
Mawar merebahkan tubuhnya ke ranjangnya. Ia sudah berhasil melewati pesta kelulusan dengan lancar. Walaupun ada sedikit masalah di awal, tapi semua bisa diselesaikan dengan mudah sejak laki-laki bernama Brandon itu muncul.
Brandon menasehati Thomas seperti yang dikatakannya pada Mawar. Mawar juga ingat betul kalimat yang diucapkan laki-laki itu yang membuat Thomas meminta maaf padanya. Bahkan Thomas naik ke atas panggung meminta maaf pada semua orang yang mungkin terluka karena kejadian tadi pagi.
Banyak teman perempuan Mawar yang kagum dengan sikap Thomas yang meminta maaf pada semua orang. Namun hanya Mawar yang tahu siapa yang seharusnya benar-benar dikagumi. Dia adalah Brandon.
Tadi hanya Mawar dan Jiana yang mengetahui kejadian Thomas dinasehati oleh Brandon. Jadi, tidak banyak yang tahu kejadian sebenarnya.
"Kalau Kau tidak memikirkan perasaan orang lain di sekitarmu apakah nanti Kau akan memikirkan perasaan adikku jika akan melakukan sesuatu? Kau tahu, tidak seharusnya Kau menyakiti perasaan wanita. Aku harap Kau bisa memperbaiki semua ini sendiri." Ucap Brandon waktu itu.
Setelah Brandon menasehati Thomas dia berpamitan pulang. Dia merasa bahwa urusannya telah selesai.
Sekarang Mawar bisa bernafas lega karena sepertinya Thomas tidak membencinya dan memahami keadaan ini. Ia tidak bisa membayangkan jika dia dibenci oleh salah satu teman baiknya.
"Mawar lo di dalem kan?" Suara Rendi terdengar dari balik pintu kamarnya. "Gue mau ngomong sesuatu nih ke lo. Boleh masuk nggak?"
Mawar bangkit dan duduk bersila di ranjangnya.
"Masuk aja Ren, nggak gue kunci kok." Rendi masuk ke kamar Mawar sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana. Ia memilih duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang Mawar. Sepertinya Rendi akan menuntut penjelasan Mawar atas kejadian di aula tadi.
"Gue tahu lo ke sini mau ngomong apa." Mawar mulai membuka percakapan. "Jadi penjelasan apa yang lo perluin dari gue."
"Kenapa lo nggak pernah cerita ke gue sih kalo lo suka ama Thomas? Kalo lo bilang ke gue, seenggaknya gue nggak bantuin Thomas buat nyari info tentang Jiana." Rendi menopangkan kedua sikunya ke paha dan menakup wajahnya dengan tangan.
"Maaf Ren. Selama ini gue nyembunyiin ini dari lo. Tapi semua masalah ini udah selesai kok. Kami udah saling meminta maaf.”
“Mungkin gue masih agak canggung kalo ketemu Thomas atahupun Jiana. Tapi seenggaknya mereka nggak ngebenci gue kan? Gue baik-baik aja kok Ren. Jadi lo jangan khawatir kayak gitu."
Mawar tahu sepupunya ini sangat peduli dengannya. Sejak kecil mereka memang tumbuh bersama. Jadi tidak aneh jika Rendi sangat mengkhawatirkannya.
Bahkan Rendi lebih memilih tinggal bersama dengan orang tua Mawar di Indonesia dari pada dengan orang tuanya di Prancis. Rendi merasa Indonesia lebih terlihat seperti rumahnya sendiri dari pada Prancis, negara tempat ia dilahirkan.
Sejak kecil, Rendi selalu terbuka dengan Mawar. Namun sebaliknya Mawar masih punya banyak rahasia yang ia sembunyikan dari siapapun. Hal itulah yang membuat Rendi selalu mengkhawatirkan Mawar. Apakah gadis itu juga bisa menyelesaikan masalah yang ia sembunyikan dari Rendi?
"Apa masih ada hal lain yang lo sembunyiin dari gue? Mawar, lo nggak harus nyelesaiin semua masalah lo sendirian. Terkadang lo masih butuh bantuan orang lain buat ngasih lo solusi. Jadi sesekali lo harus terbuka ama orang lain."
Ini nasihat kedua yang Mawar terima hari ini. Nasihat yang sama yang meminta dirinya untuk sedikit terbuka dengan orang lain.
Rendi mendesah pelan. Ia bangkit dan menghampiri sepupunya. "Baiklah, lo mesti inget bahwa lo masih punya gue yang akan selalu ngedengerin keluh kesah lo. Jadi, jangan pernah sungkan untuk minta bantuan gue."
Mawar mengangguk pelan. "Gue ngerti kok lo khawatir ama gue. Tapi masalah yang tadi udah beres kok. Tadi kakaknya Jiana yang ngebantuin gue buat nyelesaiin masalah ini. Dia udah bicara ama Thomas, yang ngebuat Thomas mau maafin gue. Jadi lo jangan khawatir lagi. Semua udah beres."
"Iya kakaknya yang fotografer itu." Bicara mengenai Brandon, Mawar baru sadar bahwa dirinya belum meminta laki-laki itu untuk menghapus fotonya. Tadi Mawar memang berniat meminta Brandon menghapus fotonya namun laki-laki itu sudah terlebih dahulu memasukkan kameranya ke dalam tas.
Mawar tidak yakin bahwa fotonya akan terlihat bagus karena tadi Mawar yakin ekspresinya terlihat buruk. Mungkin jika Mawar bertemu laki-laki itu lagi ia akan meminta Brandon menghapus fotonya.
"Lo bilang tadi lo ketemu kakaknya Jiana?" Mawar mengangguk. "Lo tahu nggak siapa dia?"
"Fotografer, gue kan tadi udah bilang kalo dia seorang fotografer."
Rendi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mawar bisa melihat perubahan ekspresi dari wajah Rendi yang tadinya cemas berubah menjadi entahlah berbeda.
Dia seperti sedang mencemooh ketidak tahuannya tentang siapa Brandon sebenarnya. Namun, Mawar menyukai hal ini karena sekarang Rendi sudah tidak mengkhawatirkannya.
"Gue tadi ngeliat dia bawa kamera dan dia sendiri yang bilang kalau dia seorang fotografer."
Rendi menatap Mawar dengan mata disipitkan. "Itulah sebabnya gue bilang ke lo supaya lo itu ngeliat foto penyanyi dari lagu yang lo suka."
Mawar mengangkat sebelah tangannya. Mencoba menghentikan Rendi berbicara. "Apa hubungannya dengan ini?"
"Nada dering Lo, yang nyanyi itu kakaknya Jiana. Brandon Wiliam."
Mawar menerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
"Gue baru tahu kalo kakak tirinya Jiana itu Brandon Wiliam, penyanyi terkenal dari London. Gue baru tahu itu waktu gue nyari info soal Jiana. Kalau gue tahu ada Brandon Wiliam pasti gue bakalan minta tanda tangannya." Jelas Rendi.
“Sungguh? Dia penyanyi itu? Tetapi suaranya sangat berbeda ketika berbicara. Gue nggak nyangka bahwa Brandon adalah seorang penyanyi terkenal.”
“Itu cukup wajar menurut gue. Nggak semua orang memiliki suara yang sama ketika berbicara dan menyanyi. Itu semua salah Lo karena nggak mau ngingat wajah dari setiap penyanyi yang lo dengar lagunya.”
“Padahal gue pengen foto bareng atahu sekedar ngoleksi tanda tangannya. Sekarang nggak bisa kan.” Protes Rendi.
Mawar menggelengkan kepalanya pelan.
“Lo nggal tahu aja gue ini menyukai lagu-lagunya. Bukan orangnya. Gue mengapresiasi karya mereka, menilai mereka, itu semua berdasarkan karya mereka. Jadi, ketika mengidolakan seseorang, yang gue gaung-gaungkan adalah karya mereka, bukan pribadi dari artis itu sendiri.”
Penjelasan Mawar itu sering Rendi dengar beberapa kali. Itu adalah hal yang selalu Mawar katakan jika dirinya membahas tentang pengetahuan Mawar yang sangat minim mengenai penyanyi-penyanyi terkenal dunia yang selama ini lagunya ia dengarkan
“Tetapi, setelah ini harus Lo harus menghafal wajah dari artis dan penyanyi di dunia, terutama mereka yang berada di Inggris. Mungkin saja Lo nanti ketemu sama mereka. Jadi Lo bisa ngenalin mereka dan minta tanda tangan mereka buat gue.” Pinta Rendi.