
Jiana memandangi Mawar yang kini telah tidur terlelap di sampingnya. Sulit baginya untuk tidur terlelap seperti sahabatnya. Yang Jiana lakukan sedari tadi hanyalah berpura-pura tidur agar Mawar tidak mengetahui kegundahan hatinya.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya sehingga Jiana tidak bisa memejamkan matanya. Syal abu-abu itu. Ya syal abu-abu itu persis seperti syal yang Jiana berikan kepada Brandon dua belas tahun lalu. Jiana yakin itu bukan hanya syal yang persis melainkan syal yang sama. Jiana yakin dengan hal itu.
Syal abu-abu yang diberikannya kepada kakaknya adalah hasil dari keringat Jiana sendiri. Ia belajar merajut dan memberikan syal pertama yang dibuat dengan tangannya sendiri kepada kakaknya.
Bahkan Jiana memberi label khusus yang membedakan dengan syal lainnya. Tulisan kecil BW di sudut syal. Dan Jiana meihat hal itu di syal yang kini berada di almari Mawar.
Jiana mencoba menganalisi fakta-fakta yang muncul di depannya. Apakah syal itu benar-benar syal yang dulu Jiana berikan kepada kakaknya?
Jika memang benar, dari mana Mawar mendapatkan syal tersebut. Mawar mengatakan bahwa syal tersebut adalah syal pemberian Gray dua belas tahun lalu.
Lalu apa hubungannya Gray dengan kakaknya. Tidak mungkin bukan kakaknya memberikan syal itu kepada Gray?
Kakaknya mengatakan bahwa syalnya tersebut telah diberikan kepada seorang model cantik saat berkunjung ke Paris. Jiana ingat bahwa waktu itu Brandon ke Paris karena ingin melihat fashion show yang dibuat oleh ibu kandungnya.
Tunggu sebentar. Jiana mulai menyadari sesuatu. Paris. Ya, itulah kata kuncinya. Brandon menghilangkan syal tersebut di Paris, dan seingat Jiana, Mawar mendapatkan syal tersebut dari Gray juga di Paris.
Apakah kakaknya adalah Gray cinta pertama Mawar? Apakah model cantik yang dimaksud kakaknya itu adalah Mawar?
Ya kemungkinan ini tiba-tiba muncul dalam benak Jiana. Ia harus mencari tahu tentang kebenaran dugaannya ini. Meskipun sejauh ini analisisnya mengatakan bahwa kemungkinan yang ia pikirkan adalah benar.
Menanyakan langsung kepada kedua orang itu tentang dugaannya? Jiana tidak yakin dengan hal itu. Bisa dipastikan mereka berdua hanya akan mengelak mengenai fakta tersebut.
Dan lagi Jiana teringat akan janji konyol yang mereka buat. Ada satu pihak yang belum menepati janjinya.
Sekarang Jiana paham kenapa kakaknya itu mati-matian ingin menjadi seorang fotografer. Padahal, dia sudah menjadi seorang penyanyi terkenal bukan? Pendapatannya juga sudah terjamin, dan Brandon lebih memilih menjadi fotografer dari pada melanjutkan karirnya yang sedang naik daun itu.
Sebenarnya setahun yang lalu ketika Brandon mengutarakan niatnya untuk tinggal di Indonesia Jiana sangat senang. Namun ada sedikit kekecewaan karena mengetahui bahwa kakaknya akan vacum dari dunia yang membesarkan namanya karena ingin menjadi fotografer.
Saat itu Jiana pikir itu adalah tindakan konyol. Tapi sekarang ia tahu, apa yang kakaknya lakukan itu demi bisa memenuhi janjinya. Dan sepertinya Brandon ingin segera memenuhi janjinya agar dapat bertemu dengan gadis yang kini tertidur di samping Jiana.
Sepertinya kakaknya itu mencintai Mawar. Tidak mungkin bukan kakaknya rela melakukan itu semua demi orang asing yang baru ditemuinya jika bukan karena cinta.
Hanya cinta yang membuat orang melakukan tindakan bodoh. Seperti kakaknya yang dengan bodohnya melakukan tindakan yang bisa mempertaruhkan karirnya.
Jiana harus melakukan sesuatu. Setelah memastikan semuanya, Jiana ingin bisa mempersatukan kembali dua orang terdekatnya ini. Demi Tuhan, menurut Jiana dua orang itu saling mencintai dan tidak dapat bertemu hanya karena janji konyol itu.
Jiana tidak mau melihat tetapan bersalah kakaknya ketika bertemu dengan Mawar. Jangan dikira Jiana tidak mengetahui hal ini. Di acara barbecue beberapa waktu lalu Jiana melihat tatapan bersalah kakaknya.
Awalnya Jiana menganggap tatapan bersalah itu ditunjukkan kepada Jiana, karena selama ini Brandon melarang Jiana membawa temannya ke rumah. Tapi ternyata bukan.
Setelah mengetahui beberapa fakta baru Jiana tahu bukan itu alasan Brandon memeperlihatkan tatapan bersalah. Tatapan bersalah itu Brandon berikan karena ia merasa bersalah pada Mawar. Bertemu dengan Mawar di saat janjinya belum ditepati.
Jiana tidak mau hal itu terjadi. Jiana ingin jika kedua orang bertemu lagi hanya binar kebahagianlah yang terlihat.
Maka dari itu, mungkin kini giliran Jiana yang mengulurkan tangannya kepada kakaknya untuk membantu kakaknya meraih impiannya, dan tentunya menepati janjinya pada gadis masa kecilnya.
*****
“Mawar, apa Kau mau datang ke konser come back kakakku? Akhir pekan ini dia akan melaksanakan konser. Kau harus melihat penampilannya secara langsung.” Ucap Jiana yang kini duduk di kursi pantry menikmati sepiring nasi goreng yang dibuat Mawar untuk sarapan mereka.
“Akhir pekan ini? Aku tidak yakin bisa datang Ji. Aku berharap aku bisa datang ke konser itu dan melihat secara langsung penampilan kakakmu. Sayangnya aku tidak bisa melakukannya.”
“Kenapa?”
Mawar menggeleng pelan. “Aku ada agenda lain.” Ucap Mawar sembari mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya.
Lihat bukan, Mawar tengah mencari alasan untuk menghidari datang ke konser Brandon.
“Memang Kau ada agenda apa? Perkuliahan baru akan dimulai dua minggu lagi bukan? Jadi aku pikir Kau masih memiliki waktu luang untuk datang ke konser kakakku.”
“Aku memang ada agenda. Aku akan datang ke pernikahan sepupuku. Ya, ke pernikahan sepupuku, Kau ingat Alice? Dia akan melaksanakan resepesi akhir pekan ini. Jadi aku tidak bisa melihat konser kakakmu.”
Sebenarnya Mawar enggan datang ke acara resepsi sepupunya yang satu itu. Minggu lalu Mawar sudah menolak ajakan Mamanya untuk datang ke acara resepsi pernikahan sepupunya yang dilaksanakan di New York itu.
Alice, menurut Mawar ia adalah sepupu yang paling menyebalkan. Dia selalu saja mengganggu Mawar. Bahkan Alice pernah akan mengambil syal pemberian Brandon itu. Padahal Alice mengetahui bahwa syal tersebut adalah syal kesayangan Mawar.
Mawar terpaksa mengatakan kepada Jiana akan datang ke acara sepupu paling menyebalkan itu. Tidak ada kebohongan bukan? Resepsi itu memang dilakukan akhir pekan ini di New York. Jadi tidak ada kebohongan bukan, jika Mawar tiba-tiba berubah pikiran untuk datang ke resepsi itu?
“Benarkah?” Tanya Jiana seolah tidak percaya dengan ucapan Mawar.
Jiana tahu bahwa sebenarnya Mawar enggan datang ke acara sepupunya yang sering Mawar sebut sebagai sepupu paling menyebalkan. Anak dari adik ibu Mawar itu memang orang yang paling menyebalkan yang pernah Jiana lihat.
Jiana hanya pernah sekali bertemu dengan sepupunya Mawar itu ketika Alice datang ke Indonesia. Alice memang selama ini tinggal di Negara asal ayahnya, Amerika. Ia hanya sesekali datang ke Indonesia untuk liburan. Dan tentu saja tidak absen untuk menggangu Mawar.
“Ya aku akan datang. Semenyebalkan apapun Alice, dia tetap sepupuku bukan? Jadi aku akan datang ke resepsinya.”
“Kapan Kau berangkat?”
“Lusa. Ya aku akan berangkat lusa.” Jawab Mawar cepat.
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksamu. Apa Kau tidak mau menitipkan sesuatu kepada kakakku?”
Mawar sedikit kaget dengan pertanyaan Jiana. Apakah gadis itu sudah mencurigainya memiliki hubungan dengan Brandon? Apalagi setelah melihat syal abu-abu itu semalam. Bisa saja otak cerdas Jiana itu telah menyimpulkan sesuatu.
Melihat kebingungan Mawar, Jiana mencoba mengganti pertanyaannya. “Maksudku mungkin Kau ingin kakakku menandatangani sesuatu? Kau tidak berfikir aku mengatakan untuk Kau menitipkan hadiah untuk kakakku bukan?”
Mawar menggeleng. “Tidak. Bukan seperti itu Ji. Aku tidak ingin menitipkan sesuatu untuk di tanda tangani kakakmu. Sampaikan saja salamku padanya.”
“Juga permintaan maaf karena tidak bisa datang ke konsernya. Aku harap dia tidak terlalu memaksakan dirinya. Lebih baik melakukannya pelan-pelan dengan hasil yang memuaskan dari pada harus tergesa-gesa bukan.”
Jiana tersenyum. Ia mengetahui bahwa dibalik apa yang Mawar ucapkan barusan terselip sebuah pesan kepada Brandon. Mawar, gadis itu sudah tahu siapa kakaknya dan masih menunggunya.
Lalu tadi, Mawar seakan menitipkan pesan kepada Brandon melalui Jiana agar kakaknya tidak tergesa-gesa dalam memenuhi janjinya.
Jiana jadi teringat akan percakapan antara Mawar dan ayahnya. Satu tahun. Itu adalah waktu yang diberikan oleh Mawar untuk Brandon menepati janjinya. Sekarang semua sudah jelas. Semua ini telah menyakinkan Jiana tentang hubungan Mawar dengan kakaknya.
“Maksudku soal konsernya. Ingatkan kakakmu untuk menjaga kesehatannya.” Ah Jiana bisa mendengar nada kekhawatiran dari suara Mawar. Gadis ini benar-benar peduli pada Brandon.