Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
Prolog



Rintikan hujan semakin turun dengan sangat derasnya. Bunyi gemuruh juga tidak ada henti-hentinya memecah kesunyian malam kota Jakarta yang saat ini tengah dikepung oleh pekatnya awan mendung.


Tidak ada suara riuh pikuk kendaraan yang berlalu lalang, karena malam ini sudah mendekati dini hari. Terlebih lagi hujan yang menguyur ibu kota Jakarta di pertengahan bulan April ini begitu sangat deras pun ditemani oleh embusan angin yang teramat kencang.


Apa lagi saat ini di kompleks perumahan yang letaknya berada tepat di tengah-tengah ibu kota, sudah sedari tadi sepi dan tidak ada seorang pun selain suara lolongan anjing yang di pelihara oleh penghuni kompleks sana.


Aneh— sejujurnya ini tidak pernah terjadi. Tetapi, entah kenapa malam ini para anjing mengeluarkan lolongan yang begitu pilu pun saling bersahutan satu dengan yang lainnya.


Di ujung kompleks terlihat sebuah rumah yang nampak sepi. Tidak ada suara lolongan anjing maupun cahaya lampu yang menerangi bangunan bertingkat dengan halaman luas tersebut.


Di sana suasana nampak gelap dan juga terkesan menyeramkan. Terlebih lagi tepat di depan pintu masuk bangunan rumah berlantai dua itu terdapat seekor anjing yang tengah sekarat.


Hewan yang di kenal dengan kesetiaannya itu sekarang tengah menggeliat di atas lantai. Darah segar keluar dari leher hewan itu dan langsung bercampur dengan air hujan.


Sementara keadaan di dalam rumah bertingkat dua dengan cat dinding berwarna putih itu tidak jauh beda dengan di luar. Semua gelap, hanya kilatan cahaya petir yang sesekali menerangi seluruh sudut rumah yang sudah terlihat berantakan dengan barang-barang yang berserakan.


Sedangkan di lantai dua juga tidak jauh beda. Semuanya terkesan gelap dan juga terkesan sangat menyeramkan. Pecahan vas keramik berserakan di lantai. Semua nampak begitu kacau dan terkesan tidak ada kehidupan.


Namun, di salah satu ruangan yang ada di lantai dua di mana di sebuah kamar bercahaya temaram. Terlihat dua orang laki-laki.


Satu laki-laki duduk bersimpuh di atas lantai dengan wajah yang dipenuhi oleh luka memar dan sedikit bercak darah di sana.


Sementara satu laki-laki berdiri tepat di depan pria yang tengah bersimpuh itu. Laki-laki yang berdiri itu terlihat angkuh yang di mana tangan kanannya menodongkan pistol ke depan pria yang bersimpuh tersebut.


"Kenapa kau melakukan hal keji seperti itu kepada, istriku?" tanya laki-laki yang dalam posisi berdiri itu dengan datarnya.


Tatapan matanya semakin tajam melihat ke arah seorang pria yang saat ini sedang duduk bersimpuh di depannya, "Apa istriku pernah melakukan kesalahan, hingga kau melakukan itu kepadanya?" tanya laki-laki berambut gondrong itu kembali sembari tangannya yang memegang pistol semakin maju dan terlihat seperti sudah siap menembak.


Sedang pria yang bersimpuh itu hanya tersenyum. Matanya sudah terlihat sangat sayu, pun napasnya sudah mulai tersengal-sengal, "Lakukan!" perintahnya dengan raut wajah yang sudah begitu tersiksa.


Mendengar itu, laki-laki yang saat ini dalam posisi berdiri tersebut hanya bisa menyeringai. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca, "Baiklah— apa kata-kata terakhir yang ingin kau katakan?" tanyanya kepada pria yang duduk bersimpuh tersebut dengan nada datar, tapi terkesan serak.


"Tentu saja aku tidak bisa memaafkan orang seperti kau, brengs*k! Aku sangat membenci kau! Kebencianku tumbuh saat mengetahui kalau kaulah yang sengaja membunuh Mamaku! Membunuh istrimu sendiri demi bisa bersanding dengan selingkuhan kau itu!"


Kavin berteriak memotong perkataan Rama. Napas laki-laki gondrong dengan rahang yang dipenuhi berewok itu mengeluarkan air mata. Posisi tangannya masih menodongkan pistol ke arah Rama— Papa kandungnya sendiri.


"Kau orang tua paling brengs*k yang aku kenal. Pertama kau membunuh ibuku dan kedua kau juga membunuh istri dan anakku! Kau seharusnya pantas berada di neraka, sialan!"


Teriak Kavin menggebu dan Rama yang mendengar itu hanya tersenyum sumir. Air matanya sudah sedari tadi jatuh membasahi pipinya, "Maka dari itu, Papa tidak ingin meminta maaf. Jika dengan membunuh Papa, kau bisa tenang. Maka lakukan!" perintah Rama dengan mimik wajah yang sudah terlihat bersedia menerima kematiannya di tangan sang anak.


Sementara Kavin yang mendengar itu hanya tersenyum ironi, "Tanpa kau menyuruh, aku akan melakukannya."


Kavin memejamkan mata. Laki-laki itu mulai berhalusinasi melihat Mika yang berdiri dengan seorang bocah perempuan cantik yang garis wajahnya sangat persisi dengan dirinya.


Kavin tersenyum dan bersamaan dengan itu. Kedua matanya kembali terbuka untuk menatap tajam Rama yang sudah bersedia mati, "Aku akan melakukannya," gumam Kavin dan dengan perlahan jarinya mulia menekan pelatuk pistol.


"Tapi, aku tidak bisa membuat kau begitu tenang menyambut ajal. Kau harus merasakannya apa yang aku rasakan."


Kavin mulai tersenyum. Air hangat mulai mengalir di pipinya, dan ....


"Selamat tinggal, Papa!"


Dor!


...T.B.C...


...Nah loh, gimana prolognya?...


...Lanjut enggak nih?...