Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
PROMOSI NOVEL: MENGUBAH TAKDIR TOKOH ANTAGONIS



01.KECELAKAAN


"Nona Shena, bisa minta waktunya sebentar?"


"Nona Shena, apakah Anda benar-benar sudah menikah?"


"Nona Shena, Nona Shena, tunggu ...."


Puluhan paparazi yang tadinya melontarkan banyak pertanyaan langsung diam saat Shena Sifabella, model sekaligus aktris yang tadinya ingin mereka wawancarai, sudah masuk ke dalam mobil. Saat ini para wartawan itu hanya bisa berdiri diam sembari memandangi mobil Shena yang masih belum melakukan pergerakan.


Padahal mereka saat ini begitu ingin mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil yang ada di depan itu, tapi karena ada dua pengawal berbadan tegap, mereka urung melakukan hal tersebut.


"Maaf, Nona kami saat ini dalam keadaan hati yang tidak baik-baik saja. Jadi, harap kalian maklumi." Salah satu pengawal mencoba memberikan penjelasan agar para wartawan bisa sedikit tenang dan tidak berpikir yang tidak-tidak soal Shena.


Para wartawan yang mendengar itu hanya bisa menghela napas. Wajah mereka pun langsung kelihatan lesu layaknya orang yang tidak ada tenaga. Bahkan mereka juga langsung bubar. Semuanya mungkin bakalan kembali ke rumah masing-masing karena terlalu lelah untuk melanjutkan aktivitas di jam malam seperti ini.


Sementara di dalam mobil. Shena langsung menyandarkan punggungnya. Wajahnya terlihat sangat lesu, "Jalankan mobilnya, Pak!" titahnya dengan kepala masih mendongak melihat langit-langit mobil dengan satu tangan memegangi pelipisnya.


"Nona minta diantar ke mana?" tanya Pak sopir dengan dua tangan sudah berada di kemudi mobil dan pandangan matanya pun dari tadi mengarah ke depan. Dia tidak ingin melirik atau pun menoleh, karena itu adalah sebuah pantangan yang dibuat oleh Tuan mereka, Suami dari Shena.


Shena sang idola banyak orang itu memang sudah menikah, tapi semua orang tidak tahu karena wanita itu tidak mempublikasikan. Suami Shena sendiri iyalah seorang pebisnis yang namanya berada di urutan ketiga list orang tersukses di Indonesia.


Kei Ibrahim namanya. Laki-laki itu menyudahi status lajangnya dan memilih untuk menikahi Shena di usia ke dua puluh sembilan tahun. Usia pernikahan mereka baru berjalan enam bulan. Jadi, mereka berdua masih bisa disebut pasangan pengantin baru.


Satu yang harus kalian tahu, Shena dan Kei itu menikah karena saling mencintai. Hanya saja hari ini mereka sedikit mendapatkan sebuah konflik dan jadilah Shena yang terluka.


Menikah dengan Kei memang bukanlah perkara mudah. Banyak godaan yang harus Shena hadapi. Salah satunya orang ketiga. Dulu sebelum menikah, hubungan percintaan mereka pun tidak berjalan baik. Namun, karena saling percaya satu sama lain, mereka memilih untuk bertukar janji suci pernikahan.


"Puncak. Cepatlah, karena aku sudah tidak tahan berada di sini, Pak!" Setelah menimbang cukup lama, Shena memutuskan pergi ke puncak. Pilihan wanita itu memang sudah tepat. Saat ini dia perlu tempat yang damai dan mencoba jauh dari Kei.


Shena bukannya ingin lari dari masalah. Hanya saja dia saat ini butuh menengakan diri. Jika pulang ke rumah, pasti dia akan lebih marah dan asal tahu aja. Shena itu tipe orang yang berpikir pendek jika marah.


"Baiklah. Tapi, Nona pakailah sabuk peng-"


"Tolong berhenti bicara dan langsung jalan saja, Pak!" Shena mulai jengah. Dia menatap sopir yang tetiba tersentak kaget karena suara tegasnya tadi.


"Saya mohon maaf." Sopir Shena langsung diam. Seperti yang diperintahkan Nonanya, dia mulai melajukan mobil dan itu bersamaan dengan keluarnya seorang laki-laki berjas dari dalam gedung pencakar langit yang di mana, Shena juga tadi keluar dari sana.


"Sayang, dengarkan aku dulu!" Kei berlari kecil mengikuti kecepatan mobil yang membawa Shena dengan pelan.


Sementara Shena yang ada di dalam mobil milih untuk menghiraukan. Dia malah memalingkan wajahnya ke sebelah kanan, seolah enggan melihat wajah Kei yang nampak jauh lebih lelah.


"Pak lebih cepat lagi!" titah Shena dengan nada yang sangat lemah.


"Tapi, Non. Di luar Tu-"


"Apa sulitnya mengikuti perintahku sih?" Shena tidak bisa mengendalikan diri dan pada akhirnya, dia meninggikan suaranya. Wanita itu bahkan juga mulai menitikkan air mata.


Diluar Kei terus memanggil, memukul-mukul kaca mobil berharap Shena menghentikan laju kendaraan itu agar mereka bisa bicara baik-baik.


"Saya mohon maaf, Nona." Sopir langsung menaikkan kecepatan mobil. Kendaraan roda empat itu pun melaju sangat kencang, meninggalkan Kei yang berdiri dengan lesu di jalan masuk perusahannya.


Kurang lebih dua jam mobil yang ditumpangi Shena sudah masuk kawasan puncak. Saat ini dia di jok belakang tengah membaca sebuah novel. Sebenarnya, Shena sudah membaca buku itu dari satu Minggu yang lalu dan kali ini, dia berniat mengakhiri satu bacaannya itu.


Ternyata, pilihannya untuk membaca buku berjudul "Antagonis" itu tidak memberikan dampak lebih baik untuk, Shena. Malahan wanita itu semakin masuk dalam keadaan tidak baik-baik saja, tapi hati wanita itu jauh lebih tenang walau cerita yang dibacanya kali ini menguras air mata.


Shena terus fokus membaca tanpa memperdulikan kalau di luar tengah hujan deras. Dia memang seperti itu, jika sudah mendapatkan bacaan bagus, segala apa yang ada di sekitar tidak lagi menjadi objek utama. Terserah itu adalah pemandangan yang indah, Shena tidak peduli.


Di jok depan, tepatnya dibagian kursi kemudi. Terlihat Pak sopir masih setia mengendarai mobilnya. Tidak cepat dan tidak pelan juga. Intinya, kendaraan roda empat itu melaju normal.


Pak sopir berdahem, tapi itu tidak mampu membuat fokus Shena terpecahkan. Dari gelagat laki-laki paruh baya itu, sepertinya orang tersebut tengah memikirkan sesuatu. Hal tersebut terlihat sangat jelas dari sorot mata pak sopir yang sedari tadi tak berhenti, untuk mencuri pandang lewat spion yang tergantung di atap mobil.


*maaf tuan,* batin sopir itu sembari mata yang terus saja mengawasi gerak gerik Shena yang masih duduk diam dengan suara tangis di belakang.


Pak sopir itu mulai memejamkan mata. Kedua tangannya yang memegangi kemudi mobil semakin dia kuatkan pegangannya, *"aku akan melakukan ini demi keluargaku. Jadi, saya minta maaf tuan,"* batin laki-laki tua itu lagi dan setelahnya, dia menginjak pedal gas dengan begitu sangat kuat, membuat kecepatan mobil bertambah.


Shena yang merasakan itu menutup bukunya. Dia menatap ke arah sopir dengan keadaan mata yang sembab, "Ada apa ini, Pak?" tanya Shena sembari menyelipkan rambut bagian kanannya ke belakang telinga.


"Eh salah yah? Saya mengira Nona malam ini butuh cepat-cepat istirahat, makanya Saya menambahkan kecepatan." Pak sopir berucap dengan nada sedikit gugup. Percayalah, biar pun laki-laki tua tersebut berkata seperti itu, dia tetap saja menginjak pedal gas.


Mobil pun semakin melaju dengan sangat cepat dan Shena yang mendapati itu semakin panik. Dia mulai mencari tempat untuk berpegangan, "Kurangi kecepatan, Pak!" titah Shena sembari kembali melihat ke arah sopir yang ternyata sudah berubah panik.


"Tidak bisa, Non. Remnya tiba-tiba tidak berfungsi." Sopir itu mengadu sembari terus menginjak pedal gas. Padahal saat ini dia sama sekali tidak menginjak rem, makanya kecepatan mobil itu tidak menurun.


Shena yang dalam keadaan panik mulai tidak bisa berpikir. Dia bahkan tidak menaruh curiga sedikit pun, "Kenapa bisa pa-"


Shena berteriak saat mobil tiba-tiba berbelok dan suara beradunya body mobil dan besi pembatas menghentikan teriakan Shena. Saat ini kendaraan roda empat itu tengah menggelinding jatuh ke jurang yang cukup dalam, setelah tadi menabrak pembatas jalan.


Shena kembali berteriak, tapi suaranya kalah dengan bunyi mobil yang menggelinding jatuh, hingga berhenti tepat di permukaan jurang dalam keadaan terbalik dan semua pintu terbuka.


Shena yang menyadari kalau mobil itu sudah berhenti mulai tenang. Namun, kondisi wanita itu tidak baik-baik saja. Tubuhnya serasa remuk dan darah sudah bercucuran keluar dari segala tempat. Parahnya sih di kepala.


Terlepas dari itu semua, saat ini yang jauh lebih menakutkan adalah deru napas yang dikeluarkan oleh Shena, terdengar begitu sangat lemah. Bahkan keadaan mata wanita itu sudah sayu, tapi biar begitu tersiksa, dia tetap mencoba untuk keluar dengan cara merangkak.


Shena bergerak keluar dengan sisa-sisa tenaganya. Dia terus saja merangkak dan sesampainya di sana, Shena merubah posisi berbaringnya menjadi tiduran menghadap ke langit.


Daru napas wanita itu semakin terdengar lemah, matanya pun juga sudah kelihatan semakin sayu, dan diikuti darah yang mengalir semakin deras dari kepalanya seperti butir-butir hujan yang jatuh.


"Ke ... kenapa seperti ini?" Dengan sisa tenaga, Shena bergumam. Wanita itu bahkan mulai memalingkan wajah ke sisi kanan dan kedua mata sayunya, mendapati keberadaan buku "Antagonis" yang beberapa saat lalu dia baca.


"A ... apakah ini da ... damai yang aku inginkan?" tanya Shena kepada entah.


Wanita itu tersenyum penuh kesakitan. Air matanya pun semakin meluruh menyatu dengan bulir-bulir hujan. Shena mulai menggerakkan tangannya untuk mencoba meraih buku yang lumayan jauh dari posisinya.


Shena terus mencoba meraihnya, hingga ujung jari tengahnya mampu merasakan sampul buku itu. Akan tetapi, bersamaan dengan dia yang hampir meraih buku itu, kesadaran Shena hilang.


...UNTUK BAB LANJUTNYA, KALIAN LANGSUNG AJA KUNJUNGI NOVELNYA YAH😗😗...



...KALIAN MAMPIR YAH. BANTU AKU YANG LAGI IKUT EVENT LOMBA. CERITANYA DIJAMIN SERU DAN NAGIH. ...