Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 7: Malaikat Maut



Suara jangkrik dan beberapa kodok memecah kesunyian di malam yang terasa semakin larut. Disebuah kawasan terpencil yang terkesan seperti perkebunan tua, terlihat seseorang laki-laki berjaket dan bercelana hitam dengan hoodie yang menutup seluruh kepalanya itu terlihat sedang berjalan di jalan setapak.


Di mana, di sisi-sisi jalan di penuhi oleh pohon-pohon yang tumbuh menjulang, pun beberapa semak belukar di sana.


Laki-laki berjaket itu terus berjalan dengan angkuhnya ke depan yang di mana, di depan sana ada sebuah bangunan gedung tua yang tidak ada sedikitpun cahaya.


Suara jangkrik semakin tertangkap jelas oleh gendang telinga laki-laki berjaket itu, saat jaraknya dan juga bangunan gedung tua itu semakin dekat.


Sementara di dalam gedung tua itu nampak sunyi. Tidak ada bunyi-bunyian yang terdengar selain suara jangkrik di luar sana. Jangankan bunyi, setitik cahaya penerang pun tidak ada sealin sebuah lampu yang mengeluarkan sinar temaram.


Sinar dari lampu itupun hanya bisa menerangi kawasan yang hanya ada di bawahnya dan tepat di bawah lampu itu ada dua buah kursi yang di letakkan saling membelakangi.


Sementara di kursi itu ada dua orang laki-laki berkulit gelap yang di mana, di sana sedang duduk dalam posisi tubuhnya dililit lantai, pun tangannya diposisikan masuk ke celah belakang bangku dan dipergelangannya sudah terpasang borgol.


Satu laki-laki yang memiliki garis wajah yang terkesan lebih dewasa mulai mengeluarkan ringisan. Lidahnya mengembangkan pipi bagian kirinya yang terlihat membiru, pun sedikit membengkak.


Sementara di ekor matanya ada sedikit bercak darah yang terlihat masih baru. Sementara laki-laki yang terbilang sedikit lebih muda dari yang pertama bangun tadi, ikut mengeluarkan ringisan.


"Kau sudah bangun?" tanya dia— Setiaji yang dulu menyamar jadi tukang ledeng dan pelaku pemerkosaan Mika itu kepada temannya yang terikat di belakangnya.


"Kita ada di mana? Terus, kenapa ini? Siapa yang bernai melakukan ini?" Bukannya menjawab dia— Rifki laki-laki yang juga menjadi pelaku pemerkosaan Mika itu malah balik melemparkan pertanyaan.


"Jika gue tahu, gue bakalan langsung ngasih tahu lu juga kali, Ki," kesal Setiaji dan laki-laki itu berbicara seolah tidak merasa takut dengan kondisinya saat ini.


"Kurang ajar! Orang yang melakukan ini pasti sudah bosan hidup," desisi Rifki dan laki-laki itu mencoba untuk menggerakkan tubuhnya.


Namun, baru saja dia bergerak satu kali. Tubuhnya langsung terserang nyeri dan itu semua disebabkan oleh rantai yang begitu terikat sempurna di tubuhnya, "Anji*g! Keluar lu brengs*k! Jika memang lu laki-laki. Sini hadapin gue dan jangan jadi banci, bangs*t!" Rifki berteriak marah dan itu terdengar menggema di kawasan sunyi seperti gedung kosong ini.


Setiaji yang melihat tingkah laku temannya itu hanya menunduk pasrah, karena melihat rantai yang mengingat mereka, pun borgol yang mengunci pergerakan tangannya. Setiaji sadar kalau tidak ada lagi kesempatan lepas.


Namun, cahaya itu malah dihadang oleh tubuh tinggi laki-laki berjaket hitam itu, hingga yang nampak di sana hanyalah bayangan.


"Bukankah kata-kata itu lebih tepat untuk kalian, para pendosa?" Laki-laki berjaket itu kembali mengeluarkan suara, dan itu terkesan mengerikan ditelinga Setiaji dan Rifki.


Laki-laki berpakaian serba hitam itu kembali mengayunkannya langkah angkuhnya. Dia tidak lupa menutup kembali pintu bangunan tua itu, hingga kegelapan kembali mengepung tempat itu.


Tubuh ataupun siluet laki-laki berpakaian serba hitam itu sudah tidak lagi terlihat oleh kedua mata Setiaji dan juga Rifki. Palingan mereka berdua hanya mendengar suara langkah kaki yang menggema hingga sudut-sudut bangunan gedung tua itu.


"Jika lu emang jantan, lepasin rantai ini dan mari kita bertarung hingga mati, bajing*n!" Rifki berteriak menantang. Padahal laki-laki itu sudah tahu, kalau sekarang situasinya sedang buruk.


Namun, lihat betapa sombong dan omong besarnya dia, "woi ... bangs*t! Lu enggak tahu siapa gue?" tanya Rifki dengan masih bernada keras dan juga sombong.


"Anji*g! Lu siapa sih? Tunjukin muka lu, kalau berani, bang-"


"Gue? Lu nanyak siapa gue?" Laki-laki berpakaian serba hitam itu mengehentikan langkahnya tepat di depan Setiaji dan juga Rifki yang sekarang melihat kearahnya.


"Bisa dikatakan, gue Malaika maut kalian, pendosa." Setiaji dan Rifki membulatkan mata saat laki-laki berpakaian serba hitam itu membuka Hoodie dan menunjukkan wajahnya.


...T.B.C...


...Mau lagi enggak nih?...


...Kalua mau yok capai 1000 hadiah bisa enggak?...


...500 hadiah juga boleh, yok kasih mawar atau hati dulu....