
Bau khas air laut menyapa indera penciuman Kavin. Saat ini laki-laki dua puluh sembilan tahun berambut gondrong dengan bulu-bulu halus menghiasi rahangnya kokohnya itu tengah duduk, di atas boat.
Iya, laki-laki yang sudah rapi dengan setelan kemeja putih yang dipadukan dengan jas serta celana kain berwarna biru muda itu sedang dalam perjalanan untuk kembali ke ibu kota.
Raut wajahnya datar seperti biasa, tapi bedanya tatapan dinginnya sekarang terhalang oleh sebuah kacamata hitam. Kavin hanya menatap ke belakang melihat pulau tempat di mana dua tahun terakhir ini dia menghabiskan hidup.
Tidak ada senyum terlukis di wajah datarnya itu, tapi percayalah sekarang dia sedang mengingat hari-harinya berada di tempat itu.
Dia mengingat tentang dirinya yang membangun dua gubuk itu dengan kedua tangannya sediri.
Dia mengingat hari-hari yang ia habiskan dengan Mika di pesisir pantai, saling bercengkrama dibawah teriknya matahari, walau sang istri mungkin tidak bisa lagi merasakan hal itu.
'aku akan pergi sebentar saja, kau tunggulah di sini,'
Itu kata-kata terakhir yang tadi Kavin ucapkan saat sebelum pergi. Dia juga tadi memberikan satu kecupan perpisahan untuk istrinya.
"Tambahkan kecepatannya!" perintah Kavin dan si pengemudi bot hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena tadi Kavin memintanya untuk tidak mengeluarkan suara.
Disaat kapal boat melaju cepat, Kavin bergerak bangkit dari duduknya. Dia mulai mengayunkan langkah untuk berdiri tepat di bagian depan kapal.
Kavin berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana dan tatapan matanya yang dilindungi oleh kacamata mengarah lurus ke depan, tepat ke sebuah dermaga pemberhentian.
Kavin bergerak membuka kacamatanya, lalu setelah itu dia gantungkan di sela atas kemeja putihnya. Laki-laki itu memejamkan mata kala angin yang tercipta dari kencangnya kecepatan boat menerpa wajahnya.
Dia bergerak membuka ikatan karet di rambutnya, hingga membuat untaian rambut panjangnya berterbangan.
'wow, mas kelihatan lebih keren dan ganteng memakai setelan kemeja seperti ini,'
Mika melakukan gerakan isyrat dengan senyum yang tersungging begitu lebarnya. Sedangkan Kavin yang mendengar itu hanya berdecak. Pasalnya sekarang laki-laki itu dipaksa untuk mencoba sebuah kemeja putih dipadukan dengan jas dan juga celana kain warna biru muda.
Sungguh Kavin sangat tidak suka dengan warna yang terlalu terang, tapi karena istrinya meminta. Dia dengan terpaksa memakai itu.
'jelek, sayang. Ganti yah. Kita beli yang warna hitam saja. Kamu tahu sendiri kalau aku lebih suka warna hitam,'
Mika merengek dengan jari telunjuk yang bergerak ke kiri dan kanan dan setelahnya wanita itu melakukan isyrat tangan.
Kavin yang melihat itu hanya terkekeh dia menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat situasi toko pakaian yang mereka masuki. Dirasa sepi, Kavin langsung memeluk istrinya dan mencium beruntun bibir mungil wanita itu.
'baiklah, karena istriku begitu memaksa. Aku sebagai laki-laki yang hormat kepada istri akan melakukannya, tapi dengan satu syarat. Kamu harus tetap bersamaku dan jangan pernah pergi dariku,'
Air mata Kavin perlahan terjatuh saat dia mengingat kenangan di mana, Mika masih berada di sisinya. Tidak ada raut sedih atau senyum. Laki-laki itu mengingat kejadian sebulan setelah pernikahan mereka dengan raut datar, tapi anehnya air matanya terjatuh.
'kau tidak bisa menepati janji, sayang. Kau dulu mengiyakan syarat yang aku berikan, tapi kenapa akhirnya menjadi seperti ini,'
Kavin hanya mengeluarkan kata-kata lirih itu di dalam hatinya. Dia hanya tersenyum ironi dan terkekeh di dalam hati. Sedangkan di luar wajahnya masih datar, seperti orang yang sudah mati ekspresi.
'tapi itu semua bukanlah salahmu. Kamu meninggalkanku karena aku sendiri. Seharusnya aku membawamu seperti yang sering aku lakukan,'
Kavin lagi dan lagi kembali menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang sudah menimpa istrinya. Laki-laki itu mulai membuka matanya dan bau khas dermaga langsung menyeruak masuk ke indera penciuman.
Laki-laki itu tanpa mau berlama-lama langsung melangkah berpindah ke sebuah jalan jembatan kayu. Padahal si pengemudi boat tadi ingin memberitahukan kepada Kavin, kalau mereka sudah sampai dermaga.
Namun, pengemudi boat itu urung melakukannya saat dia melihat, Kavin mengayunkan langkah. Ternyata perintah untuk tidak mengeluarkan suara itu harus dia lakukan, karen tanpa di suruh Kavin sudah bisa sendiri.
Sementara di sisi Kavin, laki-laki itu sudah melangkah menyusuri jembatan kayu untuk mendekat ke sebuah undakan tangga, agar sampai ke dermaga yang ada di atas sana.
Langkah demi langkah Kavin lakukan untuk menaiki anak tangga, 'aku akan membawamu pergi dari tempat ini,'
Kavin berucap dengan nada yang terdengar tergesa-gesa. Dia tidak peduli dengan kemejanya yang sudah basah kuyup di guyur hujan, karena di pikiran laki-laki itu adalah. Dia harus pergi membawa jasad Mika yang ada di peti mata malam ini juga.
'kita akan pergi jauh, hingga para pendosa itu tidak bisa lagi menyakiti dan menertawakanmu,'
Kavin menaiki salah satu kapal nelayan dan dia langsung mengendarai kapal itu menjauh dari dermaga, 'aku tidak ikhlas menguburmu di saat para pendosa itu masih menapakkan kaki mereka di tanah,'
Bersamaan dengan ingatan dua tahun itu, Kavin akhirnya bisa berdiri setelah menaiki sepuluh anak tangga. Laki-laki itu menggunakan kembali kacamatanya dan dia langsung melangkah dengan angkuh melewati puluhan orang yang berlalu lalang membawa ikan-ikan laut.
...T.B.C...
...Tes ombak, dan komen dong yok!...