around you


my sacarlet in the snow


I will warm up your heart


warm you up


till my last breath


Brandon baru saja menuliskan beberapa bait ketika ia mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Ia segera mematikan laptopnya agar orang di balik pintu itu tidak mengetahui tentang apa yang tengah ia lihat di laptopnya.


Bagaimanapun juga ia belum mau orang lain tahu tentang hubungannya dengan Mawar. Belum saatnya mereka mengetahuinya.


Laki-laki itu juga melipat rapi kertas yang penuh coretannya itu dan menyimpannya di dalam laci. Tidak lama kemudian, ia mendengar suara Jiana di balik pintu.


“Kak, apa aku boleh masuk?”


Sepertinya adiknya itu sudah pulang. Kemarin adiknya itu menginap di rumah Mawar setelah jalan-jalan dengan sahabatnya itu.


“Masuklah Ji, pintunya tidak aku kunci.” Ucap Brandon mempersilahkan.


Jiana memasuki kamar kakaknya. Pandangannya menuju ke arah kamar kakaknya yang terlihat sedikit berantakan. Banyak bola-bola kertas berserakan di sekitar lantai dan tempat tidur kakaknya.


Pandangan Jiana kini beralih pada lingkaran mata Brandon yang sedikit menghitam. Sepertinya kakaknya tidak tidur semalaman. Apa yang tengah dilakukan kakaknya itu?


Brandon menyeringai lebar. “Aku hanya sedang menulis lagu baruku Ji. hanya saja dari tadi inspirasiku tiba-tiba menguap. Aku sudah mencoba untuk menulis lagi tapi ternyata tidak berhasil.”


“Apa Kakak melakukan ini semalaman?”


Brandon kembali menyeringai lebar. “Aku harus meyelesaikan apa yang sudah aku mulai Ji. Kau tahu tentang itu bukan?”


“Ternyata kalian berdua sama saja. Tidak akan berhenti jika urusan yang kalian kerjakan belum selesai.”


Apakah adiknya tadi menyebut kalian? Jika benar, siapa lagi orang yang dimaksud oleh Jiana?


“Memangnya siapa lagi yang Kau maksud. Jika aku tidak salah dengar Kau tadi menyebut kalian bukan?”


Jiana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya benar. Aku berbicara tentang kalian. Kak Brandon dan Mawar. Kalian sama-sama saja tidak mau berhenti jika sudah melakukan sesuatu sebelum semuanya usai.”


“Benarkah?” Oh ini fakta baru tentang Mawar yang baru Brandon dengar.


“Ya benar. Tapi bedanya dia masih ingat istirahat tidak seperti kakak. Seminggu ini ia mengurung diri di apartemennya untuk menata ulang apertemennya itu. Oh ya bicara soal Mawar aku jadi teringat sesuatu. Dia menitipkan salam pada kakak.”


Menitipkan salam? Gadis itu? Apa yang ia sampaikan pada adiknya? Apakah dia sudah menceritakan semuanya kepada adiknya?


Bagaimanapun juga Brandon tidak dapat melarang Mawar menceritakan hal itu kepada adiknya bukan? Tidak ada larangan untuk menutupi janji mereka kepada orang lain bukan? Jadi apakah adiknya ini sudah tahu semuanya?


“Memangnya dia mengatakan apa?” tanya Brandon penasaran.


“Dia hanya menyuruhku menyampaikan maaf pada kakak karena tidak dapat menonton konser come back kakak.”


Hanya itu? Brandon sudah menduga jika gadis itu tidak akan datang ke konsernya. Sebenarnya terbesit sedikit kekecewaan karena dugaannya benar.


Namun mau bagaimana lagi? Melihat Mawar melakukan hal tersebut secara tidak langsung ingin mendukung usaha Brandon bukan? Gadis itu masih sabar menunggunya.


“Tidak hanya itu saja.” Ucap Jiana seolah menjawab apa yang sekarang berkecamuk di pikiran Brandon.


“Dia berharap agar kakak tidak terlalu memaksakan diri. Dia bilang jangan terlalu tergesa-gesa lebih baik perlahan dengan hasil memuaskan dari pada tergesa-gesa dengan hasil yang mengecewakan. Maksud Mawar mengenai konser kakak.”


Brandon tersenyum mendengarnya. Binar bahagia juga terpancar dari matanya. Namun sebisa mungkin dia tidak secara terang-terangan menunjukkan hal itu di depan adiknya.


Ternyata Mawar sangat peduli padanya. Meskipun ia menyisipkan pesan berkode itu pada Jiana, Brandon paham betul pesan itu bukan terkait konsernya, namun terkait dengan janjinya pada gadis itu.


“Dia juga memintaku untuk mengingatkan kakak agar tetap menjaga kesehatan. Jangan memaksakan diri dan mengorbankan kesehatan kakak. Dan lihatlah?” Ucap Jiana sembari mengangkat tangannya asal ke udara. Sedikit menyapukan tangannya ke sekeliling ruangan.


“Belum dua puluh empat jam aku menyetujui permintaan Mawar sekarang aku harus melakukannya. Bisa tidak kakak tidak terlalu memaksakan diri?”


“Kakak harus menjaga kesehatan. Lihatlah mata kakak yang sekarang dihiasi kantung mata itu? Beberapa hari lagi kakak akan mengadakan konser. Bukannya menjaga kesehatan tapi malah begadang seperti ini.”


“Apalagi sampai membuat kamar berantakan. Pokoknya aku tidak mau tahu. Kakak harus segera membereskan ini dan mandi. Aku akan membuatkan sarapan untuk kakak. Setelah itu Kak Brandon harus istirahat.” Usai berkata demikian Jiana melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Brandon.


Brandon hanya bisa mengangga mendengar nasehat adiknya itu. Sebelum pintu benar-benar tertutup, Jiana membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Brandon.


“Aku tidak mau menerima bantahan. Sekarang kakak harus mandi.” Ucap Jiana penuh dengan penekanan di setiap perkataannya.


Brandon hanya menggelengkan kepalanya. Ia heran siapa yang berposisi sebagai kakak di sini? Kenapa dengan mudahnya adiknya itu main perintah kepada dirinya, padahal yang menjadi kakak di sini adalah Brandon bukan Jiana.