
Dear Suamiku.
*Hai, bagaimana kabarmu, mas? Apa mas pulang dengan selamat dari, Australia? Apa setelah pulang, mas sudah makan? Mas sekarang harus jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak begadang, jangan terlalu sibuk kerja. Pokoknya mas harus jaga kesehatan, karena setelah mas pulang nanti, aku mungkin sudah tidak ada lagi di sisi, mas*.
*Aku mungkin sudah pergi jauh dan pulang ke asalku. Maaf jika selama ini aku sering ngerepotin mas, maaf selama ini aku sudah sering buat mas malu, dan maaf jika selama ini aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas*.
*Mas ... Aku pergi. Aku tidak akan kembali lagi karena jika terus berada di sisi mas, aku bakalan sangat-sangat malu. Aku sudah kotor, semua tubuhku sudah dipenuhi kotoran dan mungkin setelah mas pulang nanti. Mas tidak akan mau melirikku dan aku jamin mas tidak akan lagi mau menyentuhku*.
*Mas ... Aku pergi. Aku kembali ke daerahku dan seharusnya itu sudah dari dulu aku lakukan. Jujur saja, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku sangat menyesal pergi meninggalkan daerahku. Seharusnya orang kampung sepertiku ini memang tidak pernah pergi ke ibu kota*.
*Aku menyesal mas, sangat menyesal. Seharusnya mas tidak membawaku pergi, seharusnya mas tidak masuk ke dalam hidupku yang damai, seharusnya mas tidak melakukan itu semua karena hal itu menghancurkan hidupku*.
*Mereka semua menghancurkan aku, mereka semua menghinaku, mereka semau melecehkanku, dan itu semua karena mas menikahiku. Kenapa mas menikahiku? Apa karena, mas mencintaiku? Tapi, jika mas mencintaiku kenapa pas dua orang yang memeriksa ledeng itu memperkosaku, mas tidak ada di sini*?
*Kenapa, mas? Mas tahu ... Di saat mas di sana berganti pasangan tidur dengan wanita, aku di sini disiksa. Aku digauli dengan kasar oleh mereka, hingga anakku ... Anak kita mati. Tetapi, aku tidak seharusnya menyalahkan mas karena di sana mas bekerja*.
*Selama sepuluh hari aku tersiksa di sini. Aku diikat, aku dipukuli, aku di tiduri, dan aku di ancam. Iya, ada empat orang yang datang setelah dua orang ledeng itu pergi. Mereka berempat mengancam akan menyebarkan video pemerkosaan diriku ke internet*.
*Mereka melakukan itu karena mereka ingin aku pergi. Jika aku tak pergi dari hidup mas, mereka mengatakan akan membuat karir mas hancur. Aku tidak bisa melihat karir yang mas bangun dari nol hancur begitu saja, karena aku*.
*Aku tidak bisa melakukan itu ... Maka dari itu hari ini aku pergi. Aku berharap setelah mas pulang nanti, mas tidak mencariku. Jika mas mencariku, maka mas akan kehilangan karir. Biarlah aku yang membawa ini semua sendiri*.
*Mas boleh menikah lagi, karena aku sudah menandatangani surat cerai. Aku menyimpannya di lemari dan jika mas menandatanganinya juga. Maka kita akan bercerai. Kata salah satu dari empat orang yang mendatangiku itu*.
*Apa mas bertanya-tanya siapa empat orang yang mendatangiku itu*?
Kavin menjatuhkan surat yang ditulis tangan oleh Mika dua tahun yang lalu. Tidak ada raut wajah kesedihan yang nampak di tatapan matanya yang tajam.
Beberapa figur foto itu diletakkan seperti struktur yang di mana di urutan paling atas hanya ada satu foto. Kemudian ada garis warna merah yang sedikit kebawah, lalu ada garis horizontal warna serupa.
Di garis horizontal itu dibagi menjadi tiga bagian yang di mana di bawah setiap garis terdapat satu figur foto. Tetapi, bedanya foto yang berada di tengah-tengah ada sebua garis vertikal kecil yang disekat oleh garis horizontal.
Di masing-masing ujung garis horizontal itu terdapat garis vertikal kecil yang di mana menunjukkan dua foto.
Kavin menyeringai, tatapannya semakin tajam pun terkesan lebih menyeramkan. Rahang tegasnya yang dulu bersih tanpa bulu-bulu halus, malah sekarang di sana tumbuh subur dan juga lebat.
"Kalian pasti menunggu sangat lama, bukan?" tanya Kavin dengan kedua mata masih menatap begitu tajam deretan foto yang tertempel di permukaan papan hijau itu.
Kedua tangan Kavin bergerak meraih sebuah gelang karet yang tercacar di permukaan meja. Laki-laki yang sudah berusia dua puluh sembilan tahun itu bergerak mengigit karet tersebut.
Sekarang kedua tangannya bergerak mengumpulkan panjang berwarna hitam kecoklatan miliknya. Kavin kembali mengambil gelang karet di bibirnya untuk mengikat cepol rambutnya.
Laki-laki bergaris wajah tegas dengan tatapan mata yang terus saja memancarkan hawa dingin menyeramkan itu masih setia menatap lurus ke depan.
Kavin bergerak mengambil sebilah pisau yang ada di permukaan meja dan dia langsung menancapkan benda tajam yang di penuhi bercak darah itu, ke sebuah digur foto yang di mana, di atasnya tertulis kata "bonus".
"Kaulah pendosa pertama yang harus di musnahkan," gumam Kavin dengan seringai menyeramkan. Laki-laki itu bergerak untuk menjatuhkan pandangan ke bawah, tepat di mana ada mayat seekor kucing, "Bukan begitu, Mira?" tanya Kavin dengan air mata dan mimik wajah tersenyum. Dia menangis sekaligus tersenyum karena selama dua tahun, laki-laki itu berhasil merubah dirinya menjadi seorang pria berdarah dingin.
...T.B.C...
...Part satu dulu yah kan....
...Tes angin dulu....