Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 10: Darah Kedua



Malam ini angin berembus begitu kencang, membuat sepasang manusia yang saat ini duduk di tepian pantai langsung terpejam karena betapa nikmatnya, belaian lembut hawa dingin yang datang dari tengah laut sana.


Sekarang Kavin duduk dengan posisi kaki kiri dibiarkan terentang ke depan dan kaki kanan dia tekuk. Kemudian tangan kirinya sedari tadi tidak berhenti untuk melingkari punggung Mika.


Iya, sekarang Kavin duduk dengan sang istri. Dia memposisikan wanita itu duduk dengan sisi kepala kanan bersandar di pundaknya.


"Apa kamu menyukai suasana di pulau ini?" tanya Kavin yang di mana hanya dijawab oleh suara pohon-pohon kelapa yang bergoyang dan deburan ombak di bibir pantai.


Kavin tahu kalau istrinya tidak akan menjawab, dia mengeluarkan pertanyaan hanya untuk memecahkan suasana hening di antara mereka saja.


Tangan kiri yang sedari tadi membelai punggung Mika mulai bergerak naik ke pundak kiri wanita itu, pun setelahnya, Kavin langsung membelai pipi tirus nan pucat milik sang istri.


"Aku lupa kalau tadi ada yang ingin aku tunjukkan padamu."


Kavin bergegas merentangkan kaki kanannya. Laki-laki itu langsung meronggoh saku celana jeans bagian kanan untuk mengeluarkan sebuah ponsel.


Setelah mendapati apa yang dia inginkan, Kavin langsung kembali menekuk kaki kanannya. Laki-laki itu terlihat sibuk bermain dengan ponselnya dan setelah ada suara debuman musik DJ yang keluar dari dalam benda pipih itu, Kavin langsung memperlihatkan layar hp miliknya ke sang istri yang hanya diam dengan mata terpejam.


"Lihat wanita yang menggunakan dress pink itu!" perintah Kavin layaknya seorang manusia tidak waras.


Iya, tidak waras. Anda bayangkan saja bagaimana mungkin bisa orang yang sudah mati akan menjawab iya disetiap apa yang kita tanyakan. Apa itu semua dilakukan oleh orang waras?


Tidak bukan? Tentu saja tidak akan. Akan tetapi, beruntunglah di pulau ini hanya ada Kavin seorang. Jadi, laki-laki itu tidak terlalu kelihatan aneh.


"Iya, aku tahu wajahnya sangat mirip denganmu. Tapi, tetap saja aku bisa mendapatkan banyak perbedaan antara kamu dan dia."


Kavin berbicara seolah laki-laki itu tadi mendapatkan jawaban dari sang istri. Bahkan saat menjawab tadi dia masih sempat-sempatnya mengulas seutas senyum yang terlihat begitu pilu.


"Kamu tidak percaya kalau aku bisa membedakanmu dengannya? Apa sekarang kamu sedang meragukan suamimu ini?"


Kavin lagi-lagi berucap seolah dia memang benar-benar tengah mengobrol dengan istrinya. Lihat, betapa gembiranya wajah yang seharian penuh itu sudah menunjukkan ekspresi datarnya.


Kavin melepas ponsel yang sedari tadi dia pegang menggunakan tangan kanan hingga benda pipih itu, tergeletak di atas butiran-butiran pasir putih.


Laki-laki itu mulai menoleh meiliha wajah damai Mika yang sepanjang hari matanya selalu terpejam. Sering kali Kavin berkhayal kalau dia akan melihat Mika bangkit dari kematiannya.


"Kamu wanita yang sangat berbeda. Mungkin bagi semua orang kamu itu hanyalah seorang wanita dari desa, tapi bagiku kamu wanita tercantik di dunia. Iya, terserah orang menganggap aku lebay tapi itukan dari pandanganku sendiri."


Kavin menjeda ucapannya hanya untuk bergerak memindahkan posisi wanita itu ke atas pangkuannya. Dia mulai memeluk tubuh Mika sangat erat.


Laki-laki itu mulai mengecup kening Mika. Kedua matanya terpejam saat kecupan itu ia lakukan begitu dalam dan penuh cinta.


"Kamu juga wanita yang pemberani, wanita yang paling baik di dunia, dan jika kamu memintaku untuk menyebut semua perbedaan antara kamu dan dia. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun karena semalam saja tidak cukup untuk menyebutkan kelebihan istriku ini."


Kavin berucap dengan nada berbisik di kening Mika. Laki-laki itu semakin mendekap tubuh tak bernyawa sang istri dengan sangat eratnya.


Kavin tersenyum saat dia samar-samar mendengar suara cekikikan seorang wanita, entah itu nyata atau tidak. Dia juga ikut mengeluarkan tawa kecil.


"Kamu menertawakanku? Kamu sudah berani menganggap suamimu lelucon kah?"


Kavin tersenyum begitu riangnya seolah malam ini adalah malam paling bahagia setelah dua tahun kematian istrinya.


Namun, seketika senyum itu luntur saat dering suara telepon memecah keheningan di tepi pantai ini. Kavin tanpa melihat si penelpon langsung menerima panggilan suara itu.


"Eh— kok tidak ada musik DJ?" suara riang seorang laki-laki terdengar menusuk gendang telinga Kavin, tapi laki-laki yang sudah kembali berwajah datar itu tidak bereaksi sedikit pun, "apa setelah aku pergi dari tempat itu, kau tidak ke sana?"


"Katakan!" perintah Kavin langsung ke intinya, membuat si penelepon terkekeh seolah menganggap perintah itu sebagai guyonan.


"Darah kedua sudah didapatkan da-"


Kavin langsung memutus panggilan. Laki-laki itu menyeringai seolah tadi adalah kabar yang begitu menggembirakan untuk dia dengar.


"Aku kira bakalan butuh waktu lama untuk mendapatkan dia, tapi— sudahlah. Semakin cepat, semakin baik." Kavin menyeringai membuat suasana pantai yang tadinya romantis menjadi terkesan gelap dan menyeramkan.


...T.B.C...


...Satu kata yang ingin aku katakan, tolong maafkan diriku ini wahai para reader. maaf bener jika kalian kecewa karena aku jarang banget update....


...udah itu aja, coret-coret aja perasaan kalian setelah baca cerita ini di kolom komentar, see you next part....