Scarlet (In The Snow)

Scarlet (In The Snow)
Lagu Dansa Pertama



“Kenapa Kau labil sekali sepupu.”


Suara mengejek Alice menyambut kedatangan Mawar di rumah bibinya. Ia baru saja sampai di rumah bibinya beberapa saat lalu. Di saat dirinya ingin istirahat, sambutan kurang menyenangkan dari sepupunya itu yang didapat, bukan sebuah kasur empuk untuknya merebahkan diri.


“Bukannya Kau mengatakan tidak akan datang ke resepsi pernikahanku.” Tanya Alice lagi.


“Senang bertemu denganmu juga Alice. Bagaimana bisa aku melewatkan resepsi pernikahan sepupuku yang paling cantik ini.” Jawab Mawar dengan muka datar.


“Oh jadi Kau sudah menyadari bahwa aku cantik. Memang tidak diragukan lagi aku cantik. Aku adalah seorang model papan atas. Jadi wajar saja kalau aku cantik.” Alice sedikit mengibaskan rambutnya dengan gaya sombongnya.


“Tentu saja Kau cantik. Apa Kau mau aku samakan dengan sepupu yang lain? Kau satu-satunya sepupu perempuanku. Jadi aku pikir Kau akan lebih marah jika aku memanggilmu tampan.” Bibir Mawar menunjukkan seringai mengejeknya.


Tanpa diduga, Alice berhambur ke arah Mawar dan memeluk sepupunya itu.


“Aku rindu padamu sepupu. Aku senang Kau akhirnya datang.”


Ya sebenarnya dibalik sikap menyebalkannya itu, Alice adalah orang yang baik. Dia sangat menyayangi Mawar sepupu satu-satunya yang dimilki Alice. Posisi Alice dan Mawar merupakan anak tunggal membuat Mawar menjadi sepupu satu-satunya yang dimilki Alice.


Apalagi ayahnya anak tunggal. Jadi dia tidak memilki seorang sepupu pun dari pihak ayahnya.


Sebagai sepupu satu-satunya bagi Alice, Mawar harus bisa menerima perlakuan gadis itu yang terkadang mencari teman berkelahi karena tidak memiliki saudara atau menajadi seseorang yang butuh diberikan kasih sayang dari seorang saudara.


“Ya gue juga kangen ama lo. Emang udah berapa lama sih kita nggak ketemu. Perasaan di bulan Maret kita udah ketemu lama banget.”


“Hello… nyadar nggak sih Wawa. Sekarang ini udah awal Agustus. Udah hampir enam bulan kita nggak ketemu. Jadi wajar dong kalo gue kangen sama lo Wawa.”


Ya Wawa adalah pangilan sayang yang diberikan sepupunya itu kepada Mawar.


“Siapa suruh buat acara nikah di New York. Coba kalo lo buat nikahannya di Jakarta pasti lo bakalan sering-sering ngeliat gue.”


“Aduh Wawa. Jack itu tinggal di New York, dan lagi aku juga ada kerjaan di sini. Masak calonnya ada di sini resepsinya di tempat lain.”


“Sekarang gue mau tanya ke lo Wawa. Kenapa lo kemaren bilang nggak mau datang ke resepsi gue? Gue ini kan sepupu lo yang paling cantik. Masak lo nggak mau datang ke acara bahagia gue.”


“Itu karena lo nyebelin. Dan lagi lo juga udah nglupain ulang tahun gue. Apa susahnya sih nelpon gue buat ngucapin selamat ulang tahun? Giliran urusan nikah sama Jack yang baru lo kenal dua tahun aja lo inget. Nah gue sepupu lo satu-satunya ini malah lo lupain.”


Alice tertawa mendengar penuturan Mawar. “Oh jadi ceritanya lo cemburu? Aduh Wawa, maaf banget gue bener-bener kelupaan sama ulang tahun lo. Lo minta apa deh entar gue kasih.”


Mawar hanya memanyunkan bibirnya. “Udah telat kale.” Mawar terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.


“Kalo lo maksa ya udah. Beliin gue gaun rancangan Celine Brown. Lo tau dia kan?”


Celine Brown, siapa yang tidak mengetahui tentang dia? Apalagi dengan profesi Alice sebagai seorang Model, tentu dia mengenal dengan baik siapa Celine Brown. Dia adalah perancang busana terkenal di London.


“Tentu gue tau. Oke gue beliin gaun rancangan dia. Setelah gue honeymoon gue akan ke London buat nengok lo dan beliin lo gaun. Puas?”


Mawar menyeringai lebar. Ia sangat suka menguras kantong sepupunya itu. Salah Alice sendiri yang tidak mengingat ulang tahun Mawar. Ini adalah sedikit bentuk balas dendam Mawar kepada sepupunya yang paling menyebalkan itu.


“Tapi sebagai gantinya lo harus ngasih kado pernikahan ke gue.”


Mawar selalu menduganya. Pasti Alice juga mengharapkan balasan darinya. “Oke. Lo minta rancangan rumah kan? Tinggal bilang aja berapa luas lahannya dan model seperti apa yang lo pengen. Lo bisa jadi pelanggan pertama gue.” Jawab Mawar sembari menyeringai lebar.


Alice sangat mengetahui kemampuan sepupunya itu. Alice sudah melihat rancangan bangunan yang pernah di buat oleh Mawar.


“Besok lo harus nyanyi di acara resepsi gue. Lo harus nyumbangin lagu buat first dance gue.”


Mawar berdecak pelan. “Lo mau mempermalukan gue ya? Suara gue nggak bagus-bagus amat. Masak lo mau mempermalukan gue dengan nyanyi di resepsi lo sih. Ganti yang lain.”


“Aduh nggak bisa Wawa. Gue maunya itu.”


“Oke oke. Awas aja ya kalo gue denger ada yang ngetawaain suara gue lo harus tanggung jawab.”


Alice menyeringai lebar memperlihatkan barisan gigi putihnya. “Tentu saja sepupu.”


*****


Suasana di ballroom hotel tempat resepsi pernikahan Alice terlihat ramai. Banyak wajah-wajah familier di tempat ini.


Maklum saja pekerjaaan Alice sebagai model serta Jack yang merupakan presenter di salah satu stasiun televisi terkenal di Amerika membuat penikahan keduanya didatangi oleh orang-orang yang sudah sering tampil di layar kaca maupun majalah.


Hal ini membuat Mawar semakin gugup. Sebentar lagi first dance bagi pengantin baru itu akan segera di mulai. Pembawa acara pernikahan Alice sudah memberitahunya untuk bersiap-siap.


Mawar sudah mencoba menenangkan diri dengan melakukan beberapa hal. Tapi bagaimanapun juga kegugupan itu masih terasa bagi Mawar.


Apakah Brandon juga merasakan kegugupan seperti Mawar ketika akan menyanyi di depan para penggemarnya? Jika tidak, Mawar mengakui jika Brandon adalah orang hebat yang bisa mengatasi kegugupannya.


Bicara soal Brandon, bagaimana kabarnya laki-laki itu? Sejak mengetahui siapa Brandon sebenarnya membuat Mawar selalu merindukan laki-laki itu.


Mungkin, dengan membayangkan Brandon di depannya Mawar dapat sedikit mengurangi kegugupannya. Ya, Mawar dapat menganggap sekarang dirinya menyanyi untuk Brandon.


Hanya Brandon yang ada di depannya. Mawar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ya dia bisa melakukan ini. Dengan langkah pasti Mawar menaiki panggung.


Alunan musik mulai terdengar di sana. Mawar pun memfokuskan pendengarannya kepada alunan musik yang mengiringinya untuk menyanyikan lagu Thinking Out Loud milik Ed Sheeran


And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways


Maybe just the touch of a hand


Oh me I fall in love with you every single day


And I just wanna tell you I am


Mawar menghayati nyanyiannya tanpa menghiraukan pasangan pengantin yang kini sedang menari. Bahkan Mawar menghiraukan Alice yang kini seakan mengatakan kata terima kasih tanpa suara itu. yang ada di pikiran Mawar saat ini hanya Brandon. Ia menyanyikan lagu ini seolah Brandon ada di depannya.


Mawar membayangkan yang sekarang sedang menari di bawah sana bukanlah Alice dan Jack melainkan dirinya dan Brandon. Ah membayangkannya saja membuat Mawar tersenyum di sela-sela nyanyiannya.


Suara tepuk tangan terdengar di seluruh penjuru ballroom. Semua orang meberikan apresiasi kepada suara merdu Mawar. Mawar melihat binar bahagia di mata sepupunya.


Ah seperti inikah perasaan seorang penyanyi yang sudah menghibur penggemarnya? Mawar merasa bahagia. Jadi perasaan ini kah yang dirasakan Brandon ketika selesai menghibur penggemarnya.


Memikirkan hal tersebut membuat Mawar ingin sekali melihat konser Brandon. Ia ingin melihat ekspresi Brandon ketika selesai menyanyi.


Mungkin juga dia akan mengamati ekspresi dari penggemar Brandon yang dapat Mawar pastikan bahwa mereka akan merasa kagum dengan sosok Brandon. Seperti yang sering ia dengar dari beberapa orang yang mengidolakan laki-laki tersebut.


Sepertinya itu akan menjadi hobi baru Mawar. Meski belum pernah melakukannya Mawar tetap ingin melakukannya. Melihat penampilan memuKau Brandon yang menyanyi di atas panggung.