
Kavin sekarang sedang duduk di dalam mobil. Dia mengendarai kendaraan roda empat itu ke restoran yang di mana, si penelepon tadi memberitahukan dirinya.
"Ada apa dengan jalanan kota brengs*k ini?" dumel Kavin tanpa ekspresi dan tatapan tajam mengarah ke depan yang di mana, di depan sana sudah dipenuhi oleh kendaraan.
Iya, Kavin sekarang terjebak di dalam kemacetan. Dia yang sekarang tengah terburu-buru justru membuang-buang waktu di tengah kepungan macetnya lalu lintas kota Jakarta.
Kavin memencet kelaksonnya agar mobil-mobil yang ada di depannya bergerak, "Sialan!" umpat Kavin dengan mimik wajah datar, tapi saat ini dia sangat-sangat kesal setengah mati.
Kavin melirik ke arah jam tangan yang terpasang di lengan kananya. Dia mengeluarkan decakan saat jarum pendek jam menunjuk ke nomer tujuh dan jarum panjang jam menunjuk ke nomer sembilan.
"Cepatlah! Brengs*k! Sebenarnya, apa yang kalian lakukan di depan sana!" Kavin mengomel dengan raut wajah datar dan sialnya semua omongan yang keluar dari dalam mulutnya sudah pasti tidak ada yang akan mendengar. Alhasil, Kavin hanya menggeram marah.
Satu jam telah berlalu dan sekarang Kavin sudah memarkirkan mobil berwarna hitamnya di parkiran Restoran sea king, yaitu. Salah satu tempat makan berkelas yang ada di pusat kota dan di tempat ini. Aneka makanan laut dapat anda jumpai.
Kavin bergerak keluar dari dalam mobil. Rambutnya yang panjang hingga pundak dia biarkan tergerai. Pakaiannya juga sudah berganti menjadi kaos abu sebagai dalamnya dan jaket denim berada di luar. Kemudian untuk celana, dia mengenakan jeans robek-robek dipadukan dengan sepatu santai bersama hitam putih.
Kavin dengan wajah datarnya berjalan ke pintu masuk. Tangan besarnya bergerak terulur ke depan dan dia langsung mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu, untuk membuat jalan masuk ke dalam restoran.
Kavin celingukan mencari tempat duduk di penelepon tadi. Saat kedua mata hitam bergaris kecoklatannya melihat sosok laki-laki menggunakan jaket dengan hoodie yang terpasang duduk di paling ujung, Kavin langsung mengayunkan langkah mendekat ke tempat itu.
Dia tanpa banyak bicara langsung memposisikan diri untuk duduk di hadapan laki-laki misterius berhoodie itu, setelah sampai di meja paling ujung dan juga terkesan sepi.
"Apa anda mau memesan makanan dulu?" tanya laki-laki berhoodie itu menawarkan Kavin untuk memesan makanan, seperti dirinya yang sudah menghabiskan sepiring makanan laut dan segelas jus jeruk.
"Anda memang selalu saja tidak sabaran."
Laki-laki berhoodie itu mengeluarkan dua lembar foto yang di mana, memperlihatkan dua orang laki-laki yang tengah berbicara dengan wanita.
"Dua wanita itu adalah istri mereka," ucap laki-laki berhoodie itu memberitahu, Kavin.
Kavin yang mendengar itu langsung bergerak mengambil dua foto itu. Dia melihatnya dengan sorot mata tajam dan seringai yang sangat menyeramkan.
"Lakukan sesuai rencana. Bawa dua laki-laki itu ketempat yang sudah kita rencanakan!" perintah Kavin sembari bergerak berdiri dari duduknya.
"Lalu, istrinya?" tanya Laki-laki berhoodie itu dengan nada bingung.
"Terserah, aku hanya menginginkan kedua laki-laki ini ada ditempat yang sudah kita sepakati. Tetapi, aku meminta kau untuk membuat dua wanita itu bernasib sama dengan istriku."
Setelah mengatakan itu Kavin berlalu pergi. Seringai dan tatapan tajamnya masih setia dia tunjukkan. Malahan para pengunjung restoran itu langsung bergidik ngeri melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Kavin.
"Bersiap-siaplah, brengs*k. Darah kalian berdua akan menjadi persembahan pertama untuk istriku," gumam Kavin dengan masih mempertahankan seringai menyeramkannya.
...T.B.C...