
“Kau sudah siap?” ucap suara yang menghentikan Brandon yang tengah membetul jasnya. “Lima menit lagi kau akan naik ke panggung.”
“Baiklah Lex. Aku sudah siap. Apa semuanya baik-baik saja?”
Alex menganguk pelan. “Semua sudah beres. Kau tinggal naik ke panggung. Jangan lupa untuk menyapa penggemarmu.”
Brandon mengangguk tanpa memperhatikan Alex. Hari ini konser come backnya akan dilaksanakan. Sudah ada 300 orang penggemarnya yang menunggunya. Brandon yakin acara kali ini akan berhasil karena mengingat persiapan yang dilakukan timnya sudah sangat bagus.
Malam ini Brandon bukan hanya memperlihatkan diri setelah satu tahun menghilang tapi juga akan memberikan sebuah pengumuman penting bagi para penggemarnya.
Mungkin bagi penggemarnya di luar sana pengumuman ini akan mengguncang mereka. Brandon tahu benar mengenai hal itu. Maka dari itu, Brandon akan memberikan yang terbaik bagi para penggemarnya agar mereka tidak terlalu kecewa dengan apa yang akan Brandon sampaikan.
“Oke sekarang saatnya kau naik.” Ucap salah seorang kru yang menangani konsernya.
Brandon menganguk dan mulai melangahkan kakinya ke atas panggung. Suara riuh tepuk tangan dan teriakan namanya menyambut Brandon ketika dirinya menampakkan diri di atas panggung.
Ini adalah saat yang paling ia rindukan selama dirinya vacum dari kegiatan menyanyinya. Suara riuh yang membangkitkan semangatnya.
Kali ini Brandon ingin merekam adegan ini di dalam otaknya. Berharap jika suatu hari nanti dirinya merindukan saat-saat berada di atas panggung Brandon masih memilki kenangan itu. Brandon memberikan senyuman terbaiknya dan menyapa para penggemarnya itu.
“Hai, Grayscale.” Sapa Brandon kepada para Grayscale, penggemarnya. Hanya karena ia menyukai abu-abu membuat pemuda itu manamakan penggemarnya dengan sebutan Grayscale.
“Halo Brandon.” “Hai Handsome.” “Hello my future hubby.” Balasan demi balasan dapat Bradnon dengar dari penggermarnya.
Jika tidak salah dengar, ada yang menyapanya dengan sebutan ‘my future hubby?’ memangnya Brandon akan menikah dengannya? Tidak bukan? Dalam hatinya hanya ada satu orang dan Brandon yakin orang itu tidak ada di sini.
Lagi pula, kenapa penggemar perempuan selalu saja ada yang memiki pemikiran suatu saat nanti akan menikah dengan idolanya. Memang kemungkinan itu tetap saja ada meski sedikit.
Tapi jika idola mereka seperti Brandon tentu tidak bisa. Karena sebelum menjadi seorang penyanyi, Brandon telah memasrahkan hatinya pada seseorang.
“Sudah satu tahun aku tidak bertemu dengan kalian. Sangat lama bukan? I miss you so much Grayscale. Untuk menyambut kembalinya diriku, aku akan menyanyikan lagu kalian. My Grayscale.”
GRAYSCALE
Some people hate me
Some people love me
Some people say they are black and white
but I don’t
They are neither black nor white
I love both
Not black or white
They are one
who always support me
Support me their way
What do you want me to call them?
With pride I will call them my fans
Not black or white
combined will be gray
Not black or white
My fans
Grayscale
Brandon telah selesai menyanyikan lagu wajibnya ketika memulai konser. Brandon menyapukan pandangannya ke seluruh penggemarnya yang menunjukkan wajah bahagianya.
Lagi pula ada beberapa media yang melakukan peliputan pada konser come backnya ini bukan? Jadi pengumuman ini bisa tersebar dengan cepat bukan?
Jika Brandon tidak salah ingat, istilah yang sering dipakai orang Indonesia dalam hal ini adalah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Lebih praktis bukan?
“Malam ini ada salah satu pengumuman penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian, para Grayscale. Aku memilki sebuah cita-cita sejak kecil.”
“Ingin menjadi seorang fotografer terkenal layaknya ayahku. Tapi bisa kalian lihat bukan, jika aku bukan menjadi seorang fotografer terkenal. Aku menjadi seorang penyanyi. Yang selalu menghibur kalian.”
“Bukannya aku menyesal menjadi seorang penyanyi. Tidak, tidak sama sekali. Aku sangat bangga. Aku bisa berdiri di sini. Memandang kalian yang tersenyum kepadaku.”
“Aku bangga bisa membuat orang lain bahagia hanya dengan menyanyi. Tapi ini bukan cita-citaku. Sudah aku bilang bukan jika aku ingin menjadi fotografer?”
Brandon mengela nafas pandang kembali menyapukan pandangannya kepada para penggemarnya. Tidak lupa senyum merekah tetap menghiasi bibirnya. Sekilas, ia melirik ke arah manajernya yang terlihat tidak suka dengan apa yang akan Brandon ucapkan selanjutnya.
Brandon memang belum membicarakan tentang hal ini pada Alex. Alex tidak pernah mengetahui bahwa Brandon akan memberikan sebuah pengumuman setara dengan bom yang akan mengguncang perasaan penggemarnya.
“Sekarang, aku sedang mengejar mimpiku itu. Jadi yang ingin aku sampaikan adalah, aku akan berhenti menjadi penyanyi.”
“Aku akan berhenti menjadi penyanyi setelah aku menyelesaikan tour Eropaku. Jadi, terima kasih selama ini telah mendukungku. Terima kasih karena sampai saat ini kalian tetap bertahan menjadi Graysclae.”
Brandon dapat melihat beberapa mata penggemarnya basah akan air mata. Tapi mau bagaimana lagi? Ia ingin mereka tahu hal ini agar para penggemarnya itu tidak akan terlalu berharap besar pada Brandon setelah ini. Ia akan tetap berkarya. Tapi bukan sebagai penyanyi, melainkan fotografer.
*****
Alex tidak menyukai hal ini, meskipun Brandon ingin melakukan hal ini kenapa harus sekarang? Kenapa setelah keluar dari libur panjangnya?
Kenapa Brandon malah menjatuhkan harapan para penggemarnya disaat mereka baru bertemu kembali setelah satu tahun Brandon tidak muncul. Kenapa?
“Kau tahu, apa yang kau lakukan ini merusak segalanya Brandon. Tidak bisa kah kau menunggu dulu jika ingin memberitahukan hal ini kepada mereka? Bukankah kita sudah sepakat bahwa kau akan memikirkan hal ini setelah kau selesai melakukan pameran?”
Brandon mengela nafas panjang. Brandon sudah menduga bahwa menajernya itu akan memarahinya habis-habisan atas tindakannya itu.
Setelah menyelesaikan konsernya, Brandon berhadapan langsung dengan muka manajernya yang memerah menahan amarah. Lalu sampai sekarang setelah setengah jam konser telah berlalu pun wajah Alex masih memerah.
“Aku hanya tidak mau mereka terlalu berharap kepadaku Alex. Kau tahu bukan aku akan berhenti menjadi penyanyi.”
“Jika aku tidak memberitahu mereka sekarang mereka akan terlalu berharap banyak padaku. Aku tidak mau itu. Lebih baik aku mengecewakan mereka sekarang dari pada terus memberi harapan palsu.”
Alex mengerang frustasi. “Kau bisa membicarakan hal ini padaku. Tidak seperti ini Brandon. Jika mereka berhenti menyukaimu bagaimana dengan tour Eropamu? Apa kau tidak memikirkan hal itu?”
“Para promotor bisa merugi jika penonton di konsermu tidak sesuai ekspetasi mereka. Kau tahu itu kan?”
“Aku sudah memikirkan ini masak-masak. Mereka pasti akan tetap menonton konserku. Bukankah jika mereka benar-benar penggemarku mereka akan tetap menonton konserku?”
“Apalagi mungkin itu adalah konser terakhirku sebelum aku berhenti menjadi penyanyi? Itu tidak akan merubah jumlah penonton.”
Alex mengangkat tangannya ke atas dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. “Hanya karena seorang wanita kau rela berkorban seperti ini? Kau itu bodoh Brandon. Mau saja kau dibodohi dan dimanfaatkan gadis itu.”
“Belum tentu juga dia menyukaimu. Lalu apa yang kau katakan? Dia memberimu waktu satu tahun untuk menepati janjimu? Heh…” Alex mendengus pelan.
“Dia hanya ingin menghancurkan karirmu. Atau jangan-jangan dia hanya gadis yang gila akan popularitas sehingga dia ingin bersamamu ketika tahu bahwa kau adalah penyanyi terkenal. Dengan cara ini dia bisa mengontrolmu.”
“Brandon jangan pernah kau dibutakan oleh cinta. Gadis itu tidak mencintaimu.” Teriak Alex kesal.
Brandon geram dengan ucapan manajernya. Sedari tadi dia menahan emosinya mendengar Alex menjelek-jelekkan Mawar. Tapi semakin lama dibiarkan, perkataan Alex sangat mengganggunya. Brandon yakin semua tuduhan yang dilontarkan oleh Alex mengenai Mawar sama sekali tidak benar.
Mawar tidak memanfaatkannya. Jika benar mawar memanfaatkannya, pasti sekarang ini gadis itu akan meminta Brandon melupakan janjinya dan menjadikan gadis itu kekasihnya. Tapi nyatanya Mawar tidak melakukannya bukan?
Meski Brandon belum mengetahui apakah perasaannya ini bertepuk sebelah tangan atau tidak, tapi Brandon yakin perasaannya akan terbalas suatu hari nanti.
Buktinya Mawar masih mengingat janji mereka dan memberi Brandon kesempatan untuk menepati janjinya meski dirinya telah dua kali mengingkari janjinya. Brandon yakin hal tersebut menunjukkan bahwa masih ada harapan baginya agar Mawar bisa menyukainya.
“Dia tidak seperti yang kau pikirkan Alex. Jika semua yang kau katakan itu benar, maka saat ini dia pasti ada di sampingku dan mengatur segalanya. Seperti yang kau katakan, mengontrolku.”
“Tapi dia tidak ada di sini bukan? Dia juga tidak pernah memintaku berhenti dari pekerjaanku saat ini. Ini keputusanku. Jangan salahkan orang lain atas keputusan yang aku ambil.”
Setelah berkata demikian, Brandon berdiri dan meninggalkan Alex yang masih memandanginya dengan tatapan penuh amarah.