
Mawar melihat seorang laki-laki dengan setelan jas warna abu-abu berdiri tidak jauh darinya. Laki-laki yang memakai topi senada dengan warna jasnya itu mulai berjalan mendekat ke arah Mawar.
"Oh, maaf. Tidak seharusnya aku mengambil fotomu diam-diam seperti tadi. Aku harus mendapatkan ijinmu dulu bukan?"
Laki-laki itu terlihat asing bagi Mawar, sepertinya dia bukan siswa sekolah ini. Jika dia memang siswa sekolah ini, pasti Mawar sudah mengenalinya.
"Siapa Kau?" Mawar memandang laki-laki di depannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memang benar dia bukan siswa sekolah ini.
"Aku tidak pernah melihatmu. Kau bukan siswa sekolah ini, benar. Dan kenapa tadi Kau tiba-tiba memotretku?"
Mawar merasa takut kalau laki-laki ini bertindak macam-macam dengannya. Bagaimana tidak takut, jika ada orang asing yang sama sekali tidak Kau kenal memotretmu diam-diam di tempat yang sepi seperti parkiran ini.
Terlebih lagi pencahayaan di sini tidak terlalu terang. Siapapun pasti akan takut jika berada dalam posisi Mawar.
Kini laki-laki itu tersenyum, kemudian memasukkan kameranya ke dalam tas.
"Posemu tadi terlalu indah untuk tidak diabadikan. Kau tahu, sepertinya Kau cocok menjadi seorang model. Setelah aku lihat dari dekat Kau mempunyai wajah yang menarik untuk jadi model." Kalimat itu. Mawar hafal betul dengan kalimat tadi.
Kalimat itu mirip dengan yang diucapkan oleh seseorang, dua belas tahun lalu. Walaupun itu sudah lama tapi Mawar hafal betul dengan kalimat itu. Karena bagi Mawar, terus mengingat kejadian dua belas tahun lalu adalah satu-satunya cara agar ia tidak lupa dengan anak laki-laki itu.
Bagaimanapun juga, dari lubuk hati yang paling dalam Mawar masih menyimpan harapan untuk bertemu dengan anak laki-laki itu.
Mawar memandang sekilas wajah laki-laki di depannya. Oh tidak, lihatlah sekarang. Setelah dipikir-pikir kejadian ini mirip dengan kejadian dua belas tahun lalu.
Pakaian yang laki-laki itu kenakan serta mata kelabunya, hanya saja sekarang rambut laki-laki itu berwarna merah. Jangan-jangan dia adalah anak laki-laki yang waktu itu.
"Lihatlah gaun dan rambutmu yang Kau sanggul itu. Komposisi itu membuatmu terlihat menawan. Walaupun aku belum menjadi fotografer yang profesional, tapi aku tahu hal yang indah yang harus diabadikan dengan jepretan kamera. Seperti posemu tadi."
Dia fotografer? Semua kebetulan ini membuat Mawar terkejut. Apakah laki-laki ini adalah orang yang sama dengan anak laki-laki yang ditemuinya dua belas tahun yang lalu?
Perlukah Mawar menanyakan hal tersebut? Mawar membuka mulutnya hendak menanyakan hal tersebut namun ia urungkan.
"Apa Kau sedang ada masalah?"
Mawar memandang wajah laki-laki di depannya. Bagaimana laki-laki ini bisa tahu kalau Mawar sedang ada masalah?
Sejenak Mawar melupakan masalah itu karena memikirkan kemungkinan laki-laki yang berdiri di depannya adalah orang yang sama dengan anak laki-laki yang ia temui dua belas tahun lalu. Namun kini Mawar kembali ingat akan hal itu.
"Sedari tadi aku lihat Kau selalu menundukkan kepalamu. Bahkan tadi aku sempat melihat Kau menangis? Apakah aku benar."
Mawar tidak menangis, memang tadi ada air mata di sudut matanya namun itu bukan berarti ia tengah menangis.
"Kau tahu memendam masalahmu sendirian itu tidak baik. Kau perlu sedikit mengungkapkannya."
Benarkah itu? Memang selama ini Mawar selalu menyimpan masalahnya untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah menceritakan masalah yang tengah ia hadapi kepada orang lain. Mawar selalu berfikir kalau ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Mungkin Kau bisa menceritakannya kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu."
Menceritakannya pada laki-laki ini? Apakah Mawar bisa? Bahkan Mawar tidak mengenalnya. Walaupun Mawar sempat berpikir pernah bertemu dengannya dua belas tahun lalu.
Jika Mawar menceritakannya, apakah dia bisa dipercaya. Atahu jangan-jangan laki-laki ini kenal dengan Thomas atahu pun Jiana. Jika benar apakah Mawar akan mendapatkan solusi darinya? Atahu malah dia akan membuat masalah ini semakin rumit.
"Ya tentu saja Kau tidak akan menceritakan masalahmu kepada orang yang tidak Kau kenali, seperti aku. Jadi...." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. "Namaku Brandon, dan Kau?"
Mungkin berkenalan dengan laki-laki ini tidak ada salahnya. Mengenai ia akan menceritakan masalahnya pada laki-laki itu atahu tidak Mawar bisa memikirkan hal itu nanti. Mawar menjabat uluran tangan laki-laki itu.
"Mawar." Ucapnya pelan.
*****
"Apakah ada orang lain yang bernama Mawar di sekolah ini?" Mawar menggeleng pelan. Kenapa Brandon malah menanyakan hal itu? "Benarkah?"
"Ya. Hanya aku satu-satunya orang yang bernama Mawar di sekolah ini. Memangnya kenapa? Apakah Kau mempunyai kenalan bernama Mawar yang sekolah di sini. Jika benar, berarti orang itu adalah aku. Tapi aku merasa tidak mengenalmu bahkan kurasa ini pertama kalinya kita bertemu."
Brandon mengangkat topinya dan mengibas-ibaskannya tanpa maksud. "Kita memang pernah bertemu. Tapi waktu itu Kau belum tahu namaku. Kau terlihat berbeda malam ini jadi aku tidak bisa langsung mengenalimu. Kau tahu, Kau terlihat sangat berbeda dengan foto terakhirmu yang aku lihat."
Brandon mengenalnya? Mawar yakin betul belum pernah bertemu laki-laki di depannya. Dan apa tadi yang Brandon bilang, ia terlihat berbeda dengan foto terakhir yang Brandon lihat. Dari mana laki-laki itu mendapatkan fotonya?
Melihat Mawar bingung dengan ucapannya barusan, Brandon langsung mencoba mengendalikan suasana.
"Adikku, dia adalah salah satu teman sekolahmu sejak SD. Aku melihat foto-fotomu dari dia. Jadi... seperti itu."
"Siapa nama adikmu?"
"Jiana. Jiana William. Kau mengenalnya bukan?" Brandon melihat mata gadis itu melebar dan keningnya sedikit berkerut setelah Brandon menyebutkan nama adiknya.
Apakah gadis ini salah satu orang yang terluka karena kejadian tadi pagi? Tadi gadis itu akan menangis sekarang raut wajahnya berubah ketika ia menyebut nama adiknya. Brandon yakin dia sudah bertemu salah satu dari mereka.
Mawar menundukkan kepalanya. Memandang ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Maafkan adikku. Dia itu suka dengan hal-hal yang romantis. Aku tidak pernah berfikir bahwa Thomas akan menyatakan perasaannya kepada adikku di depan semua orang. Hanya untuk membuat adikku terkesan bukan begitu caranya.”
“Dia orang yang populer bukan? Maksudku, Thomas. Apa dia tidak berfikir bahwa tindakannya akan menyakiti perasaan orang lain yang menyukainya. Seperti dirimu mungkin."
Mawar mendongakkan kepalanya memandang ke wajah Brandon. Mawar hendak menanggapi ucapan Brandon, namun sepertinya laki-laki itu belum selesai bicara.
"Jika aku dalam posisi seperti Thomas yang ingin membuat orang yang aku suka terkesan, maka aku lebih memilih mengajak orang itu makan malam berdua. Mungkin aku bisa menyewa sebuah kafe sehingga hanya ada kami berdua, dan pelayan tentunya. Bukankah itu juga romantis?"
Brandon kembali memakai topinya yang sedari tadi ia pegang.
"Jika memang aku harus melakukannya di depan banyak orang, aku akan memakai cara cerdas agar hanya orang yang aku cintai yang akan mengetahui bahwa saat itu aku tengah menyatakan perasaanku padanya.”
“Mungkin aku akan menyanyikan sebuah lagu, tentang kisah kami. Itu bisa memperkecil kemungkinan Kau menyakiti perasaan orang lain bukan?" Imbuh Brandon.
Mawar tidak mengira pemikiran orang di depannya akan seperti itu. Brandon terlihat sangat memikirkan perasaan orang lain ketika dia akan melakukan sesuatu. Mawar bisa melihat itu dari apa yang sudah dia ucapkan barusan.
"Tapi Thomas tidak berpikiran sepertimu. Ia tidak memikirkan perasaan orang lain." Ucap Mawar tiba-tiba.
Kenapa Mawar malah mengatakan hal itu pada Brandon. Seharusnya Mawar tidak berkata seperti itu.
"Ya aku tahu. Semua orang tidak memiliki pikiran yang sama bukan? Perbedaan itulah yang membuat kita harus memahami satu sama lain. Dan tentu saja harus saling mengingatkan jika ada hal-hal yang salah. Jadi, aku akan mengingatkan Thomas. Bagaimana pun juga adikku terlibat dalam hal ini."
"Sekali lagi aku meminta maaf atas nama adikku. Nanti dia sendiri juga akan meminta maaf padamu. Kau tahu, aku datang kemari hanya untuk membantunya menyelesaikan masalah ini. Sepertinya aku sudah menyelesaikan salah satunya."
Brandon tersenyum lebar membuat barisan gigi putihnya yang rapi terlihat.
"Kau tidak perlu meminta maaf padaku. Begitu juga dengan Jiana. Aku hanya kesal saja dengan sikap Thomas. Dan... Oh... apa yang sudah aku katakan tadi kepada Thomas ketika aku bertemu dengannya." Mawar mengangkat telapak tangannya yang tidak memegang ponsel ke keningnya.
"Memangnya apa yang sudah terjadi?"
"Aku sudah mengatakan hal bodoh. Kau tahu aku sangat kesal dengan Thomas sehingga kalimat itu keluar begitu saja tanpa aku sadari."
Brandon berjalan ke samping gadis itu. Mengikutinya bersandar pada mobil. "Memangnya apa yang sudah Kau katakan?"
Mawar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Tadi, ketika aku bertemu Thomas sepupuku Rendi menanyakan di mana Jiana. Thomas bilang dia tidak datang bersama Jiana karena dia bilang Jiana akan datang dengan seseorang. Pada saat itu juga aku mengatakan kalimat bodoh itu."
Mawar memejamkan matanya sesaat.
"Aku bilang pada Thomas bahwa mungkin Jiana sudah memiliki pacar, dan dia akan membawa pacarnya itu ke pesta ini untuk dikenalkan pada semua orang. Aku juga berkata bahwa Thomas akan memutuskan Jiana jika hal itu benar-benar terjadi.”
“Kau tahu, dari respon yang diberikan Thomas setelah aku mengatakan itu aku tahu bahwa dia mulai membenciku." Mawar mengembuskan nafas panjang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Setelah menceritakan masalahmu kepada orang lain?" Tanya Brandon tiba-tiba.
Oh tidak, Mawar baru sadar sekarang. Ia telah menceritakan masalahnya kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Lega bukan?" Mawar mengakui, ada sesuatu yang menguap dari pundaknya ketika menceritakan masalahnya kepada Brandon. Seperti bebannya sudah terangkat.
"Kau sesekali harus menceritakan masalahmu kepada orang lain. Karena mungkin orang itu bisa membantumu menyelesaikan masalahmu. Seperti sekarang."
Mawar menyipitkan matanya. "Aku memang sedikit lega. Tapi apa maksudmu?"
"Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Aku sudah menemukan solusinya. Tapi menurutku Kau tidak salah dalam ini."
Entah mengapa kalimat terakhir dari Brandon menambah kelegaan di hati Mawar. Bebannya semakin terasa ringan sekarang.
"Kau tahu." Mawar mendengar Brandon berbicara lagi.
"Terkadang kita tidak bisa melewati segala sesuatu sendirian. Terkadang kita memerlukan uluran tangan seseorang ketika kita terjatuh, memerlukan seorang menuntun kita ketika kita kehilangan arah, dan mungkin memerlukan pundak seseorang untuk menangis.”
“Jangan pernah berpikir Kau bisa menyelesaikan segalanya sendirian." Jelas Brandon.
Terdengar suara seorang laki-laki sedang menyanyi. Suara itu berasal dari ponsel Mawar. Brandon kenal betul dengan suara dan lagu itu, karena keduanya memang miliknya.
Mawar menempelkan ponselnya di telinga. "Ya... Apa?... Gue nggak papa kok Ren... Gue tadi ketemu seseorang terus ngobrol ama dia... Mm, lo nggak perlu ke sini. Bentar lagi gue masuk... Gue tutup ya."
Mawar mendesah pelan dan melihat Brandon sedang menatapnya dengan mata yang disipitkan. Ia baru sadar bahwa dirinya memakai bahasa Indonesia ketika berbicara dengan Rendi di telfon tadi. Sepertinya laki-laki ini tidak mengerti bahasa Indonesia.
"Tadi itu sepupuku, dia menanyakan kenapa aku tidak segera kembali ke aula."
Brandon mengangguk pelan. "Aku tahu itu. Sudah seharusnya kita masuk sekarang. Aku pikir adikku juga pasti akan kebingungan melihatku belum terlihat di ruang pesta."