
Kavin menghentikan laju mobilnya di sebuah kawasan dermaga. Bau amis khas ikan menyeruak menusuk indera penciuman laki-laki itu, tapi bier begitu dia tidak mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil.
Kavin menapakkan kakinya yang terbungkus sepatu di jalanan paving blok basah khas dermaga. Kedua tangannya masih setia berada di saku jaket hitam yang malam ini dia kenakan.
Dengan raut waja yang datar, Kavin mengedarkan pandangannya. Padahal pagi tadi tempat ini di penuhi oleh orang-orang, tapi lihat suasananya terasa sunyi. Tidak ada pembicaraan tawar menawar seperti pagi tadi. Malahan yang terdengar hanyalah suara katak yang bersahutan dengan jangkrik. Sangat khas dengan suasana malam hari.
Kavin berjalan menyusuri jalanan paving blok dermaga. Dia mulai menuruni anak tangga demi anak tangga agar bisa mendekat ke sebuah boat, yang pagi tadi dia gunakan.
"Langsung pergi dengan kecepatan penuh!" perintah Kavin membuat sopir boat yang baru saja menguap, langsung terjaga, dan menyalakan mesin tanpa mengeluarkan suara.
Seperti biasa Kavin berdiri di bagian depan. Entah kenapa saat kedamaian selalu saja dia rasakan saat embusan angin yang tercipta dari kencang laju boat menerpa wajahnya. Terlebih lagi aroma laut yang begitu sangat dia sukai.
Iya, setiap dia menciumi aroma khas laut. Otomatis otak Kavin akan memutar bayang-bayang Mika.
Kavin bergerak mengeluarkan kedua tangannya yang menggenggam dua buah botol kaca berwarna merah, pun berbau khas darah segar.
Kavin mengangkat kedua botol itu untuk ia lihat dengan teliti. Laki-laki itu memejamkan mata saat dia mulai menghirup kuat-kuat aroma darah dua pendosa yang di mana, gara-gara dua orang itu Mika mati.
"Apa kata-kataku tadi masih kurang jelas?" tutur Kavin membuat pengemudi boat yang sedari tadi memejamkan mata tersentak kaget.
"Ma— maafkan saya, Tuan." tutur pengundi boat itu dan dia yang tadinya sempat menurunkan kecepatan boat, langsung mempercepat lajunya kembali.
"Tidak berguna."
Setelah mengatakan itu Kavin langsung meronggoh saku celana jeans miliknya, yang tadi mengeluarkan getaran. Dia bergerak menghidupkan benda pipih yang baru saja dia keluar dari dalam saku celana.
Kavin melihat notifikasi pesan berupa gambar dan video dari kotak bernama unknown, "Aku tidak peduli." geram Kavin dan laki-laki itu kembali memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celana.
***
Satu jam telah berlalu dan akhirnya sekarang Kavin sudah duduk di kursi kayu yang ada di gubuk sederhana, tepatnya di pulau terpencil yang Kavin fungsikan sebagai tempat pengasingan diri untuk menghilangkan kepribadiannya yang dulu.
"Tubuhmu dingin sekali, sayang," tutur Kavin tanpa mengeluarkan ekspresi. Sama dengan Mika, wajah wanita itu masih terpejam.
"Maaf karena aku meninggalkanmu lagi. Mungkin. Beberapa hari terakhir ini aku akan sering pulang pergi."
Kavin mengehentikan aktivitas menyeka sekujur tubuh mati milik istrinya. Laki-laki dua puluh sembilan tahun dengan rambut panjang yang diikat cepol itu, mulai bergerak memeluk tubuh Mika.
Dia mendekap tubuh tak bernyawa itu dengan sangat eratnya seolah tidak ingin melepaskan, "Kamu tahu. Aku tadi pulang ke rumah. Aku bertemu dengan seluruh keluarga dan mereka mengatakan akan mengadakan pernikahanku dengan wanita itu." Kavin mulai mengadu, seperti yang selalu dia lakukan saat awal-awal menikah dulu. Apapun yang dia lakukan ia akan mengadu kepada Mika.
Sedangkan Mika yang mendengar itu pasti akan mengelus surai coklat kehitaman sang suami, tapi malam ini tubuh Mati itu hanya diam tak bereaksi.
"Oh, iya. Aku akan memperlihatkan sesuatu untukmu. Kamu tunggu di sini dan aku akan pergi ambil kursi roda, oke." Kavin bergerak cepat ke sudut gubuk untuk mengambil kursi roda.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Kavin bergerak untuk memindahkan tubuh istrinya agar duduk di atas kursi roda.
Setelah semua siap. Kavin langsung mendorong kuris roda itu mendekat ke sebuah meja yang kemarin dia duduki.
"Aku tahu kau sudah tidak bisa melihat. Jadi, akan aku ceritakan saja. Di sini ada dua orang. Mereka sudah disilang merah dan itu berarti mereka sudah menyusulmu ke alam baka."
Kavin mengehentikan ucapannya hanay untuk meraih dua botol kaca kecil yang berisikan darah segar Setiaji dan Rifki, "Ini darah dari dua pendosa yang sudah melakukan hal keji padamu dan anak kita."
Kavin meletakkan dua botol kecil itu di pangkuan sang istri, "Apa kamu mau menyimpannya?" tanya Kavin sembari mendekatkan telinganya ke depan mulut sang istri.
"Tidak? Jadi, kamu tidak mau menyimpan darah milik manusia kotor itu," imbuh Kavin menjawab pertanyaannya sendiri, "gimana kalau kita buang aja kelaut, kamu setuju?" tanya Kavin kembali dan laki-laki itu langsung mengulas senyum untuk pertama kalinya setelah dua tahun kehilangan istrinya.
"Pilih yang bagus sayang. Mari, kita buang darah-darah kotor itu kelaut sesuai yang kamu inginkan. Sekalian kita menikmati malam indah di sini."
...T.B.C...