
“Tetaplah di sini bersamaku.” Brandon memegang tangan Mawar ketika hendak memasuki aula.
“Kenapa Kau menahanku? Bukan kah Kau juga ingin masuk ke aula?” Aneh. Pikir Mawar.
“Kita tunggu Jiana di sini. Tadi aku sudah mengirim sms kepadanya, memintanya untuk keluar sebentar bersama Thomas.”
Mata Mawar melebar mendengar ucapan Brandon barusan. “Kalau Kau ingin bertemu dengan adikmu dan Thomas kenapa Kau menahanku di sini?”
Mawar mulai kesal dengan Brandon. Bukankah laki-laki itu tahu bahwa Mawar telah melakukan kesalahan dengan bicara mengenai hal-hal yang tidak seharusnya ia katakana kepada Thomas, dan sekarang kenapa laki-laki ini ingin Mawar ada di sini jika laki-laki itu ingin bertemu dengan Thomas.
Mawar tahu apa yang dikatakannya itu salah, dan ia akan meminta maaf tentang hal itu. Tapi tidak sekarang. Bagaimanapun juga ia masih kesal melihat Thomas, sekarang satu-satunya orang yang mengerti benar tentang permasalahan ini bukan malah membantunya malah menambah kekesalannya.
Brandon tahu arah pemikiran Mawar sekarang. Pasti gadis itu khawatir jika bertemu dengan Thomas. Apalagi tentang apa yang sudah dikatakan oleh gadis itu kepada pacar adiknya.
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku akan membantumu? Ini dia caranya. Kau adalah orang pertama yang aku tahu kesal dengan tindakan Thomas bukan? Jadi Kau pantas menjadi orang pertama yang menerima permintaan maaf darinya.”
“Tapi… aku belum siap jika berhadapan langsung dengan Thom. You know, ini tentang apa yang aku katakan tadi. Pasti dia sekarang tidak menyukaiku karena perkataanku.” Ucap Mawar dengan suara yang semakin mengecil.
See. Benar bukan yang Brandon pikirkan. Brandon menghembuskan nafas perlahan.
“Sudah aku bilang. Aku rasa Kau tidak terlalu salah dengan hal ini. Ini semua adalah konsekuensi yang harus Thomas terima. Dia tidak memikirkan perasaan gadis lain yang menyukainya. Jadi wajar saja ada yang cemburu dan berkata seperti itu.”
Mawar menyipitkan matanya dan memandang Brandon. “Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu pada mereka.”
Brandon tertawa. Melihat ekspresi lucu seperti itu siapa juga yang tidak akan tertawa. “Kenapa Kau tertawa? Kau sedang menertawakanku ya?”
Brandon mengangkat sebelah tangannya. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk menertawakanmu. Tapi ekspresimu mengelakmu itu sungguh lucu. Membuatku tidak bisa menahan tawa. Aku tidak pernah mengatakan Kau cemburu. Tapi semuanya telah menjawab hal tersebut. Kau tadi mengelak bukan.”
Mawar memalingkan pandangannya dan mengerucutkan bibirnya. Orang disampingnya ini telah membuat rasa kesalnya bertambah. Sebuat kilatan cahaya kembali terlihat.
“Kau, kenapa Kau memotretku lagi. Apa Kau memiliki hobi untuk membuat orang kesal? Jika benar maka Kau telah berhasil.”
Brandon memegang perutnya untuk menahan tawanya. “Kau seharusnya melihat ekspresimu. Kau tidak akan melihat bagaimana ekspresi kesalmu yang terlihat lucu itu. Aku ingin mengabadikannya untuk memperlihatkannya padamu.”
Brandon segera mengamankan kameranya. Takut benda kesayangnnya itu menjadi korban kekesalan Mawar. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang gadis ketika mereka kesal bukan?
“Kau harus menghapus semua foto itu. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu….”
“Melaporkan kakakku? Melaporkan apa Mawar?”
Sebuah suara memotong pembicaraan Mawar bersama Brandon. Jiana berdiri bersama Thomas tidak jauh dari tempat Mawar berdiri.
“Mawar sedang apa Kau di sini dengan kakakku? Apa kalian saling mengenal sebelumnya?” Tanya Jiana ketika melihat interaksi antara Mawar dan kakaknya yang cukup dekat.
Melihat kedatangan Jiana dan Thomas, Brandon ingin segera melakukan rencananya.
“Hi Ji. Kau sudah di sini rupaya. Aku baru saja berkenalan secara resmi dengan Mawar beberapa saat yang lalu.” Benar bukan jika Brandon mengatakan hal ini. Meski telah lama mengenal Mawar, bukankah baru malam ini mereka resmi berkenalan.
“Aku sudah menemukan orang ‘itu’.” Brandon mengangkat sebelah tangannya sambil lalu untuk menunjuk ke arah Mawar. “You know, yang kita bicarakan tadi siang.”
“Maafkan aku mengenai kejadian tadi pagi Mawar. Sungguh aku tidak bermaksud demikian.”
“Tunggu.” Thomas yang sedari tadi diam mulai mengeluarkan suaranya. “Apa maksudnya semua ini? Aku tidak mengerti.” Thomas menggelengkan kepalanya pelan.
Jiana memandang Thomas “Ini mengenai kejadian tadi pagi Thom. Ketika Kau menyatakan cintamu kepadaku.”
Thomas segera menatap tajam ke arah Mawar. “Oh Mawar. Sekarang apa lagi yang akan Kau lakukan? Kau bahkan mengajak Brandon datang kemari.” Ucap Thomas dingin.
“Apa Kau akan mengatakan bahwa laki-laki ini pacar Jiana? Dia itu kakak Jiana bukan pacarnya. Jadi aku tidak akan putus dengan Jiana hanya karena dia datang kemari dengan kakaknya bukan denganku.” Imbuh Thomas penuh dengan sarkasme.
Jiana mengalihakan pandangannya dari Thomas ke Mawar kemudian kembali lagi ke Thomas. “Sekarang aku yang tidak mengerti sebenarnya apa yang barusan Kau katakana Thom.”
Brandon yang sedari tadi mengamati mendekat ke arah adiknya. Ia meletakkan sebelah tangannya ke pundak adiknya. Membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke Brandon.
“Biar aku yang menangani Ji.” ucap Brandon sembari mengangguk pelan. “Thom, Kau seharusnya tidak bicara seperti itu pada Mawar.”
“What? Kenapa sekarang aku menjadi pihak yang salah?”
Raut kesal terlihat jelas di wajah Thomas sekarang. Ia tidak suka tiba-tiba Brandon membela Mawar. Tidak setelah apa yang gadis itu katakan padanya beberapa saat lalu.
“Dengarkan dulu penjelasanku. Ini semua terjadi juga juga karena akibat dari perbuatanmu sendiri.”
Thomas menggeleng.
‘Karena ulahku? Memang apa salahku? Bukannya Mawar yang telah mengucapkan kata yang salah. Kenapa jadi aku yang salah? Apa jangan-jangan gadis itu mengadu pada Brandon? Tapi tidak mungkin. Kurasa mereka tidak saling kenal. Tapi jika mereka tidak saling kenal, kenapa mereka bisa ada di sini bersama?’ Dalam benaknya, Thomas mencoba mencerna kejadian di depannya.
“Oh… Mawar jangan bilang Kau mengadu pada Brandon?”
Mendengar ucapan itu Mawar membelalakan matanya, kaget.
“Thom aku tidak bermaksud mengadu. Dia yang memintaku untuk menceritakan semua” tangan mawar menunjuk ke arah Brandon.
“Oke apa yang tadi aku katakan padamu itu tadi salah. Aku minta maaf soal itu. Aku mengatakan itu karena kesal padamu.”
“Kesal padaku? Apa maksudmu?”
Melihat keadaan yang semakin memanas Brandon berinisiatif untuk menangahi.
“Thom, bukankah sudah kubilang ini semua ini semua terjadi juga karena akibat dari perbuatanmu sendiri. Secara tidak langsung Kau juga menyeret adikku ke dalam masalah ini dan aku tidak suka. Dengarkan dulu penjelasanku sampai akhir.” Ucap Brandon ketika melihat Thomas akan menyela perkataannya.
“Kau adalah cowok populer di sekolah ini. Banyak gadis yang menyukaimu. Dan bisa saja ada orang yang menyukaimu. Dan apakah Kau tidak sadar bahwa dengan Kau menyatakan perasaanmu untuk adikku di depan semua orang maka akan ada orang yang tersakiti.”
“Membuat adikku terkesan bisa dilakukan dengan banyak cara. Pasti di dalam aula sana ada gadis yang patah hati. Apa Kau pernah berfikir untuk sekali saja memikirkan perasaan orang lain?”
"Kalau Kau tidak memikirkan perasaan orang lain di sekitarmu apakah nanti Kau akan memikirkan perasaan adikku jika akan melakukan sesuatu? Kau tahu, tidak seharusnya Kau menyakiti perasaan wanita. Aku harap Kau bisa memperbaiki semua ini sendiri."