
Ini kedua kalinya bagi Mawar menginjakkan kaki di rumah ini. Mawar menyukai arsitektur rumah ini. Dengan cat berwarna putih gading membuat rumah ini terlihat lebih hangat. Dari fasad depan rumah ini sudah memperlihatkan bahwa ini adalah rumah bergaya Scandinavian.
Rumah ini adalah saksi bisu terungkapnya misteri keberadaan pahlawan masa kecilnya, Gray oh tidak sebaiknya Mawar membiasakan dirinya memanggil pahlawannya dengan nama aslinya, Brandon. Brandon Wiliam.
Mawar baru saja akan menekan bel rumah tersebut ketika pintunya tiba-tiba terbuka. Keluar dari sana sesosok wanita berumur empat puluhan berdiri di sana. Dengan rambut ikal sebahu serta mata yang berwarna coklat gelap yang kini menatapnya dengan tatapan berbinar-binar.
“Oh, Nak Mawar. Ternyata udah dateng ya. Tante udah nunggu loh. Kata Jiana kamu akan ikut makan siang bareng kita.” Sapa wanita tersebut dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
Mawar mendekat untuk mencium tangan wanita tersebut. “Iya tante Desy. Ini tadi pudding dari cake shop mama.”
Ibu dari Mawar memang memiliki usaha cake shop yang cukup terkenal di Jakarta. Cabangnya sudah ada di beberapa tempat. Bahkan sekarang sudah mulai membuka cabang di luar Jakarta.
Desy menerima uluran bungkusan dari Mawar. “Ah Mawar kenapa repot-repot gini. Tante jadi nggak enak. Kamu kan jarang main ke sini. Sekalinya main eh udah dibawain pudding kayak gini.”
Mawar tersenyum lebar mendengar ucapan Desy. “Nggak papa tante. Beberapa hari yang lalu juga saya sudah ke sini. Pesta bakar-bakar sama Jiana. Tapi kata Ji tante dan om lagi keluar kota.”
“Iya. Tante lagi nemenin suami ke Bandung. Ada pameran foto. Ah ya, tante hampir lupa, ayo masuk. Jiana udah nunggu kita di ruang makan.”
Desy lalu menggeser tubuhnya yang menghalangi tubuhnya agar Mawar lebih leluasa bisa masuk.
Mawar mengikuti langkah Desy untuk pergi ke ruang makan. Di ruang makan sudah ada Sean ayah Jiana yang tengah membantu Jiana menyiapkan piring di meja makan.
“Hai Uncle Sean. Hai Ji. Apa ada yang bisa aku bantu?”
Sean menghentikan aktifitasnya dan memandang Mawar sejenak.
“Oh hai, Kau pasti Mawar teman Jiana.” Kini tatapan Sean menelisik Mawar dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kau terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatmu.”
“Kita sudah lama tidak bertemu Uncle. Bagaimana kabar Uncle sekarang?”
Sean mengibaskan tangannya di depan tubuhnya. “Seperti yang Kau lihat sekarang. Masih sehat. Bagaimana dengan keluargamu?” Tanya Sean balik.
Mawar mengangguk pelan. “Mereka baik. Keluargaku menitipkan salam untuk Ucle Sean dan Tante Dessy.”
“Sampaikan salam balik dari kami Mawar.” Jawab Dessy.
“Jadi apa ada yang bisa kubantu?”
“Tidak perlu Mawar, Kau tamu di sini.” Jawab Jiana. “Duduk lah, semunya sudah siap. Mari kita mulai makan siang kali ini.”
Makan siang kali ini berjalan hening. Mawar tahu kebiasaan keluarga Wiliam ketika makan. Mereka akan diam dan menikmati makanannya. Ini adalah bentuk mereka menghargai makanan yang mereka santap. Jiana pernah mengatakan hal ini padanya.
Setelah makan siang berakhir, Sean mengajak Jiana dan Mawar untuk berbincang di teras belakang rumah.
“Ya Uncle. Aku mengambil jurusan arsitek. Rencananya awal bulan depan aku akan berangkat ke London. Mama sudah membeli sebuah apartemen di sana. Aku harus menatanya dulu sebelum menempatinya.”
“Hmm… Uncle ingin menitipkan Jiana padamu. Kau bantu Uncle untuk mengawasi anak manja ini.” ucap Sean sembari mengelus kepala putrinya yang kini berada di sampingnya.
Jiana memukul lengan ayahnya pelan. “Daddy. Apa yang Kau lakukan? Jangan mempermalukan aku di depan temanku.”
“Tapi Kau memang putri Daddy yang paling manja bukan? Bahkan Jasmine saja tidak semanja dirimu. Apalagi dengan Brandon, Kau pasti akan menempel terus padanya. Bahkan Kau ingin kuliah ke London karena ingin tinggal bersama lagi dengannya bukan?”
Jiana merasakan pipinya mulai memanas. Mungkin ayahnya dan Mawar melihat pipi Jiana yang berubah menjadi kemerahan.
“Ah Daddy jangan mempermalukan aku lagi. Aku memang ingin kuliah di London. Lagi pula Thomas juga kuliah di London.” Jiana mulai menutupi kedua pipinya dengan telapak tangannya.
Melihat sisi Jiana yang seperti ini membuat Mawar tertawa. Ia tidak menyangka bahwa sosok Jiana yang terkenal kalem dan anggun itu bisa bersikap seperti ini. “Kau juga Mawar berhentilah menertawakanku. Ah, andai saja Kak Brandon ada pasti dia akan membelaku.”
Apa Brandon tidak ada di rumahnya? Memangnya pergi kemana laki-laki itu. Pikir Mawar. “Memangnya kakakmu kemana Ji?”
“Oh dia baru saja kembali ke London. Ketika Kau menelfonku tadi, aku baru sampai di rumah setelah mengantarnya ke Bandara.” O
h… Brandon tidak ada di sini? Jadi untuk apa Mawar datang ke sini. Rencana Mawar akan gagal jika laki-laki itu tidak ada di sini. Apa yang harus Mawar lakukan.
Jiana melihat perubahan wajah Mawar. Sepertinya dia terlihat memikirkan sesuatu ketika mengetahui jika kakaknya telah kembali ke London.
“Apa Kau ingin mengatakan sesuatu padanya Mawar?”
Mawar menggeleng dengan cepat. “Tidak… tidak ada yang ingin aku katakan pada Brandon.”
Terlalu cepat. Terlalu cepat menjawab seperti itu bukannya menandakan bahwa orang tersebut sedang mengelak sesuatu bukan? Apa Mawar tengah menyembunyikan sesuatu? Apa ini tentang kakaknya?
Ah ya, setelah malam pesta kelulusan Brandon berubah. Lalu kemarin ketika barbecue party Jiana melihat temannya itu sering kedapatan memandangi kakaknya. Apa terjadi sesuatu diantara mereka? Pasti terjadi sesuatu. Jiana harus menyelidiki hal ini.
“Kau tidak perlu khawatir Mawar. Aku sudah mengetahui semuanya. Tidak sampai satu tahun anakku itu akan membayar hutangnya. Dia sekarang sedang berusaha membayar hutangnya. Jadi Kau hanya perlu menunggu Brandon melunasi hutangnya.”
Hutang? Kenapa ayahnya berbicara seperti itu? Apakah kakaknya memiliki hutang pada seseorang? Uang kakaknya banyak jadi tidak mungkin kakaknya harus berutang dan sampai perlu berusaha keras membayar hutangnya bukan?
Hei kakaknya adalah seorang penyanyi terkenal. Jadi wajar jika dia punya banyak uang. Jadi kepada siapa kakaknya berhutang? Dan apa hubungannya dengan Mawar.
“Benarkah uncle. Aku senang mendengarnya. Ternyata dia tidak lupa dengan hutangnya. Aku mendapat pesan dari si penagih hutang.”
Senyum lebar terlihat jelas menghiasi bibir Mawar. Gadis itu yang terlihat menampakkan sulas senyum terpaksa, kini sudah menampakkan senyum ikhlas. Ia semakin terlihat cantik ketika tersenyum seperti itu.
“Katakan padanya bahwa si penagih hutang akan datang padanya satu tahun lagi dan akan langsung memukul kepalanya. Itu akan menjadi hukuman baginya. Dia sudah terlalu lama menunggak untuk membayar hutangnya."
Oh lihatlah, sekarang tatapan Mawar tengah berbinar-binar. Sepertinya gadis itu terlihat senang. Jiana semakin bingung dengan hal ini. apalagi dengan ucapan Mawar barusan. Ia harus mencari tahu mengenai hal ini. Ya harus.