
Tiga hari kemudian
Suara khas pintu terbuka membuat, Kavin yang tadinya sedang fokus menatap pantulan dirinya di dalam cermin, menoleh ke belakang dan kedua matanya melihat sosok Zaly yang saat ini berdiri di ambang pintu dengan seutas senyum.
Kavin hanya melihat datar ke arah wanita berparas cantik itu, seolah dia tidak ingin membalas senyum di bibir Zaly.
"Apa aku boleh masuk?" Zaly meminta izin layaknya seorang yang sopan, membuat Kavin yang sudah kembali menghadap ke depan menaikkan satu alis matanya.
Pasalnya seumur hidup, dia tidak pernah sekali pun mendengar Zaly meminta izin seperti itu. Padahal dulu, wanita itu akan langsung masuk jika dia ingin dan akan memeluk jika dia mau. Intinya dia dulu tidak akan meminta seperti itu.
"Kavin?" cicit Zaly dengan menaikkan satu alis matanya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.
Imut. Itulah yang bisa menggambarkan ekspresi wajah yang dikeluarkan oleh Zaly. Namun, di mata Kavin itu sama sekali tak menggugah perasaannya yang telah membeku.
Mungkin di hidupnya, wanita yang paling imut adalah Mika, yang cantik juga Mika, yang penyayang juga Mika, dan semua kata-kata untuk menggambarkan wanita sempurna sudah dimiliki oleh Mika.
"Masuklah!" perintah Damar sembari memperbaiki posisi dasinya yang sudah terpasang rapi di kerah kemejanya.
Zaly tersenyum. Biarpun nada bicara Kavin terkesan datar, dia bahagia karena laki-laki itu tidak memperlihatkan sikap menolak.
Padahal jika di lihat dari sudut pandang lain, dari cara bicara Kavin yang tidak melihat Zaly itu sudah jelas kalau laki-laki itu tidak menginginkan, keberadaannya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Zaly sembari duduk di sisi ranjang bagian depan dan kedua mata yang begitu fokus melihat punggung Kavin.
Sementara, Kavin. Laki-laki itu bergerak untuk memutar tubuhnya agar dia bisa melihat Zaly yang masih saja menunjukkan senyum manis.
"Ada apa?" tanya Laki-laki itu dengan mimik wajah yang datar.
Zaly melebarkan pupil matanya, layaknya orang bingung, "Ada apa?" beo wanita berpakaian dress hitam itu dengan mimik wajah yang jenaka, layaknya orang yang terhibur.
"Langsung saja ke intinya!" Zaly berdiri dan berjalan mendekati Kavin. Mimik wajah wanita itu terlihat malu-malu pun kedua pipinya terlihat dihiasi oleh semu merah.
"Lebih dipersingak!" perintah Kavin membuat Zaly ikut kebingungan.
"Maksudnya?" tanya Zaly dan Kavin hanya menghedikkan bahu. Laki-laki itu memilih untuk berjalan ke arah depan ranjang. Dia mengambil jas kerjanya, "jawaban iya yang kamu berikan itu, apa bukan suatu kebohongan?" imbuh Zaly membuat Kavin langsung berbalik menghadapnya kembali.
"Apa aku harus menjelaskannya lagi? Apa waktu itu jawabanku belum cukup untuk membuatmu percaya." Kavin berucap sembari tangan mulai meraba garis wajah Zaly, hingga gerakannya terhenti di belah dagu wanita itu.
Kavin menarik kepala Zaly menggunakan jari telunjuknya, membuat wanita itu mendongak, "Apa kata-kata aku setuju itu masih belum bisa meyakinkan dirimu?" Zaly memejamkan mata kala embusa napas hangat Kavin membelai bulu-bulu halus wajahnya.
Wanita itu menelan ludah dengan degup jantung yang tiba-tiba tidak menentu, terlebih lagi sekarang jarak wajahnya dengan Kavin begitu dekat, "Jawab, apa kamu masih tidak percaya kalau aku bersedia menikah denganmu?"
Kavin semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak bibirnya dengan milik Zaly hanya beberapa centi lagi.
Zaly menggelengkan kepalanya, "Aku percaya, tapi apa kau tidak memikirkan mendiang istrimu?" tanyanya dengan kedua mata yang kembali terbuka dengan pelan.
Kavin tersenyum tapi terkesan sangat berbeda, seperti tidak ada kebahagiaan di garis lengkung itu, "Istriku sudah meninggal tiga tahun lalu. Aku yakin dia pasti megizinkanku untuk memulai hidup baru. Terlebih lagi itu bersama denganmu." Zaly tersenyum, wanita itu bergerak memejamkan matanya saat Kavin terlihat seperti ingin menciumnya.
Kavin menaikkan salah satu sudut bibirnya kala dia melihat wanita pasrah yang ada di depannya itu memejamkan mata. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, laki-laki itu bergerak menjauh.
"Aku ada rapat. Jadi, sampai jumpa lain waktu." Kavin berlalu pergi dari dalam kamarnya.
Zaly yang mendengar itu membuka mata. Dia tersenyum, kedua tangannya juga bergerak menggenggam baju bagian dadanya, "Apa ini nyata?"
......T.B.C......
...Akhirnya demi kalian aku update, doakan semoga bisa update lancar seperti dulu....
...Semoga suka yah....
...Salam manis dariku dan i love you all....