Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 8: Pergilah Keneraka.



"Apa kabar kalian berdua para, tukang ledeng?" Kavin bertanya dengan membentuk sebuah seringai, pun tatapan matanya terlihat berbinar seolah mendapatkan sesuatu yang sangat dia dambakan.


Iya, laki-laki berpakaian serba hitam itu adalah Kavin. Sesuai yang dibicarakan di restoran sea king. Laki-laki yang Kavin temui di sana langsung bekerja dengan cepat, seperti apa yang diminta oleh Kavin.


"Apa-apaan ini brengs*k?" tanya Rifki dengan nada yang meninggi. Laki-laki itu terlihat masih bida berbicara dengan berani saat dia sudah mengetahui kondisinya yang sangat-sangat tidak aman.


Kavin yang mendengar itu semakin melebarkan seringainya. Tangan kanannya yang sedari tadi berada di dalam saku jaket hitamnya, dia keluarkan, dan langsung dia arahkan untuk membuka ikatan di rambutnya.


"Apa-apaan ini brengs*k?" beo Kavin dengan nada yang terdengar sedikit mengejek. Laki-laki itu melirik ke arah Setiaji yang sedari tadi diam seolah pasrah. Dia tidak berbuat apa-apa, karena tahu kalau dia memang tidak bisa melakukannya.


Percuma berteriak, karena itu tidak akan mengubah apa-apa. Kavin hanya menyeringai melihat Setiaji yang pasrah seperti itu.


Laki-laki yang malam ini beraut wajah sangat menyeramkan seperti seorang iblis itu, memilih untuk fokus ke Rifki yang sekarang menatap dirinya berani.


"Lu jangan main-main sama gue. Lu enggak tahu siap-"


Bugh!


Satu pukulan telak langsung Kavin arahkan ke sudut bibir kanan, Rifki, membuat kepala laki-laki itu menoleh ke sebelah kiri, pun ucapannya tadi langsung terhenti.


"Lihat situasi dulu jika mau berbicara sok berani seperti itu, Bajing*n!" Kavin berucap dengan tatapan mata yang sangat tajam, pun mimik wajah yang terlihat seperti seorang pisikopat.


Setiaji yang melihat temannya itu hanya bisa diam dengan mata terpejam, tapi kedua tangan yang terkepal, "Kau mau apa dengan kami?" tanya Setiaji pada akhirnya setelah jengah terdiam dan mencoba pura-pura tidak melihat apapun.


Kavin melirik ke arah Setiaji. Laki-laki berpakaian serba hitam itu berjalan tepat ke depan Setiaji, "Aku ... mau apa?" beo Kavin dengan nada yang terdengar jenaka.


Setiaji yang mendengar itu bukannya terkekeh, dia malah menelan ludahnya kuat-kuat. Terlebih lagi Kavin mulai menaikkan kaki kirinya di ujung bangku yang Setiaji duduki, pun wajah menyeramkan laki-laki itu sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Kavin menyeringai. Laki-laki yang sekarang tengah melakukan peran sebagai dewa kematian itu bergerak mengeluarkan tangan kirinya yang sedari tadi bersembunyi di dalam saku jaket kiri.


"Kau bodoh, atau pura-pura bodoh?" tanya Kavin sembari merentangkan tangan kirinya yang sudah memegang pisau lipat kecil yang di mana, sudah terbuka.


Kavin mulai mengarahkan mata pisau itu ke bawah kantung mata bagian kiri Setiaji. Dia sedikit membenamkan ujung tajam pisau itu hingga memunculkan darah merah segar.


Setiaji hanya bisa menjerit tertahan. Laki-laki berkulit hitam dengan kumis tebal itu hanya memejamkan mata, pun bibirnya sedikit terbuka untuk mengeluarkan jeritan kecil.


"Aku anggap saja kalian berdua bodoh." Kavin berucap sembari mulai menggerakkan tangan kirinya yang sudah memegangi pisau kecil yang ujungnya sudah tertanam di kentung mata kiri Setiaji.


Laki-laki berwajah seperti dewa kematian itu mulai membuat garis lurus yang di mana langsung menimbulkan darah merah sebagai warna alaminya di wajah Setiaji.


Setiaji hanya bisa mengeluarkan teriakan histeris. Hal itu berhasil membuat Rifki mulai panik dan ingin sekali mengetahui apa yang di lakukan laki-laki itu ke temannya.


"Balas dendam," cicit Kavin dengan masih bergerak untuk membuat garis. Sekarang laki-laki itu menggerakkan pisau kecil itu dari dagu menuju pipi kanan, hingga kantung mata Setiaji.


"Mata dibalas mata," cicit Kavin dan laki-laki itu mulai kehilangan akal atau bisa dikatakan memang akalnya sudah menghilang sedari dua tahun yang lalu.


"Kau melakukan hal keji kepada istriku dan aku berhak membalas kalian. Jika aku membiarkan kalian hidup dengan tersenyum, istriku di atas sana akan menangis. Maka aku sebagai suami yang berbakti harus mendengarkan dirinya agar tidak lagi menangis."


Kavin menjauhkan diri dari Setiaji yang di mana, di wajah laki-laki itu sudah ada garis-garis berwarna merah dari darah.


"Apa maksudmu brengs*k?" tanya Setiaji dengan berteriak, karena sudah tidak bisa menahan perih dari luka gores di wajahnya, "membalas? Kau mau membalas kami, karena telah memperkosa istrimu? Lakukanlah? Bunuh aku dan jangan seperti ini, sialan!"


Kavin menjentikkan jari telunjuknya membuat dua cahaya dari LCD proyektor yang terpasang di langit-langit gedung muncul tepat di depan Setiaji dan juga Rifki.


Kedua laki-laki langsung terkejut saat mereka melihat tepat di dalam cahaya LCD proyektor itu menunjukkan seorang wanita yang tidak terbalut busana, pun tengah diikat ditembok. Persisi seperti yang mereka lakukan dengan Mika dulu.


"Lilis!" teriak Setiaji saat melihat istrinya tak berdaya.


Sementara Rifki. Laki-laki itu langsung saja mengeram marah. Kedua matanya langsung memerah, "Kurang ajar! Apa yang kau lakukan kepada istriku, sial*n!"


Kavin hanya menyunggingkan seringai. Dia terlihat sangat senang saat melihat ekspresi wajah kedua tawanannya itu.


"Apa yang aku lakukan?" beo Kavin, tapi Setiaji dan Rifki tidak menangapi laki-laki itu. Malahan sua orang itu fokus melihat ke arah istrinya yang sekarang terlihat sangat menyedihkan.


Mereka bahkan tidak menyadari kalau tepat di sisi cahaya dari LCD proyektor itu ada seorang yang memakai pakaian serba hitam sedang berdiri.


"Kau hanya punya dendam dengan kami, tapi kenapa kau bawa istriku juga, sialan! Istriku tidak mengetahui apa-apa, brengs*k!" teriak Rifki dan itu terdengar seperti lelucon di telinga Kavin.


"Seperti yang aku katakan. Aku harus membalas perlakuan yang kelainan lakukan kepada istriku, dan nikmati saja. Sebelum aku mengirim kalian ke neraka."


Rifki yang mendengar itu semakin dibuat marah. Berbeda dengan Setiaji yang langsung paham.


Rifki langsung menoleh ke arah Kavin yang kembali berdiri di sisi kanannya dan sisi kiri Setiaji, "Banci! Kalau kau memang laki-laki. Buka ikstana ini kita bertarung sampai mat-"


"Matilah kalian berdua," potong Kavin dan setelahnya.


Dua suara tembakan langsung menggenggam memenuhi bangunan gedung tua itu. Kavin menyeringai saat dia melihat tubuh Setiaji serta Rifki tidak lagi melakukan gerakan dan hanya mengeluarkan cairan darah berwarna merah kental.


"Bersihkan ini semua dan jangan tinggalkan jejak apapun. Buat mereka seperti melakukan bunuh diri dan buang tubuh mereka ke depan kantor polisi." Perintah dingin Kavin, membuat dua laki-laki berpakaian serba hitam yang sedari tadi berdiri di depan Setiaji dan juga Rifki bergerak keluar.


"Siap tuan."


Kavin hanya menyeringai dan langsung berlalu pergi dari gedung tua itu. Iya, kali ini dia tidak menggunakan tangannya sendiri untuk membunuh dua pendosa yang telah melakukan hal keji kepada istrinya itu, karena kedua tangannya ini akan dia gunakan untuk membunuh pemain utama dibalik kematian istrinya.


Suara dering ponsel membuat langkah kaki Kavin yang saat ini sedang berjalan di jalanan setapak terhenti. Laki-laki itu mengeluarkan benda pipih itu dari saku celana hitamnya.


Unknown


Kavin langsung menerima panggilan suara itu dan mendekatkan ponselnya ke telinga, "Ke kelab kelabu sekarang!" perintah seseorang yang berada di seberang sana dan itu membuat Kavin mengernyitkan kening.


"Buat?" tanya Laki-laki itu heran.


"Kau pasti akan terkejut jika sudah sampai sini. Kavin, di tempat ini aku melihat Istrimu." Kavin langsung memutus sambungan teleponnya sepihak.


...T.B.C...


...1000 hadiah aku lanjut lagi dong updatenya...


...bisa kan 1000 hadiah?...