Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 14: All About Mika



Setelah melaksanakan teriakan, Liora langsung terengah-engah dan semua itu disebabkan oleh tatapan yang mengintimidasi dari Kavin.


Liora takut, telapak tangan yang ada di belakang sandaran kursi mulai mengeluarkan keringat pun keningnya juga sudah dipenuhi oleh butiran-butiran peluh asin karena wanita itu sedang merasa cemas.


Iya, cemas karena dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang gila di depan ayahnya itu.


Sementara di sisi laki-laki paruh baya yang bernama, Mahendra Sudarsono itu sekarang sedang tengah berhadapan dengan, Agam.


Iya, Agam. Adik sekaligus rekan Kavin yang akan membantunya dalam rencana alas dendam ini sekarang tengah, menjambak rambut hitam yang sedikit beruban milik Mahendra.


Sedangkan Mahendra sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak menyangka kalau ini akan terjadi. Padahal setelah dia membunuh anak yang dia anggap aib itu, ia mengira akan hidup dengan damai kembali.


Namun, ralitanya berbeda dengan ekspektasi yang setiap malam dia bayangkan, "Apa ini ajalku?" cicit Mahendra, membuat Kavin menoleh dan menatap benci laki-laki tua itu.


Jujur, dari semua orang yang ikut ambil andil dalam kematian, Mika, hanya laki-laki ini yang paling Kavin benci setengah mati.


Andaikan saja laki-laki tua itu tidak datang, mungkin Mika tidak akan meninggal untuk selamanya.


"Iya, kau akan mati! Akan aku perlihatkan betapa sakitnya detik-detik kematianmu, sialan!" Kavin kembali hilang kendali dan entah sejak kapan kedua tangannya mencekik leher Mahendra.


Mahendra mulai mengap-mangap karena cekikan di lehernya, membuat ia sangat sulit bernapas.


Agam yang melihat kegilaan kakaknya tidak menghentikan. Malahan dia kelihatan ikut menikmati, "Kubunuh! Kubunuh kau badebah!" Kavin semakin hilang kendali dan laki-laki itu pun menaikkan kekuatan genggaman tangannya.


Mahendra mulai menghentakkan kakinya seolah memberikan tanda kalau dia ingin dilepaskan. Namun, Kavin yang sudah kalang kabut tidak menghiraukan itu.


"Hentikan! Jangan lakukan itu, Papa!" Kavin berhenti dengan sendirinya saat dia mendengar suara anak kecil berteriak meminta dia berhenti.


Senyum Kavin terbit diantara temaramnya suasana ruangan tua itu, "Mi— Mika." Laki-laki itu mulai berjalan tertatih seirama dengan cara bicaranya yang tergagu.


"Kau ada di sini dan anak kita juga?" Aileen tersenyum seolah wanita itu hanya ingin membalas perkataan suaminya dengan itu.


Berbeda dengan bocah wanita kecil yang saat ini sedang melambaikan tangannya untuk menyapa, Kavin, "Papa, Papa, Papa," panggil riang bocah itu dengan terus mengulanginya, hingga Kavin sendiri merasa bahagia mendengar panggilan itu.


"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu kepada, Papaku." Liora Sudarsono yang sudah sedikit tenang mulai memohon, tapi itu tidak membuat Kavin mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Bagaimana? Apa kau menyukai semua yang aku lakukan ini?" Kavin mulai bicara dengan nada yang tidak gagu lagi.


Mika yang mendengar itu lagi-lagi tersenyum, "Itu hidupmu, Mas. Jadi, terserah Mas mau melakukan apapun." Lantunan nada bicara yang sangat merdu mengalun keluar dari bibir Aileen. Sungguh, Kavin yang mendengar itu langsung dibuat memejamkan mata dan tepat saat dia kembali membukanya, sosok itu menghilang.


Kavin kembali bertingkah layaknya seorang yang kesetanan. Berteriak-teriak seolah tidak peduli kalau nada bicara yang dia keluarkan kencang dan bisa saja didengar dari luar. Namun, itu tidak dia takuti, toh tempat ini jauh dari pemukiman warga.


"Dua puluh enam tahun lalu aku berlibur ke pulau Lombok." Kavin langsung berhenti melakukan gerakan, Liora yang tadi menangis pun ikut diam dan menatap ke arah Mahendra yang tiba-tiba menyeletuk.


"Aku bertemu wanita cantik, tapi dia seorang pengidap tuna rungu," lanjut laki-laki tua itu dan Kavin semakin tenang tapi tidak untuk dalam dirinya yang sudah ingin sekali membunuh laki-laki itu.


"Aku mendekatinya dan kami terjebak dalam kisah semalam. Itu terjadi saat aku sudah berumah tangga." Mahendra menjeda ucapannya hanya untuk mengambil napas dalam-dalam, "aku mencintainya, tapi tujuanku sebenarnya adalah memanfaatkan dia agar bisa mendapatkan seorang keturunan untuk keluarga istriku."


...T.B.C...


...Mau lanjut enggak nih?...