
Selamat Pagi, Istriku,'
Sapa Kavin sembari memeluk pinggang Mika yang lagi sibuk memasak di dapur. Kavin menempatkan dagunya di pundak kanan Mika dengan kepala sedikit menunduk.
Sementara Mika yang mendapati suaminya memeluk dirinya dari belakang hanya tersenyum. Tangannya masih setia memegangi sutil yang di mana, dia gunakan untuk membolak-balik tempe yang pagi hari ini dia goreng.
'aku suka tempe, bukan begitu Mira?' cicit Kavin yang melihat makan yang saat ini dibuat oleh Mika.
Sementara Miranda hanya bisa mengeong dengan terus saja berjalan riang mengelilingi kaki Mika dan juga Kavin.
'nanti akunya disuapi yah,' ujar Kavin manja dan Mika yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya sembari tangan melepas sutil yang sedari tadi dia pegang.
Mika memutar tubuhnya agar berhadapan dengan sang suami. Dia bergerak mencubit hidung mancung Kavin dengan wajah yang melukiskan senyum.
'iya, tapi sekarang kau pergi mandi dulu sana,'
Kavin hanya tersenyum sumir. Baru saja dia menapakkan kaki di apartemen yang sudah dia tinggali selama dua tahun itu, dia langsung disambut oleh bayang-bayang kenangan lalu, saat dia dan Mika baru saja pindah ke sini.
Kavin hanya memejamkan mata. Raut datarnya masih setia menghiasi wajah suram laki-laki itu, "Mika," gumam Kavin dengan kaki yang melangkah mendekat ke sofa yang ada di ruang keluarga Apartemennya.
Tangan kanannya juga menarik karet yang mengikat rambutnya, hingga surai hitam kecoklatan panjang miliknya itu terurai. Kavin merebahkan dirinya di sofa. Dia menyadarkan punggungnya dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan diri, setelah hari-hari melelahkan yang dia lakukan di rumah keluarga besarnya.
Kavin mulai terlelap dan mengeluarkan dengkuran halus yang terdengar sangat damai.
Byur!
Sontak Kavin langsung membuka matanya saat area wajahnya diguyur oleh air yang sialnya terasa sangat-sangat dingin. Kavin hendak marah, tapi itu udang dia lakukan saat melihat sosok perempuan yang saat ini berdiri di depannya dengan raut wajah menyeramkan.
"Mau sampai kapan, Mas malas-malasan seperti itu?" omel perempuan yang mengenakan daster dengan rambut diikat cepol itu, membuat Kavin semakin menganga.
"Lihat sudah jam berapa, Mas?" imbuh Perempuan itu dengan telunjuk tangan menunjuk ke arah jam yang ada di ruang keluarga, "Sekarang sudah jam tujuh pagi, tapi mas masih tidur saja," lanjut perempuan itu masih dengan ekspresi marah.
Kavin yang melihat itu tentu saja langsung menyunggingkan senyum. Wajah datarnya seketika hilang, "Mi— Mika?" panggil Kavin dengan gugup, pun tatapan mata yang memancarkan ketidak percayaan.
"Apa Mika, Mika. Sekarang, Mas pergi mandi dan cepat bersiap-siap!" perintah Mika dengan masih bernada mengomel.
"Mama! Berhenti memarahi, Papa. Kenapa, Mama selalu saja mengomelinya?" Kavin semakin melongo saat dia melihat seorang gadis kecil berpakaian sekolah dengan rambut yang terikat rapi, berdiri di depan.
Dilihat dari garis wajah bocah perempuan itu dia terlihat mirip seperti Kavin, tapi untuk warna rambutnya. Dia lebih mirip Mika.
"Bagus, bela saja Papamu it-"
"Aku sangat merindukanmu, tetaplah di sini bersama denganku, sayang." Perkataan Mika terhenti karena tiba-tiba saja Kavin memeluknya dengan sangat erat.
Kavin melirik ke arah Mika yang sekarang sudah tersenyum dan tidak marah-marah lagi, "Padahal kemarin, Papa bilangnya Han sayang Zia, tapi sekarang kenapa Mama dipeluk sedangkan Zia dilupakan," imbuh bocah perempuan itu dengan wajah dibuat cemberut.
Kavin bergerak untuk berjongkok di hadapan bocah perempuan itu, tapi baru saja kedua tangannya hendak memegangi pundak Zia. Bocah itu tiba-tiba berlari dan berdiri di sebelah Mika.
"Semangat, Papa. Papa pasti bisa, kata Mama. Papa itu laki-laki super yang bisa menembakkan laser," ujar bocah perempuan yang tiba-tiba saja berhenti cemberut dan justru menyunggingkan senyum. Bahkan senyumnya sama seperti Mika.
"Kau pasti bisa melewati semua ini, Mas. Aku percaya kalau, Mas orang yang kuat."
Bukannya bahagia, Kavin yang mendengar kata-kata dua wanita beda usia itu tersenyum dengan senyum yang terlihat sangat nanar. Pasalnya, saat ini dia melihat kalau tubuh Mika dan bocah yang ada di sebelahnya itu mulai menjauh.
Kavin merentangkan tangan dan kepalanya menggeleng, "Sayang, jangan tinggalkan aku, Mika."
Kavin berucap dengan nada yang terdengar penuh harap. Mika dan bocah perempuan yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Mika!"
"Jangan tinggalkan aku, Mika!"
"Mika!"
Kavin bangun dari tidurnya. Padahal laki-laki itu hanya memejamkan mata sesaat, tapi dia sudah memimpikan Mika beserta anak kecil misterius yang di mana, di setiap mimpi laki-laki itu. Dia selalu dipanggil dengan sebutan, Papa.
Kavin dengan wajah datar menatap lurus ke depan. Sungguh. Setiap dia bermimpi seperti itu, Kavin langsung ingin terlelap kembali dan itu dia lakukan hanya untuk mendapatkan mimpi yang sama.
Namun, itu tidaklah mungkin terjadi. Entah kenapa mimpi itu tidak bisa lagi dia dapatkan jika tidur untuk kedua kalinya.
Kavin memijat pelipisnya, karena tiba-tiba rasa nyeri menyerang. Dia bergerak untuk melihat jam yang terpasang di dinding ruang keluarga.
Jam enam malam tepat, langsung menyambut tatapan mata laki-laki itu. Kavin hendak menidurkan diri kembali, tapi bunyi nada dering panggilan masuk memaksa laki-laki itu untuk meronggoh saku celana kainnya.
Kavin mengeluarkan ponselnya dan langsung membaca nama kontak yang menelepon dirinya.
Unknown
Kavin tanpa pikir panjang langsung menerima panggilan suara dari penelepon yang bernama unknown. Dia bergerak menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Temui saya di restoran sea king sekarang. Dua orang itu sudah saya tahu keberadaannya."
Kavin langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Laki-laki itu menyeringai dan langsung bangkit dari duduknya.
...T.B.C...