
"Itu pertemuan pertamaku dengannya." Mahendra tersenyum, laki-laki lima puluh enam tahun itu sekarang tengah mengenang masa-masa indahnya dulu di Kuta.
"Aku bertemu dengannya di awal Januari. Senyumnya, membuatku lupa semua kepelikan yang terjadi dalam hidupku." Laki-laki itu kembali melanjutkan ceritanya.
Kavin masih diam dan dia memilih untuk mendengarkan. Jujur, saat ini dia juga sedang bernostalgia, mengingat awal mula pertemuannya dengan almarhum istrinya.
Sementara Liora, wanita yang memiliki garis wajah sama persis dengan milik almarhum Mika itu, hanya diam dan memilih untuk mendengarkan.
"Setelah itu, entah takdir atau apa. Aku kembali bertemu dengan wanita hitam manis itu."
Kembali ke 26 tahun lalu.
Mahendra berdiri tepat di jalan masuk ke salah satu penginapan yang ada di Kuta. Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya, untuk menghilangkan penat yang dia dapatkan di perjalanan.
Mahendra kembali melanjutkan perjalanan untuk masuk ke dalam lobi penginapan. Dia melangkah dengan satu tangan menggeret sebuah koper, yang di mana di dalam sana berisikan semua kebutuhan liburannya selama lima hari di sini.
"Selamat datang dan apakah ada yang bisa kami bantu?" Pegawai resepsionis langsung menyambut kedatangan Mahendra yang baru saja berdiri di depannya.
Sementara, Mahendra sendiri terlihat sedikit menyunggingkan senyum, "Kamar atas nama, Mahendra Sudarsono, apa?"
"Ah, iya. Ini, Kunci kamar anda, Tuan." Pegawai resepsionis itu langsung memotong ucapan blak-blakan, Mahendra. Dia bahkan menyodorkan kunci nomer enam ke depan laki-laki itu.
"Ah, terima kasih, Nona." Mahendra mengambil alih kunci itu dari tangan resepsionis.
"Satu lagi, bolehkah anda mengantarkan makan malam ke kamarku?" imbuh Mahendra, membuat resepsionis penginapan itu tersenyum dan mengangguk kepalanya.
"Tentu saja, nanti salah satu pelayan restoran hotel ini akan mengantarkan makanan ke kamar, Tuan." Mahendra tersenyum dan laki-laki itu langsung berlalu pergi dengan satu tangan masih setia menggeret kopernya.
Beberapa jam telah berlalu, Mahendra pun sudah dari satu jam yang lalu memindahkan semua pakaiannya yang ada di koper masuk ke dalam lemari yang sudah di sediakan di penginapan ini.
Sekarang laki-laki itu sedang duduk di sofa dengan satu tangan menyangga sebuah ponsel agar tetap dekat dengan telinganya.
"Iya, lakukan apapun agar kita bisa punya anak, Mas. Aku ingin sekali menggendong anak seperti wanita-wanita lainnya." Suara Lian yang terdengar sendu begitu nyata menyalami gendang telinga Mahendra.
"Tapi aku tidak ingin seperti itu. Memanfaatkan wanita lain hanya agar kita mendapat anak." Mahendra masih menolak ide istrinya yang memintanya dirinya menikah lagi, hanya agar mendapatkan anak lalu setelah itu dia harus langsung menalak wanita itu.
"Tidak ada cara lain, Mas. Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa mendapatkan anak." Lian masih kekeh. Wanita yang sebenarnya sangat terobsesi dengan harta warisan itu mulai membuat drama seolah dia ingin sekali mendapatkan anak.
Padahal maksud yang sebenarnya itu adalah, dia ingin anak hanya agar mendapatkan warisan.
"Kau ikhlas? Apa kau mau aku menduakanmu? Bagaimana nanti kalau aku jatuh cinta dengan wanita itu?" tanya Mahendra beruntun.
"Bunuh, jika kau bermain dengan perasaan. Kita akan membunuhnya dan kau hanya harus mengambil anak itu." Mahendra membulatkan mata terkejut. Dia tidak percaya kalau istrinya akan mengatakan hal kejam seperti itu.
"Jika kau tidak menyetujui ini, akulah yang akan bunuh diri, Mas." Panggilan langsung terputus. Seketika Mahendra melempar ponselnya tepat ke depan meja kecil terbuat dari kayu yang ada di depannya.
Mahendra menjambak rambutnya prustasi. Pasalnya dia tidak habis pikir dengan istrinya itu.
Namun, rasa prustasi itu tidak bertahan lama karena sedetik kemudian suara khas ketukan, menyalami gendang telinga Mahendra.
Laki-laki itu bergerak bangkit dan langsung berjalan mendekat ke pintu masuk kamarnya.
Mahendra menarik pintu untuk membuka dan kedua matanya langsung terpaku, "Anda?" cicit Mahendra saat manik hitamnya melihat sosok wanita yang beberpaa jam lalu dia temui di bandara.
Sementara wanita yang sekarang tengah membawa nampan berisikan beberapa makanan untuk Mahendra, hanya tersenyum.
...T.B.C...
...Bagaimana part ini?...