Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Kecurigaan Jiana



Ketika memasuki kamar Mawar, Jiana melihat perabotan sudah tertata rapi di sana. Tidak ada sampah berserakan atau sampah lainnya di sana. Semua bersih. Yang terlihat sedikit berantakan hanya ranjang Mawar.


Di ranjang temannya itu, Jiana bisa melihat sebuah koper besar yang baru saja dibuka. Sebagian baju sudah di taruh di lemari pakaian, sedangkan yang lain masih tertata rapi di dalam koper.


Kamar seperti ini tidak pantas disebut sebagai kamar berantakan. Maka dari benar adanya jika Jiana menyatakan bahwa kamarnya adalah sebuah kapal pecah jika yang seperti ini saja sudah disebut berantakan.


"Seperti ini Kau bilang berantakan? Lihat hanya ada koper terbuka penuh dengan pakaian di atas ranjangmu sudah Kau anggap berantakan."


Jiana membalikkan tubuhnya dan memandang Mawar yang kini tengah berdiri di belakangnya. Kedua telapak tangannya ia letakkan di pinggangnya. Pose berkacak pinggang ini Jiana tunjukkan sebagai protesnya atas pernyataan Mawar tadi.


"Isi koperku yang sangat berantakan bukan kamarku." Ucap Mawar sembari menyeringai.


"Baiklah mari kita lihat seberapa berantakan isi kopermu itu." Jiana mendekati ranjang Mawar.


"Tidak terlalu buruk. Oh tunggu apa ini?" Jiana mengambil sebuah syal berwarna abu-abu dari dalam koper Mawar.


"Ada apa?" Tanya Mawar heran.


"Ini lihatlah apa yang sudah aku temukan di dalam kopermu." Ucap Jiana sembari menenteng syal yang baru saja ia ambil. "Dari mana Kau mendapatkan benda ini?"


Mawar memandang syal yang dibawa oleh Jiana. Syal itu adalah syal pemberian Brandon dua belas tahun silam. Satu-satunya benda yang akan mengingatkannya kepada sosok cinta pertamanya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Mawar sembari sedikit memiringkan kepalanya.


“Syal ini mengingatkanku pada syal yang aku berikan kepada kakakku untuk ulang tahunnya. Padahal aku harus menabung banyak untuk dapat membeli syal tersebut. Syal ini sama peris seperti syal pemeberianku itu.”


Terdengar nada kekecewaan dari suara Jiana. Gadis itu menabung cukup lama untuk membelikan syal yang pada akhirnya dihilangkan oleh kakaknya. Jelas Jiana kecewa.


Ia menganggap Kakaknya itu tidak menghargai pemeberiannya waktu itu. Dulu Jiana marah besar kepada Brandon karena hal ini. Namun, atas bujuk rayu dari Sean, akhirnya Jiana mau memaafkan Brandon.


Mawar kaget mendengar ucapan Jiana. Syal milik Brandon itu sebenarnya hadiah ulang tahun dari Jiana? Mawar yakin Jiana kecewa karena mengetahui bahwa syal pemberiannya itu tidak lagi berada di tangan kakaknya.


"Benarkah? Dari suaramu sepertinya syal itu tidak lagi berada di tangan kakakmu.” Jiana mengangguk pelan. “Lalu dimana syal pemberianmu itu?”


Walaupun sudah mengetahui tentang keberadaan syal tersebut, Mawar masih ingin mendengar penjelasan dari Jiana. Apa yang sudah dikatakan Brandon padanya terkait hilangnya syal pemberiannya itu.


Jiana berjalan ke arah kursi kecil di meja rias Mawar. Ia pun menduduki kursi tersebut dan menopangkan sikunya ke paha.


"Kakakku menghilangkannya. Sebenarnya tidak menghilangkannya, tapi memberikan syal milikku pada orang lain. Waktu itu dia sedang ke Paris untuk menemui ibunya di sebuah acara pameran busana. Coba tebak siapa yang sudah diberi syal kesayanganku oleh kak Brandon?"


Mawar menggeleng. Ia tidak tahu alasan apa yang Brandon berikan kepada Jiana mengenai hilangnya syal tersebut. Yang jelas syal tersebut ada padanya sekarang.


"Dia bilang, dia memberikannya kepada seorang model cantik yang memakai jaket tipis di musim dingin. Karena kasihan dia memberikannya pada model itu. Aku tidak tahu kenapa kakakku melakukannya. Yang jelas aku sangat kecewa sekali waktu itu."


Cantik? Brandon menyebutnya cantik? Walaupun beberapa orang memang pernah memujinya cantik entah mengapa berbeda jika Brandon lah yang memujinya seperti itu. Entah mengapa Mawar merasakan pipinya mulai memanas.


“Seharusnya Kakakku tidak memeberikannya kepada model itu. Sudah tahu berada di tempat bersalju, masih saja memakai jaket tipis. Biarkan saja model itu kedinginan.” Ucap Jiana sebal.


“Mawar Kau tidak apa-apa?”


“Ehm… memangnya kenapa? Aku baik-baik saja.” Jawab Mawar cepat.


“Pipimu memerah.” Reflek Mawar mengangakat tangannya dan menutupi kedua pipinya. “Pipimu semakin memerah. Kau kenapa? Seperti orang yang tengah malu. Tapi apa yang membuatmu malu? Ceritaku saja tidak berkaitan denganmu.”


Mawar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“Aku baik-baik saja Miss Wynn. Mungkin aku hanya sedikit kelelahan.”


Mawar melihat sekarang giliran pipi Jiana yang bersemu merah. Mawar yakin sebentar lagi Jiana akan mengomelinya untuk yang kesekian kalinya.


“Aku tidak akan mengomel Mawar. Aku mengetahui Kau pasti pikir bahwa aku akan mengomel karena Kau sekali lagi memanggilku Miss Wynn. Aku dan Kau sudah mengetahui mengapa pipiku bersemu merah. Sedangkan Kau? Ada apa denganmu Mawar?”


Mawar melupakan satu hal. Jiana memiliki analisis yang bagus. Dia bisa dengan cepat menarik sebuah kesimpulan yang tepat dari beberapa fakta kecil yang ada. Seperti sekarang ini.


Sepertinya Jiana sedang mencurigai sesuatu tentang dirinya. Benarkah itu? Jika benar, apakah Mawar akan menceritakan semuanya ataukah menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. Mawar belum yakin dengan hal itu.


“Bukankah aku tadi sudah mengatakan padamu Ji? Aku sedikit kelelahan.” Kilah Mawar.


“Ada yang lain Mawar, aku tahu itu. Kau pasti menyembunyikan sesuatu.”


Terbesit sebuah ide untuk mengelak dari Jiana tentang masalah pipinya yang bersemu merah ketika mendengar cerita Jiana.


“Aku hanya teringat akan Gray. Iya Gray. Kau tahu, syal itu adalah syal pemberiannya.”


Jiana mengalihkan pandangannya dari Mawar ke arah syal abu-abu yang masih berada di tangannya. “Jadi ini syal legendaris itu? Syal yang mempertemukanmu dengan cinta pertamamu?” Mawar menganguk pelan. “Jadi bagaimana perasaanmu padanya? Apa Kau masih menunggunya.”


Mawar berjalan ke arah jendela yang ada di kamarnya. Pandangannya menerawang ke luar. Melihat kerlap-kerlip lampu yang menemani suasana malam di London.


“Aku masih menunggunya. Aku rasa satu tahun lagi aku akan bertemu lagi dengannya.”


“Oh ya. Benarkah itu?”


Mawar mengangguk pelan. Pandanganya tetap tidak beralih dari jendela ketika berbicara dengan Jiana.


“Ya. Takdir akan memepertemukan kembali kami. Seperti yang dia katakan. Jadi tidak akan sulit jika harus menunggunya satu tahun lagi.”


“Kau masih setia dengannya? Apa Kau masih mencintainya.”


Mawar mengalihkan pandangannya ke arah Jiana yang kini tengah berjalan ke arahnya. “Sepertinya begitu. Dan yang soal Thomas kemarin sepertinya aku hanya mengaguminya.”


“Tidak ada cinta yang aku rasakan ketika aku mengagumi Thomas. Sekali lagi aku meminta maaf untuk kejadian yang waktu itu Ji.”


Jiana menepuk pelan pundak Mawar. “Sudahlah lupakan hal itu. Yang sudah berlalu jangan Kau ingat kembali.” Mawar hanya mengangguk pelan mendengar penuturan Jiana.