Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Pesan Dari Mawar



Sudah tiga hari Brandon mengurung dirinya di kamar. Ia hanya keluar dari kamar sesekali hanya karena Jiana memintanya untuk makan. Ia masih ingat akan pesan Mawar bahwa laki-laki itu harus tetap menjaga kesehatannya.


Selama tiga hari ini Brandon memikirkan keputusannya. Apakah ia salah jika melakukan hal itu? Apa tindakannya ini salah? Lagi pula di luar sana banyak pula penyanyi yang berhenti dari dunia tarik suara.


Kebanyakan dari mereka baru memberitahu ketika akan benar-benar keluar. Bahkan ada yang keluar tanpa pemberitahuan. Hanya menghilang dari peredaran publik.


Lalu apa salah bagi Brandon jika dirinya memberitahu penggemarnya jika setelah Tour Eropanya dirinya akan berhenti menjadi penyanyi? Bukannya itu bagus? Membuat penggemarnya bisa mempersiapkan diri untuk tidak lagi melihatnya di atas panggung? Mereka pasti akan mempersiapkan diri.


Brandon rasa tidak ada yang salah dengan hal ini. Jika Alex khawatir dengan jumlah penonton di konsernya, itu tidak perlu. Brandon yakin para penggemarnya akan banyak yang datang. Bagaimanapun bisa jadi itu konser terakhir mereka melihat Brandon menyanyi di atas panggung.


Mengingat soal Alex membuat Brandon teringat akan ucapan laki-laki itu yang terdengar sangat merendahkan Mawar. Brandon masih tidak terima akan hal itu. Sejak konser itu Brandon belum bertemu dengan manajernya itu.


Brandon tahu beberapa hari kedepan ia masih memiliki jadwal kosong sehingga hal itu dimanfaatkannya untuk menghindar sesaat dari manajernya itu. Brandon hanya tidak ingin ketika dirinya bertemu Alex dan mengingat ucapan laki-laki itu amarahnya naik dan ia tidak dapat mengontrolnya.


Brandon kembali memetik senar gitar yang sedari tadi ada di pangkuannya. Lagu barunya baru saja ia selesaikan. Selama merenung tiga hari ini, Brandon mencurahkan segala perasaannya ke dalam lagu.


Entah kenapa dia bisa menyelesaikan lagu secepat ini. Tidak seperti biasanya. Selama tiga hari ini ia sudah menulis 4 lagu.


Deringan ponsel menghentikan Brandon dari aktifitasnnya. Ia meraih benda persegi panjang yang terletak di nakas. Tidak ada nama dari penelfon. Itu berarti sebuah nomor yang belum terdaftar di kontaknya. Memang siapa yang menelfonnya?


Apakah ini telfon dari orang yang menarwarkan pekerjaan untuknya? Tapi tidak mungkin untuk urusan seperti itu mereka akan langsung menghubungi Alex, manajernya. Tidak mungkin akan menelfonnya.


Atau mungkin ini dari penggemarnya? Jika memang telfon ini dari penggemarnya Brandon tidak ingin mengangkatnya. Terakhir kali ia mengangkat telfon dari nomor yang tidak dikenalnya, ia menerima terror panggilan telfon dari pengemarnya yang selalu menanyakan kabar dan keberadaannya.


Bukannya Brandon membenci penggemarnya itu, tapi apa kalian sendiri tidak kesal jika tiap hari tanpa kenal waktu ditelfon orang yang tidak Kau kenal?


Bahkan di tengah malam ketika kalian istirahat orang itu tetap menelfon. Menganggu waktu tidur kalian. Mengesalkan bukan. Itu lah yang Brandon rasakan saat itu.


Lebih baik aku biarkan saja, nanti juga akan mati sendiri. Batin Brandon.


Tidak lama berselang, telfon itu mati seperti dugaan Brandon. Namun ketika Brandon ingin meletakkan kembali ponselnya, benda persegi panjang itu kembali berbunyi menampilkan nomor yang sama.


Heh, sepertinya orang ini bersemangat menelfonku. Ucap Brandon dalam hati.


Brandon tidak menghiraukan panggilan itu. Ia melempar dengan asal ponsel tersebut ke ranjang dan menutupinya dengan bantal. Mencoba meredam suara deringan yang muncul dari ponsel miliknya. Brandon yakin si penelfon akan berhenti menelfonnya jika dia tidak mengangkat telfonnya.


Benar saja Brandon tidak lagi mendengar suara ponselnya berdering. Dengan begitu sekarang dirinya bisa fokus menyelesaikan lagu miliknya ini. Brandon hanya perlu mempercantik beberapa bagian lagunya. Setelah itu semua pekerjaannya selesai.


Laki-laki itu menerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan kamarnya yang gelap. Setelah itu, Brandon menyalakan lampu belajar yang ada di meja kerjanya.


“Masuk saja Ji. Aku tidak mengunci pintunya.” Gumam Brandon dengan suaranya yang serak.


Brandon langsung melihat ke arah pintu kamarnya. Di sana ia melihat Jiana yang tengah beracang pinggang. Meski Brandon tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia tahu bahwa saat ini Jiana tengah marah padanya.


“Kak Brandon, kenapa Kau tidak mengangkat teleponnya? Mawar mencoba menghubungimu berkali-kali tetapi Kau sama sekali tidak menjawab teleponnya.” Ucap Jiana dingin.


Ucapan Jiana itu membuat Brandon yang awalnya masih setengah mengantuk, langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia memandang lekat ke arah adiknya itu.


“Apa Kau bilang? Mawar menelfonku?” Tanya Brandon yang sekarang tiba-tiba bangkit dari duduknya.


Karena Brandon bangkit dengan sedikit terburu-buru, kursi yang sebelumnya ia duduki sekarang jatuh. Namun laki-laki itu tidak mempedulikan hal itu. Ia kini memandang ke arah adiknya dan menunggu konfirmasi dari Jiana.


“Ya. Aku meminta Mawar untuk menghubungimu. Namun Kau tidak menjawab telepon dari dia. Mawar bahkan sudah mengirimkan sebuah rekamanan suara kepadamu. Dia bilang Kau juga belum membuka pesannya.”


Brandon ingat nomor asing yang terus menghubunginya tadi. Pasti itu adalah panggilan dari Mawar. Jika saja Brandon mengangkat panggilan tadi, maka dia pasti akan mengobrol dengan Mawar. Sayangnya ia menghiraukan pangilan telepon tersebut.


Brandon langsung mengacak-acak ranjangnya. Ia perlu mencari keberadaan ponsel miliknya. Setelah menemukannya, Brandon menemukan dua puluh panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Tidak hanya itu, sebuah pesan juga tertera di sana.


Ketika membuka pesan itu, Brandon menemukan sebuah pesan suara untuknya. Langsung saja Brandon menyambungkan ponselnya dengan earphone miliknya. Masih ada Jiana di sini. Laki-laki itu ingin mendengarkan sendiri pesan yang dikirm Mawar kepadanya. Ia lalu memutar rekaman suara tersebut.


Brandon bisa mendengar suara Mawar di sana. Terdapat sebuah kecemasan di nada suara gadis itu.


“Brandon, apakah Kau benar-benar akan berhenti jadi penyanyi? Apa itu hanya karena janji kita sebelum ini? Jika ya, maka aku akan sangat kecewa jika Kau mundur menjadi penyanyi hanya karena kau ingin menjadi seorang fotografer.”


“Menurutku, itu sangat tidak adil bagi para penggemarmu. Aku tidak mau Kau mengecawakan orang banyak. Bukannya aku melarangmu mengejar mimpimu, tetapi Brandon, selagi semua bisa dijalankan bersama kenapa harus mundur?”


“Aku tahu selama ini Kau sudah mengikuti beberapa pameran foto yang diikuti beberapa fotografer ternama bukan? Itu berarti Kau sudah memiliki nama di dunia fotografi. Kau sudah cukup terkenal sekarang.”


“Jadi, terkenal seperti apa lagi yang Kamu inginkan? Bukankah pencapaianmu yang sekarang ini sudah cukup? Untuk apa Kau harus mundur di saat karirmu sedang naik seperti ini. Brandon, semua orang berharap sampai di posisimu sekarang. Akan sangat disayangkan jika Kau tiba-tiba mundur sekarang.”


“Lalu, aku juga tidak mau hanya demi memenuhi janji kita, Kau malah mundur dalam menjadi penyanyi. Aku akan sangat bersalah jika Kau sampai melakukan hal itu. Maka Brandon, pikirkan lagi semuanya dengan baik-baik. Aku tidak mau menjadi batu penghalang dalam karirmu.”


Setelah mendengar ucapan Mawar tersebut Brandon terdiam. Apakah keputusannya ini sudah benar? Ataukah salah?