
“Alex, apa Kau bisa mempersiapkan semuanya dalam waktu satu bulan?” Tanya Brandon.
Hari ini Brandon tengah berada di kantor Alex, managernya. Selama menjadi penyanyi, Brandon tidak bergabung dalam label manapun. Ia secara mandiri mengurusi semuanya.
Beruntung bagi Brandon, Alex teman sekolahnya mau menjadi manajernya dan sibuk mengurusi segala keperluan Brandon selama menjadi penyanyi.
“Tentu saja. Semua sudah aku atur. Setelah Kau berkata bahwa Kau akan kembali aku sudah mempersiapkan beberapa hal. Kau tidak keberatan bukan jika minggu depan kita mengadakan konfrensi pers mengenai menghilangnya dirimu dan mengabarkan tentang konser come back itu?”
Brandon tersenyum. “Tentu saja. Lebih cepat lebih baik. Oh ya, bagaimana mengenai konser tour Eropa itu? Apa mereka masih menawarkan hal itu?”
“Ya. Sebentar.” Alex terlihat membolak-balikkan buku agenda yang kini berada di tangannya.
“Beberapa hari yang lalu mereka menelfon lagi. Setelah aku beri tahu bahwa Kau akan segera kembali mereka meminta bertemu denganmu. Aku sudah menjadwalkannya. Minggu depan kita akan mengadakan pertemuan itu.”
Brandon mengangguk pelan. “Good. Aku ingin tour itu nanti dilaksanakan mulai akhir tahun. Tapi kita bisa membicarakan lagi dalam pertemuan nanti. Oh ya jangan lupa untuk mengatakan pada mereka untuk mempersingkat tour itu menjadi dua bulan. Sebelumnya mereka menawarkan tiga bulan bukan?”
Alex mengernyitkan dahinya. “Memangnya kenapa Kau meminta tour itu dipersingkat waktunya? Dan lagi sepertinya Kau buru-buru menyelesaikan semuanya.”
Brandon mengangguk. “Aku ingin menyelesaikan semuanya. Karena setelah satu tahun aku akan berhenti menajdi seorang penyanyi.”
Alex membelalakkan matanya. Kaget mendengar ucapan Brandon barusan.
“Satu tahun lagi Kau ingin berhenti jadi penyanyi? Apa Kau gila? Setelah vacuum selama satu tahun Kau akan berhenti satu tahun lagi? Kau tidak sedang bercanda bukan?”
Brandon menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Aku serius. Aku tidak ingin menjadi seroang penyanyi. Dari dulu impianku adalah menjadi seorang fotografer terkenal seperti ayahku. Bukan menjadi seorang penyanyi. Jadi, aku ingin berhenti dan mengejar impianku.”
Mendengar hal itu, Alex hanya menggelengkan kepalanya.
“Hanya alasan sepele itu? Di luar sana banyak orang yang ingin menajdi terkenal sepertimu. Mereka berusaha keras untuk bisa berada di posisimu. Dan sekarang apa? Kau malah membuangnya hanya untuk impian yang belum tentu menjamin dirimu.”
Bagi Alex mungkin itu terlihat sepele, tapi tidak bagi Brandon. Brandon memang sadar betul bahwa banyak yang menginginkan berada di posisinya. Namun, Brandon tidak ingin ada di sini.
Bukan hanya mengejar impiannya saja tapi ini juga menyangkut gadis yang telah mengambil hati Brandon. Jika saja Brandon tidak menjanjikan pada gadis itu untuk menjadi fotografer terkenal maka Brandon tidak akan membuang posisinya ini.
Brandon mengetahui bahwa belum tentu Mawar memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Namun, ada fakta bahwa Mawar masih menunggunya.
Jika demikian, Brandon boleh berharap agar Mawar memiliki perasaan yang sama bukan? Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Mawar masih menunggunya.
Walaupun Brandon mengetahui bahwa Mawar pernah menyukai orang lain selama menunggu dirinya. Tapi dua belas tahun masih lebih lama dari dua tahun bukan? Jadi, setelah semua ini selesai, Brandon akan mendekati gadis itu.
Ia ingin meminta hati gadis itu. Agar dirinya bisa menjaganya. Agar tidak ada orang lain yang akan merebut hati Mawar. Karena jika ada, orang itu harus berhadapan dengan seorang Brandon Wiliam.
“Bagimu mungkin hanya alasan sepele. Tapi bagiku itu segalanya. Itu seharga dua belas tahun penantianku pada cinta pertamaku. Hanya menjadi fotograferlah aku bisa mendekatinya.”
“Cinta pertama? Wow. Sekarang seorang Brandon membicarakan cinta pertamanya? Siapa gadis beruntung ini. Semenjak kita saling kenal, Kau sama sekali tidak terlihat dengan gadis lain. Apa Kau hanya mencintai orang ini, cinta pertamamu?”
Brandon mengangguk. “Ya aku sudah mencintainya selama dua belas tahun. Sejak pertama kali aku melihatnya. Sejak melihat dia menggigil kedinginan, aku hanya mengetahui satu hal, bahwa aku harus melindungi gadis kecil itu. Dan aku masih mencintainya selama dua belas tahun.”
Alex bertepuk tangan mendengar kisah Brandon. “Aku tidak percaya itu. Love at the first sight. Dan itu bertahan selama dua belas tahun? Jadi kenapa Kau tidak langsung saja menemui dia. Apa Kau tidak mengetahui dimana dia tinggal?”
Brandon menggeleng.
“Bukan, bukannya aku tidak mengetahui. Aku megetahui semuanya tentang gadis itu. Warna favoritnya, hobinya, makanan kesukaannya aku sudah mengetahui semuanya. Tapi sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku tidak bisa mendekatinya jika aku belum menjadi seorang fotografer.”
“Hey… Kau seorang Brandon Wiliam. Penyanyi terkenal yang diidolakan para gadis. Pasti dia mau Kau dekati. Apa dia jual mahal padamu.”
Lagi-lagi Brandon menggeleng. “Dia tidak pernah jual mahal. Bahkan kami hanya pernah bertemu tiga kali. Meskipun terkadang aku mengamatinya dari jauh. Dari asumsiku, sebenarnya dia ingin sering menemuiku.”
“Lalu mengapa Kau tidak menemui saja? Dan kenapa Kau harus menjadi seorang fotografer untuk bisa mendekatinya?” Tanya Alex.
“Aku sudah berjanji padanya untuk menjadi seorang fotografer terkenal. Kata Bunda, janji adalah sebuah hutang dan harus dibayar. Aku dan dia sudah memiliki janji bahwa jika bertemu lagi aku harus menjadi fotografer terkenal dan dia harus memiliki sebuah impian.”
Alex memutar bola matanya. “Konyol. Itu janji terkonyol yang pernah aku dengar.”
“Konyol memang. Tapi sebuah janji tetaplah janji dan harus ditepati. Aku sudah dua kali melanggarnya. Dia masih mau menungguku satu tahun lagi.”
“Jadi, aku ingin menyelesaikan projectku sebagai Brandon Wiliam si penyanyi terkenal sebelum berganti menjadi Brandon Wiliam si fotografer terkenal. Itulah alasannya mengapa aku ingin berhenti.”
Alex bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mondar-mandir di depan Brandon. Salah satu tangannya memijat pelipisnya. Alex merasa pusing mendengar keinginan Brandon berhenti menjadi penyanyi.
Alex tiba-tiba berhenti dan memandang ke arah Brandon. “Tidak bisakah Kau tetap menjadi seorang penyanyi dan seorang fotografer?”
Brandon menggeleng. “Aku ingin fokus dalam satu hal Lex. Aku tidak ingin fokusku terpecah.”
“Kalau begitu, tidak bisakah Kau berbicara dengannya dan mengubah janji itu? Bukankah Kau menjadi terkenal juga sekarang walaupun hanya menjadi seorang penyanyi? Jika dia memang benar-benar menyukaimu pasti dia bisa memahami hal ini.”
“Ingat, aku belum bisa menemuinya sebelum aku menjadi fotografer.”
“Hey berbicara dengannya tidak harus bertatap muka dengannya bukan? Kau bisa menelfonnya dan memintanya mengerti tentang keadaanmu sekarang. Di luar sana banyak yang mengidolakanmu. Apa Kau tidak takut untuk membuat mereka kecewa?”
“Tetap saja aku tidak bisa. Begini saja. Setelah aku mengadakan pameran setahun lagi, aku akan membicarakan hal ini dengannya. Dan setelah itu kita bahas lagi rencana mengenai berhentinya aku menajdi seorang penyanyi.”
Alex mengangguk pelan. “Baiklah. Itu lebih baik dude. Oh ya tadi Kau mengatakan bahwa Kau ingin mengadakan pameran satu tahun lagi?”
Brandon menganguk. “Apa aku boleh membantumu. Ya bagaimanapun juga aku ini temanmu. Melihat dari ceritamu sepertinya Kau sangat mencintai gadis ini. Jadi aku akan membantumu untuk mengejar gadismu.”