
"Hai, kau ke mana?" Kavin diam saat gendang telinga menangkap suara terlewat bahagia yang dikeluarkan oleh seorang yang sedang, melakukan panggilan suara dengannya.
"Katakan keadaan di sana?" tanya Kavin datar dengan tangan bergerak memutar stir kemudi mobilnya ke kanan.
Kavin berdecak saat dia mendengar laki-laki teman ngobrolnya di seberang sana mengeluarkan Subah tawa, "Katakan atau pita suaramu kuhancurkan."
"Baiklah, baiklah. Semua beres, lokasinya sama seperti tiga hari yang lalu, dan ...." Kavin kembali mengeluarkan decakan saat dia mendengar laki-laki temennya mengobrol itu menjeda ucapannya.
"Keduanya ada di sini. Wanita model itu juga ada di sini."
Kavin mematikan sambungan teleponnya. Laki-laki berwajah datar dan memiliki aura menyeramkan itu, melempar ponselnya ke kursi penumpang yang ada di sebelahnya.
Ponsel itu tepat terjatuh di atas sebuah jaket hitam dan celana jeans, "Kau denger? Sekarang giliran mengirim dia untuk menemanimu, Sayang."
Tiga puluhan menit mobil melaju, dan terlihat kendaraan roda empat itu sudah terparkir rapi di pinggir jalan.
Damar terlihat sudah berganti pakaian, dari yang tadinya mengenakan pakaian kantor lengkap, sekarang sudah berubah menjadi sebuah jaket dengan tudung kepala dan celana jeans sobek-sobek.
Kavin mulai mengayunkan langkah memasuki sebuah hutan dari jalanan setapak yang ada di sebuah kirinya.
Laki-laki itu berjalan dengan tatapan lurus ke depan dan kedua tangan berada di saku jaket.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Kavin sudah bisa melihat sebuah bangunan tua. Laki-laki itu terus mengayunkan langkahnya.
Tangan kanannya terulur ke depan untuk meraih gagang pintu. Suara decitan pintu terdengar menggema memenuhi area bangunan tua itu.
Kavin melangkah masuk ke dalam dan sesampainya di di sana, satu tangannya langsung bergerak untuk menutup pintu tua itu kembali.
"Hai, aku sudah lama menunggumu," seorang pria berjaket yang duduk jongkok dengan kedua tangan berada di lutut, terdengar menyapa Kavin.
Laki-laki muda itu meloncat untuk bangkit dari jongkoknya. Dia menendang sebuah kursi beroda ke arah Kavin, "Silahkan anda duduk.
Kavin tak menjawab. Dia memilih untuk mendudukkan pantatnya tepat di tengah-tengah dua orang yang sekarang sedang dalam posisi terikat di sebuah kursi kayu.
"Siapa kalian?" tanya laki-laki terikat di sebelah kiri Kavin.
"Papa hentikan dan jangan bicara lagi!" tawanan wanita yang duduk terikat di sebelah kanan Kavin menimpali perkataan laki-laki tadi.
"Hai kau tua bangka!" Laki-laki berjaket yang tadi menendang kursi beroda untuk Kavin, mulai berjalan mendekati tawanan pria yang dipanggil Papa tadi, oleh tawanan wanita, "apa dari tadi kau tidak bisa diam?"
Si laki-laki teman Kavin langsung menghadiahkan satu pukulan telak mengenai tengah-tengah wajah di tawanan pria, membuatnya mengeluarkan sebuah ringisan.
"Hentikan! Jangan pukuli, Papaku lagi sialan!" si tawanan wanita berteriak membuat teman laki-laki Kavin langsung menghadiahkannya sebuah tamparan.
Kavin yang melihat kelakuan temannya itu hanya menyeringai, "Buka penutupnya!" perintah Kavin dan laki-laki berjaket hitam itu langsung menoleh.
"Baiklah, tapi aku minta kau jangan hilang kendali." Teman laki-laki itu langsung menarik karung goni yang menutupi kepala dua tawanannya yang tiga hari lalu berhasil dia tangkap di sebuah kelab malam.
"Mika!" Kavin berdiri dan kakinya sedikit terhuyung saat dia melihat sosok wankta yang tengah terikat itu sangat mirip dengan istrinya, "di— dia datang menemuiku. Mika datang menemuiku," imbuhnya dengan seutas senyum dan tatapan mata yang berkaca-kaca.
...T.B.C...
...Nah kan Kavin mulai oleng nih gays. ...
...Gimana nih?...
...Hari ini dua bab dulu yah, besok aku usahakan tiga bab....
...Dukung karya ini dengan bantu like, komen, dan vote, serta share juga. ...
...Semoga suka...
...I Love You All...