Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Kabar Buruk



Brandon tersenyum lebar setelah lirik-lirik indah yang ia buat selesai dibuat. Setelah ini, ia tinggal mendiskusikan musik yang cocok untuk lagu barunya ini dengan Andreas, komposer yang sudah cukup lama bekerja sama dengannya.


Brandon lalu memutar kursi yang ia duduki. Ia ingin merenggangkan otot tubuhnya setelah bekerja cukup lama di depan komputer. Sekarang, Brandon baru menyadari keberadaan Jiana dan Alex yang memandangi dirinya.


“Apakah Kalian sudah cukup lama berada di sana?” Tanya Brandon kepada keduanya.


“Tidak terlalu lama. Tetapi Kami melihat Kau serius dalam bekerja. Apakah itu lagu baru?” tanya Alex.


“Ya, ini adalah lagu baru yang aku tulis. Aku ingin sekali segera menggarap lagu ini. Aku harap ketika melakukan tour eropaku nanti, aku bisa membawakan lagu-lagu ini.” jelas Brandon.


“Itu bagus sekali. Kalau begitu, aku akan segera menghubungi Andreas dan membuat janji dengannya.” jawab Alex.


“Tentu.”



Selama beberapa hari Brandon disibukkan dengan mengerjakan lagu miliknya. Ia juga harus mempersiapkan keperluan untuk tour Eropa yang akan ia lakukan dalam waktu dekat.


Sementara itu, perkuliahan Mawar sudah dimulai. Ia tidak bisa terus memikirkan Brandon sekarang. Kuliahnya juga penting.


Lagipula, Mawar mendengar dari Jiana bahwa Brandon saat ini tengah sibuk mempersiapkan konsernya. Mawar harap Brandon bisa berubah pikiran agar tidak jadi pensiun dari dunia hiburan ketika menyiapkan konsernya ini.


Sangat disayangkan jika Brandon sampai berhenti dari dunia hiburan. Suara Brandon menghibur cukup banyak orang sekarang.


"Apakah tempat ini kosong?" Sebuah suara seorang pemuda membuat Mawar yang sedari tadi sibuk menggambar di Ipad miliknya, mendongakkan kepalanya.


Di depannya kini sudah berdiri seorang pemuda yang memakai kaos polos berwarna marun, yang dibalut dengan kemeja berwarna abu-abu, yang sengaja tidak dikancingkan.


Pemuda tersebut menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di depan Mawar. Saat ini Mawar berada di salah satu taman dekat kampusnya, ia mengerjakan tugas pertamanya sebagai mahasiswa desain interior.


"Sure. Kau bisa duduk di sana. Tidak ada satu orang pun yang duduk di situ." Jawab Mawar.


"Namaku Marvin. Aku tadi melihatmu berada di kelas yang sama denganku. Apakah Kau ini juga mengambil jurusan desain?" Tanya pemuda yang memperkenalkan diri sebagai Marvin itu.


Sepertinya orang yang bernama Marvin ini menghampiri Mawar dengan niatan mengajaknya mengobrol. Jika begini, Mawar tidak bisa melanjutkan tugas miliknya.


"Ya aku mengambil jurusan desain interior. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka yang ada di kelas. So, aku minta maaf, aku tidak tahu jika kita sekelas." Jawab Mawar.


Ada sedikit kekesalan dalam nada suara Mawar. Siapa juga yang tidak kesal jika diganggu ketika menyelesaikan pekerjaannya. Tentunya Mawar kesal.


Tetapi, pemuda bernama Marvin itu seolah tidak menangkap rasa kesal Mawar, atau bahkan dia tidak mempedulikan hal itu. Ia tetap mengajak Mawar mengobrol.


"Berarti kita akan lebih banyak bertemu setelah ini. Aku berada di jurusan yang sama dengamu. Ah ya, siapa namamu? Kau belum memberitahu namamu, jadi siapa namamu?" Tanya Marvin.


"Just call me Mawar."


"Mauwar?" Ucap Marvin mencoba melafalkan nama Mawar.


"No, Mawar, M A W A R, Mawar not Mauwar." Jelas Mawar.


Jadi kenapa mereka memberikan nama yang cukup sulit dilafalkan seperti ini. Jika mmemang Ibunya suka dengan bunga mawar, kenapa tidak memberinya nama Rose?


"Mauwar?" Ucap Marvin sekali lagi sembari memiringkan kepalanya. Cukup sulit baginya melafalkan nama Mawar. Apalagi ini pertama kalinya ia mendengar kata ini.


"Rose, just call me Rose." Ucap Mawar pada akhirnya.


Ini yang sering ia lakukan, mengubah namanya menjadi Rose ketika berkenalan dengan orang yang sulit melafalkan namanya.


"Rose. Kenapa tidak bilang dari tadi. Rose lebih mudah melafalkan daripada Mau Mau apa tadi." Ucap Marvin santai tanpa peduli bahwa apa yang ia ucapkan tadi menyinggung Mawar.


"Untuk apa Kau kemari? Aku masih sibuk dan tidak bisa mengobrol denganmu." Ucap Mawar ketus.


"Wow, tenanglah Rose jangan ketus seperti itu. Aku hanya ingin mengajakmu berkenalan. Jangan bersikap seperti aku sedang mengajakmu bertengkar." Ucap Marvin sembari menaik turunkan tangannya di depan badannya.


"Kita sudah berkenalan bukan? Sekarang biarkan aku sendirian."


"Come on Rose, kita memang sudah berkenalan tetapi kita belum benar-benar saling mengenal bukan? Mengobrollah lebih lama denganku." Pinta Marvin.


Mawar hanya menggeleng orlan. Ia lalu membereskan semua barang-barang miliknya dan memasukkannya ke dalam tas ransel yang ia bawa.


"Kau bisa mengobrol dengan yang lain. Maaf aku sibuk."


Tanpa mempedulikan Marvin yang memintanya untuk tinggal, Mawar tetap melangkahkan kakinya pergi dari sana. Lebih baik ia mengerjakan semuanya di apartemennya. Di sana tidak akan ada yang mengganggunya.


...


Ketika berada di kereta bawah tanah, Mawar mendengar sebuah pembicaraan yang kurang menyenangkan untuknya. Suasana hatinya yang sebelumnya memburuk karena gangguan dari Marvin, kini semakin memburuk.


"Hey apa Kau sudah mendengarnya? Brandon William sekarang dikabarkan dekat dengan Rosemary, si model itu." Ucap seorang gadis berambut cokelat kepada temannya.


"Really? Dari mana Kau mengetahui hal itu? Apakah ini gosip baru?" Tanya temannya.


"Lihat saja di Twitter semua membicarakan hal itu. Paparazi sudah mengambil banyak foto dari Rosemary yang masuk ke apartemen Brandon. Tidak hanya itu, dia juga mengunjungi Brandon di tempat Andreas, komposer ternama itu." Jelas si rambut cokelat.


"Jika keduanya tidak sedang berkencan, mana mungkin Rosemary mengunjungi Brandon di semua tempat. Aku juga melihat sebuah foto yang menunjukkan mereka tengah melakukan makan malam berdua. Itu semua sudah menjadi bukti." Imbuhnya.


"Ah kenapa dia seperti itu? Berkencan dengan seorang model, aku tidak terima itu."


"Aku jadi berspekulasi, bahwa Brandon mengumumkan akan berhenti menjadi penyanyi karena dia ingin menikah dengan Rosemary. Jika dia berhenti, maka mereka akan punya waktu lebih banyak bukan?"


"Ah benar katamu. Tetap saja ini sulit diterima. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba berkencan dengan yang lain setelah mengumumkan bahwa dia mundur dari dunia hiburan. Aku sebagai penggemarnya sangat tidak menerima ini."


Sementara itu Mawar yang mendengar semua itu merasa terpukul mendengar semua itu. Ternyata Brandon sudah memiliki kekasih. Ya itu hanya hayalan Mawar saja bahwa Brandon nanti akan memilihnya sebagai kekasih.


Orang seperti Brandon, seorang artis ternama, jelas memilih orang dari dunia yang sana. Seorang model rupanya. Selain untuk bisa bertemu kembali dengannya, pasti Brandon ingin menjadi fotografer untuk perempuan itu.


Mawar yang bukan siapa-siapa ini, jelas tidak pantas bersanding dengan Brandon yang bersinar terang itu.