
"Itu pertemuan keduaku dengan dia." Mahendra berujar dengan nada yang begitu sangat lirih.
Nampak jelas guratan kesedihan di air muka laki-laki paruh baya tersebut, tapi tetap saja itu tidak membuat hati dingin Kavin tersentuh. Malahan sekarang laki-laki itu sedang sulit-sulitnya menahan amarah agar dia tidak bisa lepas kendali.
Mahendra menatap ke langit-langit ruangan. Laki-laki itu tersenyum. Mungkin sekarang dia tengah bernostalgia. Mengingat kenangan indah atau sejenisnya.
"Kami menghabiskan waktu bersama. Dia menjadi pemandu wisataku, penyedia makanan serta kebutuhanku, dan masih banyak hal."
Mahendra menjeda ucapannya. Liora yang terikat di sebelah kiri, masih setia menjadi pendengar. Jujur, otaknya sekarang masih tidak bisa mencerna apa yang ayahnya ceritakan.
"Aku yang awalnya berniat di sana cuma satu Minggu, malah menetap kisaran setahun empat bulan. Istriku yang ada di sini tidak marah, karena dia mendesak diriku untuk membuat wanita itu jatuh cinta. Tapi, pada akhirnya akulah yang jatuh cinta."
Mahendra masih tersenyum. Malahan, senyum laki-laki itu bahkan lebih lebaf dari sebelumnya, "Setelah aku mengatakan cinta. Kami menikah sirih. Istriku tahu, tapi dia membiarkan dan masih mengira kalau aku hanya akan memanfaatkan wanita itu. Padahal waktu itu aku tulus padanya. Bahkan aku berniat menetap di sana dan tidak pulang lagi ke ibu kota."
Mahendra menghentikan ceritanya dan laki-laki itu menoleh untuk melihat Liora yang saat ini mulai menitikkan air mata. Iya, wanita itu sudah mengerti dari cerita ini.
***
Kembali ke 26 tahun lalu.
"Selamat, istri Anda tengah mengandung dan sepertinya dua sekaligus."
Mahendra tersenyum dan laki-laki itu langsung bergerak memeluk dokter kandungan yang tadi memeriksa keadaan, Reva Anaya, istrinya yang saat hari ini dinyatakan mengandung anak kembar.
"Terima kasih, Dok." Dengan nada bergetar karena bahagia, Mahendra berucap.
Laki-laki dari kota yang sudah menetap selama empat bulan di Kuta ini, sekarang tengah bahagia. Reva yang melihat tingkah suaminya, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Pak, seharusnya Anda memeluk istri, Anda dan bukan saya." Kata-kata itu berhasil membuat Mahendra sadar dan langsung mengurai pelukannya.
"Maaf." Mahendra meminta maaf dan dia langsung menatap sang istri yang saat ini masih tertawa dalam kebisuan.
Reva diam, tapi wanita itu tersenyum. Dia juga membalas pelukan Mahendra dengan begitu hangat.
Mahendra mengurai pelukannya dan bergerak membingkai wajah istrinya, "Kita akan pulang dan memberitahukan semua ini ke seluruh desa." Dengan tampang yang dipenuhi kebahagiaan, Mahendra berucap.
Reva yang mendengar itu hanya tersenyum dan dia tidak lupa untuk menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Apa ada yang harus saya selesaikan lagi? Contohnya tebus obat atau apa?" tanya Mahendra yang spontan.
Dokter kandungan itu tersenyum, "Istri Anda tidak sakit. Jadi, dia tidak perlu obat, tapi usahakan jangan buat dia merasa lelah," jelas sang Dokter dan Mahendra yang mendengar itu langsung tersenyum.
Laki-laki kota itu menganggukkan kepalanya dan dia kembali melirik ke arah istrinya, "Dengar? Mulai sekarang kau harus tetap berada di rumah. Biarkan aku yang bekerja."
Reva hanya menganggukkan kepalanya patuh dan setelah itu dia beranjak turun dari brankar. Mahendradatta tidak diam saja. Dia membantu istrinya untuk turun dengan cara memegangi kedua tangan wanita itu.
Setelah Reva memijak lantai. Mahendra langsung merangkulnya dengan penuh sayang. Laki-laki itu kembali melihat ke arah, Dokter, "Kalau begitu, Saya permisi dulu."
Dokter kandungan itu menganggukkan kepalanya dan dia langsung mempersilahkan pasiennya untuk beranjak pergi.
***
Suara dering telepon membuat, Mahendra mengehentikan langkah dan Reva yang sedari tadi ada dirangkul laki-laki itu ikut berhenti.
"Kau keluar duluan. Aku akan mengangkat telepon ini lebih dulu!" Perintah Mahendra dan Reva tanpa curiga mengikuti.
Selepas kepergian sang istri. Mahendra sedikit menepi dari lorong rumah sakit. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri.
Dirasa cukup aman. Dia bergerak menerima panggilan telepon dari istrinya yang ada di Jakarta, "Pulanglah setelah anak itu lahir. Aku turut bahagia mendengarnya."
...T.B.C...