Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Berita Mengejutkan



Mawar barus saja menginjakkan kakinya kembali ke London setelah menghadiri resepsi penikahan sepupunya itu. Kini sepupunya itu tengah berbulan madu di Bali. Melihat pesta pernikahan Alice membuat Mawar membayangkan bagaimana pesta pernikahannya kelak. Lagu apa yang akan dia pakai untuk first dance dengan suaminya nanti.


Hah suami? Pacar saja Mawar tidak punya. Kenapa dia malah berpikir sampai sejauh itu? Ini karena pengaruh Alice yang diberikan padanya. Sepupunya itu mencekokinya dengan ucapan persuasive agar segera menyusulnya. Memang dikira menikah itu gampang?


Lagi pula sebelum memikirkan itu semua, Mawar masih memikirkan tentang dirinya dan Brandon.


Hatinya sudah diambil Brandon. Mawar tidak bisa membayangkan bagaimana jika Brandon sudah menepati janjinya nanti Mawar baru mengetahui jika laki-laki itu tidak menyukainya. Pasti Mawar akan menjadi orang yang hancur sehancur-hancurnya.


“Apa Kau sudah mendengarnya, Brandon William akan berhenti menjadi penyanyi.” Terdengar suara seorang gadis pirang yang tengah berbicara dengan temannya. Mendengar hal itu Mawar mencoba mendengarkan dengan seksama percakapan gadis itu dengannya.


Ia hanya ingin memastikan bahwa apa yang di dengarnya itu tidak benar. Tidak mungkin Brandon akan berhenti menjadi penyanyi. Mawar tahu jika saat ini Brandon sedang mencapai puncak karirnya. Karir laki-laki itu terus menanjak. Sangat tidak mungkin jika laki-laki itu berhenti.


“Benarkah? Kenapa dia berhenti menjadi penyanyi? Aku dengar dia akan mengadakan Tour Eropa pertamanya. Kenapa dia harus berhenti?” Tanya teman si gadis pirang.


“Sepupuku datang ke konser come backnya tiga hari yang lalu. Brandon William yang mengatakan itu sendiri. Katanya dia ingin mengejar mimpinya. Dia ingin menjadi seorang fotografer. Itu yang aku dengar dari sepupuku.”


Apa? Berhenti menjadi seorang penyanyi demi bisa menjadi fotografer? Mawar menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tidak mungkin kan Brandon melakukan hal itu.


Jika memang benar seperti itu, bukankah Brandon berhenti menjadi seorang penyanyi karena ingin menepati janjinya? Menjadi seorang fotografer. Jika demikian bisa dikatakan janji antara dirinya dan Brandon merusak karir laki-laki itu. Mawar pihak yang terlibat perjanjian itu telah merusak karir laki-laki itu.


“Sayang sekali. Padahal dia memilki suara yang sangat merdu. I like him. Para penggemarnya pasti akan kecewa mendengar hal itu.”


“Tapi aku berharap Brandon membatalkan niatnya untuk berhenti menjadi penyanyi. Dia baru akan berhenti ketika sudah menyelesaikan Tour Eropanya. Jadi aku harap dia memikirkan ulang tentang hal itu dan membatalkan niatnya. Bukankah masih bisa menjadi fotografer dan penyanyi di saat bersamaan? Kenapa dia harus behenti?”


Ini tidak benar. Mawar harus melakukan sesuatu. Benar kata si gadis pirang. Brandon masih bisa menjadi fotografer dan penyanyi secara bersamaan.


Laki-laki itu tidak perlu mengorbankan salah satunya. Jika yang dikatakan si gadis pirang benar, berarti Mawar masih memiliki kesempatan untuk membuat laki-laki itu membatalkan niatnya.


*****


“Apa berita itu benar Ji?” Tanya Mawar kepada Jiana. Kini mereka berada di ruang tamu apartemen Mawar. Setelah menaruh kopernya di apartemen, Mawar menelfon Jiana meminta bertemu.


Kebetulan Jiana yang saat itu sedang bersama Thomas berada dekat dengan apartemen Mawar sehingga Jiana memutuskan lebih baik bertemu gadis itu di apartemennya.


“Berita apa?” Tanya Jiana sembari memiringkan kepalanya.


“Tentang kakakmu. Aku dengar dia akan berhenti menjadi penyanyi dan memilih menjadi fotografer. Apa berita itu benar?”


Jiana mengelah nafas panjang. Jiana sudah menduga bahwa Mawar akan menanyakan terkait hal ini padanya setelah mendengar berita itu. Tapi Jiana terkejut bahwa Mawar sudah mendengar hal ini di bandara dan memilih langsung menanyakan hal ini pada dirinya.


“Ya. Berita itu memang benar. Aku berada di tempat konser malam itu. Tapi sampai sekarang aku belum berbicara lagi dengan kakakku. Dia mengurung dirinya. Dia hanya keluar ketika makan dan kembali lagi mengurung diri di kamar. Sepertinya dia masih membutuhkan waktu sendiri untuk memikirkan hal ini kembali.”


“Sudah berapa lama ia mengurung diri?” tanya Mawar yang mulai khawatir.


Kenapa laki-laki itu menyiksa dirinya sendiri? Kenapa tidak memikirkan hal itu sebelum melakukan tindakan. Jika demikian terlihat bahwa Brandon menyesali tindakannya bukan? Kemana Brandon yang kenal? Brandon yang Mawar kenal baik ketika di Paris maupun di Jakarta bukan orang yang seperti ini.


“Sejak konser hari itu tiga hari yang lalu. Apa Kau mau berbicara dengannya? Aku yakin jika Kau yang berbicara dengannya dia akan mendengarkanmu.”


“Kenapa bisa begitu? Mereka tidak ada hubungan apa-apa bukan? Kenapa Brandon akan mendengarkan ucapan Mawar dari pada dirimu yang adiknya.” Sela Thomas.


Ucapan Thomas menyadarkan Mawar dari perasaan resahnya. Dia telah bersikap terlalu mencolok. Dengan tiba-tiba menayanyakan hal ini kepada Jiana pasti akan membuatnya mencurigai Mawar. Mawar masih belum bisa mengungkap hubungannya dengan Brandon.


Di depan mereka, Mawar dan Brandon tidak memilki hubungan apapun. Yang mereka tahu hanya Mawar dan Brandon mengetahui nama satu sama lain dan pernah bertemu dua kali. Tapi kenyataannya bukan seperti itu bukan?


Tapi tunggu dulu, Jiana tadi mengatakan bahwa jika Mawar berbicara dengannya maka Brandon akan mendengarkan ucapan Mawar. Apa sahabatnya itu sudah mencurigai sesuatu tentang dirinya? Jika itu benar, apa sekarang saatnya Mawar mengungkapkan semuanya kepada sahabatnya itu?


“Kau nanti akan tahu sendiri Thom. Aku belum bisa mengatakan padamu sebelum mereka sendiri yang mengatakannya pada kita.” Jiana menatap Mawar penuh arti.


“Aku tidak mengerti dengan apa yang Kau ucapkan Hon. Tapi sudahlah aku percaya saja padamu.”


Pipi Jiana sedikit bersemu merah mendengar panggilan yang diberikan Thomas padanya. Mawar yakin hon tadi adalah panggilan dari sayang dari kata honey. Seperti Mawar punya bahan baru untuk menggoda Jiana. Tapi sudahlah bukan saatnya memikirkan hal itu untuk saat ini.


“Jadi bagaimana Mawar? Kau mau bicara dengan kakakku atau tidak?” Tanya Jiana sekali lagi.


“Aku boleh meminta nomor ponselnya? Nanti aku akan menghubunginya sendiri. Kau tidak keberatan bukan?” Mawar tersenyum tipis.


“Tentu saja. Malah akan lebih baik jika Kau berbicara melalui telfon. Terkadang kakakku itu bisa menjadi orang yang labil jika harus berhadapan dengan pilihan yang menyangkut orang yang ia sayangi.” Jelas Jiana.


“Aku tidak tahu apa yang kakakku pikirkan pada saat mengambil keputusan ini. Aku sudah mengatakan pesanmu untuk tidak tergesa-gesa. Tapi sepertinya dia ingin segalanya selesai. Aku yakin ini berat untuk kalian berdua selama ini.”


“Aku sudah menduga semuanya Mawar. Sejak Kau menunjukkan syal itu padaku aku sudah menduganya. Jika Kau belum berniat menceritakannya sekarang aku tidak keberatan. Kau orang yang baik Mawar. Aku akan mendukungmu.”


Jiana menepuk pelan pundak Mawar seolah-olah memberikan kekuatan kepada gadis itu melalui tepukan di pundaknya.


Mawar merasakan matanya mulai memanas mendengar ucapan Jiana yang menguatkan dirinya. Ia menerjapkan matanya beberapa kali agar air matanya tidak menetes. Mawar memperlihatkan senyum tulusnya yang belum terlihat hari ini. Sebuah senyuman yang menyentuh mata.


“Terima kasih.” Ucap Mawar lirih.


“Telfonlah Kak Brandon. Aku percaya padamu. Kau pasti bisa melakukannya.”


*****


Mawar keluar dari kamarnya dengan muka murung. Pasalnya ia sudah belasan kali menelfon laki-laki itu tapi hanya dijawab oleh kotak suara. Apakah laki-laki itu tidak menyadari bahwa ia menerima telfon? Atau jangan-jangan laki-laki memang sama sekali tidak melihat ponselnya selama tiga hari ini?


“Bagaimana Mawar? Apa kata kak Brandon?” Tanya Jiana ketika melihat Mawar keluar dari kamarnya.


Matanya terlihat berbinar. Jiana yakin sahabatnya itu berhasil membujuk kakaknya untuk memikirkan kembali keputusannya. Namun binar senang di mata Jiana menghilang ketika gadis itu melihat raut muka Mawar yang murung.


“Dia tidak mau mendengarkanmu?” Terdengar nada sedih ketika Jiana mengemukakan pertanyaannya. Berbeda dengan beberapa saat lalu ketika Jiana menanyai Mawar yang baru saja keluar dari kamar.


Jiana tahu jawaban dari pertanyaannya hanya dengan melihat raut wajah Mawar. Kakaknya juga tidak mendengar ucapan Mawar. Padahal Jiana yakin bahwa Mawar bisa membuat kakaknya memikirkan kembali apa yang telah dilakukan.


Mawar menggeleng pelan. “Aku belum bicara dengan Brandon.”


“Belum bicara?” Tanya Jiana tidak percaya sampai mulutnya menganga.


Kenapa gadis itu belum bicara dengan kakaknya. Seingat Jiana perjanjian antara kakaknya dengan Mawar hanya terbatas pada pertemuan. Bahwa jika mereka bertemu Brandon harus menjadi fotografer terkenal.


Jika hanya berbicara itu tidak masalah bukan? Brandon tidak akan melanggar janjinya. Kenapa Mawar belum bicara dengan kakaknya?


“Maksudku aku sudah menelfonnya belasan kali. Tapi dia tidak mengangkat telfonku. Jadi aku belum berbicara padanya.” Jelas Mawar.


“Oh syukurlah.” Ucap Jiana lega. “Aku kira Kau tidak mau menelfon kakakku.”


“Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan Ji? Aku tidak mungkin bertatap muka langsung dengannya. Jika aku melakukannya yang ada dia malah akan meminta berhenti sekarang. Aku yakin dia melakukan ini karena dia merasa bersalah belum bisa menepati janjinya.”


Jiana terdiam. Gadis itu mengetuk dagunya. Mencoba berpikir. “Kenapa Kau tidak mengirim rekaman suaramu saja. Atau video mungkin. Jika Kau tidak bisa menemuinya dan dia tidak mengangkat telfonmu Kau bisa melakukan itu bukan.” Jiana langsung mengalihkan pandangannya ke arah Thomas yang ada di sampingnya.


“Itu ide yang bagus Thom. Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Benar Mawar, Kau bisa melakukan hal itu. Buat saja rekaman suara. Nanti aku akan memberikannya kepada Kakakku.”


Menganguk pelan Mawar mulai memperlihatkan senyumnya. Masih ada jalan. Cara yang di usulkan Thomas Mawar rasa cukup brilliant.


“Baiklah aku akan membuatnya kalian tunggu di sini sebentar.”