Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Fakta Yang Terungkap



“Oh itu foto Kak Brandon waktu masih kecil.”


Kata-kata Jasmine terngiang-ngiang di telinga Mawar. Masih jelas dalam ingatannya foto anak kecil di ruang tamu rumah Jiana tadi. Tidak salah lagi, itu wajah dalam foto tersebut sama dengan wajah anak laki-laki yang dua belas tahun lalu menolongnya, Gray.


Sekarang terjawab sudah semua kecurigaan Mawar tentang Brandon. Brandon adalah Gray dan Gray adalah Brandon. Dan fakta bahwa laki-laki itu mengetahui keberadaan Mawar tanpa pernah mencoba menemuinya. Bukankah cukup mudah untuk menemuinya jika Mawar adalah teman adiknya?


Dari percakapannya dengan Brandon tiga hari yang lalu, Mawar dapat menebak bahwa laki-laki itu mengetahui siapa Mawar sebenarnya, gadis yang dua belas tahun lalu pernah ditemuinya.


Lantas kenapa laki-laki itu tidak pernah mau menemui Mawar? Dua belas tahun ini Mawar selalu menerka-nerka dimana sosok Gray tinggal agar dirinya dapat menemui penyelamatnya itu. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak punya niatan untuk bertemu dengan Mawar.


Oh ya, janji konyol itu. Mawar hampir melupakannya. Apakah laki-laki itu tidak mau menemuinya hanya karena janji konyol itu. Itu hanya janji konyol yang dibuat oleh dua orang anak kecil bukan? Tidak perlu memikirkannya dengan serius.


Tapi sebenarnya Mawar memikirkan dengan serius soal janji itu bukan? Kalau tidak kenapa sekarang dia memilih kuliah jurusan arsitek, impian yang dimilikinya sejak bertemu Brandon.


Yang jelas, sekarang ini Mawar ingin sekali berbicara dengan laki-laki itu untuk mendapatkan penjelasan dari semua ini. Tapi tidak mungkin Mawar melakukannya saat ini juga bukan?


Lihat dimana dia sekarang, berkumpul dengan Rendi dan Thomas di halaman belakang rumah Jiana untuk melakukan barbecue party. Mereka pasti curiga jika Mawar mengajak Brandon untuk bicara serius.


Bukankah mereka baru berkenalan secara resmi tiga hari yang lalu? Dan lagi, Mawar masih ingin menyimpan fakta bahwa dirinya dan Brandon telah berkenalan dua belas tahun lalu.


Jadi, yang bisa Mawar lakukan saat ini hanya menatap Brandon dengan tatapan yang mengisyaratkan sebuah penjelasan.


*****


Sedari tadi Brandon menyadari bahwa Mawar menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa ia meminta sebuah penjelasan darinya. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi.


Banyak foto masa kecilnya yang dipajang di rumahnya bukan? Jadi, salah satu dari foto tersebut pasti telah mengungkap fakta siapa Brandon sebenarnya.


Yang mengusik pikiran Brandon saat ini adalah bagaimana pandangan Mawar tentang dirinya? Sosok laki-laki yang tidak bisa memegang janjinya. Apakah Mawar saat ini berfikir tentang hal itu? Brandon tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.


Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan? Melarang adiknya mengajak temannya datang ke rumah? Itu sudah dua belas tahun Brandon lakukan. Jadi jika Brandon menolak akan menimbulkan kecurigaan adiknya.


Mengambil semua foto masa kecilnya yang ada di rumah ini dan menyimpannya khusus untuk malam ini? Itu malah akan menimbulkan bencana.


Bisa saja keluarganya menganggap Brandon sudah tidak mau memiliki keluarga seperti mereka. Ini juga terjadi kepada adiknya ketika Brandon melarang Jiana untuk membawa temannya ke rumah.


Permintaan itu adalah permintaan terkejam yang pernah Brandon minta. Seolah-olah Brandon malu jika orang-orang mengetahui bahwa Jiana adalah adiknya. Bukan, Brandon sangat menyayangi adik-adiknya. Tapi bagaimana lagi ada satu orang lagi yang Brandon sayangi secara diam-diam, Mawar.


Perlukah Brandon memberikan penjelasan pada Mawar? Ah tapi sekarang bukan waktu yang tepat bukan? Apa yang adiknya katakan jika tiba-tiba Brandon mengajak Mawar bicara di tempat yang lebih sepi.


Hey, semua orang hanya tahu jika mereka berkenalan tiga hari yang lalu, bukan bertemu kembali tiga hari yang lalu setelah dua belas tahun bertemu.


Jika suatu saat Brandon meminta Mawar menemuinya dan menjelaskan semua ini, sama saja dirinya melanggar janjinya lagi. Brandon masih belum mengetahui kapan dirinya dapat memenuhi janjinya dua belas tahun lalu itu.


Setelah ini dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya yang setahun ini ia tinggalkan. Ah memikirkannya saja membuat Brandon pusing. Dengan asal-asalan ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


“Kau kenapa Kak?”


Brandon menggeleng pelan. “Hanya memikirkan pekerjaanku di London. Oh ya Ji, Kau sudah memesan tiketmu untuk pergi ke London?” Tanya Brandon.


“Belum, aku belum menentukan kapan berangkat. Kalau Thomas, dia akan berangkat minggu depan. Dia harus menghadiri pernikahan sepupunya. Kalau Kau Mawar, kapan Kau akan berangkat ke London?”


Mawar? London? Apa ada sesuatu yang tidak Brandon ketahui di sini? Gadis itu akan ke London?


Mawar yang sedari tadi memperhatikan Brandon kini mengalihkan pandangannya ke arah Jiana. “Aku belum tahu Ji. Ibuku akan menemaniku, tapi dia belum memberitahuku kapan dia bisa. Lagi pula kuliah baru akan dimulai dua bulan lagi.”


“Dia kuliah di London?” Tanya Brandon dalam hati.


“Ya. Mawar memang kuliah di London.”


Oh sepertinya Brandon tanpa sengaja mengucapkan apa yang tengah ia pikirkan.


“Apa aku belum memberitahu kakak? Mawar juga akan kuliah di London. Dia mengambil jurusan arsitek. Kakak tahu, dia hebat dalam membuat desain rumah. Apalagi ketika menata interior kamar. Awesome. Hanya itu yang bisa aku katakan ketika melihat kamarnya.”


“Oh jadi Mawar telah memiliki impian rupanya. Gadis itu telah memenuhi janjinya padaku, sedangkan aku orang yang mengajaknya berjanji belum memenuhi janji yang aku buat sendiri.” ucap Brandon dalam hati.


“Sayang sekali Kau memilih London Mawar. Kau tidak akan bisa bertemu Gray.” Kali ini Rendi yang berbicara.


“Oh Kau tidak mengetahui cerita itu Thom. Gray itu adalah anak laki-laki yang pernah menolong Mawar. Dia sudah menunggunya selama dua belas tahun.”


“Oh Gray yang itu?” tanya Jiana yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rendi.


“Dia itu cinta pertama Mawar Thom.”


Gray? Cinta pertama Mawar? Siapa dia?


“Orang itu yang menolong Mawar ketika dia di Paris. Benar kata Rendi, jika Kau milih London Kau akan lebih kesulitan menemui laki-laki itu. Bukankah kalian bertemu di Paris? Seharusnya Kau memilih Paris Mawar.”


Brandon tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Gray adalah dirinya, anak laki-laki yang pernah bertemu dengannya di Paris. Dan dia adalah cinta pertama Mawar. Benarkah itu?


“Ah sudahlah Ji. Jangan membahas orang itu. Lagi pula aku tidak tahu siapa nama orang itu. Lalu, aku pikir dia pasti sudah melupakanku.” Jawab Mawar diringin dengan sebuah nafas panjang.


Thomas memandang Mawar dengan tatapan menyelidik. “Mereka bilang namanya Gray. Kenapa sekarang Kau bilang Kau tidak mengetahui namanya?”


“Aku tidak mengetahui namanya memang. Nama itu aku berikan karena dia yang berpenampilan serba abu-abu. Ah sudahlah lupakan dia dan janji konyol itu.”


“Janji apa?” Sepertinya Thomas antusias sekali dengan kisah Mawar dan si Gray ini.


“Ya janji itu memang terdengar konyol.” Jawab Rendi. “Mawar dan si Gray ini pernah berjanji bahwa suatu saat nanti jika mereka bertemu kembali maka Mawar harus memiliki sebuah impian dan si Gray ini akan menjadi seorang fotografer terkenal.”


“Bagaimana bisa seseorang menjanjikan hal tersebut jika mereka tidak dapat menepatinya. Kau bahkan tidak mengetahui nama asli, jadi kalian juga pasti tidak mengetahui di mana masing-masing dari kalian tinggal. Bukankah hal itu mustahil untuk terwujud?” Tanya Thomas sembari memandang ke arah yang lain seolah tengah menunggu persetujuan dari mereka.


“Dia hanya bilang takdir lah yang akan mempertemukan kami kembali Thom. Aku pikir dia sudah melupakan janji itu dan tidak ingin bertemu denganku.” Mawar menundukkan kepalanya. Ia sedih ketika memikirkan perkataannya barusan.


Bagaimana jika Brandon memang sudah melupakan janji itu dan tidak pernah berniat untuk menemuinya? Sia-sia Mawar menunggu dua belas tahun untuk mengharapkan bertemu dengannya. Hanya satu kata yang menggambarkan perasaan Mawar saat ini. Sakit.


“Sudahlah kita di sini untuk makan-makan bukan? Nikmati pestanya jangan memikirkan tentang masalahku dengan laki-laki itu.”


Tatapan Mawar dan Brandon bertemu untuk sesaat. Dan Brandon yakin ia melihat Mawar tergesa-gesa menghapus cairan bening yang keluar dari sudut matanya. Gadis itu, Mawar, ia menangis.


*****


Brandon mimikirkan kejadian tadi ketika barbecue party. Ia tidak menyangka bahwa akhirnya Mawar berfikiran seperti itu tentang dirinya. Mawar terlihat sangat kecewa dengan Brandon.


Tapi rasa kecewa Mawar tidak akan pernah sebesar rasa kecewa Brandon pada dirinya sendiri. Brandon telah membuat Mawar menangis. Sungguh hal terakhir yang Brandon inginkan adalah membuat Mawar menangis.


Apakah Brandon telah menyakiti hati Mawar? Oh rasa-rasanya Brandon sudah menjadi orang munafik sekarang. Tiga hari yang lalu dirinya menasehati Thomas untuk tidak menyakiti perasaan seorang wanita dan sekarang lihatlah Brandon. Tanpa sengaja dia telah menyakiti hati Mawar.


Melihat Mawar menangis membuat Brandon ingin sekali berhambur ke gadis itu dan memeluknya. Menenangkannya agar tidak lagi menangis. Tapi apa yang bisa dia lakukan?


Brandon tidak bisa melakukan hal itu di depan orang lain yang tidak mengetahui permasalahannya. Brandon tidak ingin memperpanjang masalah ini dengan melibatkan orang lain.


Haruskah dia bersikap egois untuk bertemu Mawar dan menjelaskan semua ini? Tapi apakah Mawar mau bertemu dengannya setelah Brandon membuat gadis itu kecewa?


Brandon melangkah ke arah ranjangnya dan meraih poselnya yang tergeletak di sana. Ia menekan beberapa nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.


“Halo Alex?”


“Hai dude. Ada apa Kau menelfonku? Apa Kau butuh sesuatu?”


“Ya, lusa aku akan kembali ke London. Bisa Kau meminta seseorang untuk membersihkan apartemenku?”


“Oh wow. Kenapa Kau tiba-tiba begini? Kau bilang akan ke London minggu depan bukan?”


Brandon memijat pelipisnya pelan dengan sebelah tangannya.


“Aku berubah pikiran. Ada hal yang harus aku selesaikan di sana. Kau bisa melakukan apa yang aku minta?”


“Tentu saja. Beritahu aku jam berapa Kau akan sampai. Aku akan menjemputmu. Oh ya aku akan mengajak Kate. Adikmu pasti akan senang jika aku mengajaknya menjemputmu.”


“Ya tentu saja. Aku juga sudah merindukan adikku yang cerewet itu. See you soon.” Setelah berucap demikian, Brandon mematikan ponselnya.


Ini adalah cara yang dapat Brandon lakukan untuk membuktikan kepada Mawar bahwa dia sama sekali tidak melupakan janji itu. Selama ini dia tengah berjuang memenuhi janjinya itu. Dan sekarang, janji itu harus segera ia tepati.