Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 2: Aku Datang, Pendosa!



Kavin berjalan dengan langkah angkuh. Kedua tangannya sekarang tengah menggendong Miranda— kucing kesayangan yang beberapa jam lalu dia bunuh, untuk menguji diri kalau dirinya sudah tidak punya hati lagi.


Dan, itu berhasil. Setelah dua tahun lamanya mengasingkan diri dari ibu kota dan pindah ke sebuah pulau tak berpenghuni. Kavin berubah. Dia menjadi seorang pribadi yang sangat-sangat berubah dan berbeda dengan dua tahun yang lalu.


Dulu dia orang yang cerewet, walau terkadang terkesan dingin tapi bisalah memperlihatkan senyum. Tetapi, sekarang jangankan senyum, di wajahnya sudah tidak ada eskpresi sedikitpun selain wajahnya yang datar. Hatinya pun sudah menciptakan sebuah lubang besar tak berpenghuni.


Kavin terus berjalan menyusuri lorong rumah sederhana yang lantai dan temboknya terbuat dari kayu. Dia terus berjalan hingga langkah kakinya melewati sebuah pintu. Cahaya matahari terik langsung menyerang sekujur tubuh Kavin yang hanya terbalut baju singlet putih dengan bawahan celana jenas sobek-sobek dan tanpa menggunakan alas kaki.


Kakinya begitu nyata menapak di pasir putih pantai. Dari arah barat terdengar jelas deburan suara ombak yang menyatu dengan suara pohon kelapa yang bergoyang di terpa oleh angin laut.


Kavin terus berjalan. Langkahnya sekarang mengarah ke sebuah gubuk reyot yang terbuat dari potongan kayu. Laki-laki itu menendang pintu gubuk tersebut dan dia langsung melangkah masuk ke dalam.


Tatapan mata Kavin langsung terkunci ke sebuah peti yang lumayan panjang. Kavin berjalan mendekat ke peti yang berada di tengah-tengah gubuk. Kedua kakinya ia takut hingga bersimpuh di sisi peti.


Kavin meletakkan mayat mira di atas lantai kayu. Kedua tangannya membuka peti dan wajah pucat Mika langsung terkunci di netra hitam bergaris kecoklatan milik Kavin.


"Hai ... apa kabar?" tanya Kavin dengan air wajah yang tidak menunjukkan ekspresi. Kavin bergerak membelai wajah tirus Mika.


"Hari ini aku belum memberikanmu makanan, yah?" tanya Kavin dengan masih tak menampakkan ekspresi.


Iya, tubuh yang ada di dalam peti itu adalah Mika Anaya Kavindra. Dia wanita dua tahun yang dulu meninggal dibunuh, tapi pihak kepolisian menetapkan itu dengan kasus bunuh diri.


Dua tahun lalu tepatnya setelah Kavin membaca surat yang ditinggalkan oleh Mika. Laki-laki itu langsung bergegas kembali ke pemakaman. Dia menggali kembali kuburan istrinya, mengeluarkan peti mati istrinya, dan menggantikan mayat sang istri dengan batang pisang.


Terserah kelakuannya itu baik atau tidak, tapi dua tahun yang lalu Kavin merasa kematian istrinya tidaklah benar. Dia tidak sudi istrinya mati dengan begitu mengenaskan dan dia juga tidak ikhlas dengan semua itu.


Kavin mengambil satu botol kecil dan satu suntikan. Dia bergerak menancapkan jarum suntik ke penutup karet botol. Kavin menarik bagian belakang suntikan, hingga isi di dalam botol kaca itu tersedot masuk ke dalam.


Kavin membuang botol kaca kecil itu ke sebuah keranjang sampah dan dia kembali berjalan mendekat ke peti mati Mika.


Kavin duduk bersimpuh. Kedua tangannya bergerak untuk menyuntikkan cairan pengawet ke dalam tubuh Mika, "Kamu sudah makan," gumam Kavin dengan wajah tanpa ekspresi persis seperti Mika yang hanya memejamkan mata tanpa ada embusan napas.


"Sekarang kamu harus mandi, biar wangi." Kavin meraih botol parfum yang berada tepat di sisi kirinya. Dia menyemprotkan itu ke seluruh tubuh tak bernyawa Mika.


Setelah selesai melakukan itu semua. Kavin kembali meletakkan botol parfum itu ke tempatnya semula. Dia kemudian bergerak untuk mengangkat tubuh Miranda— kucing peliharaannya dan meletakkannya di sisi kiri Mika.


"Aku sudah mengirim Mira untuk menemanimu, sayang," ujar Kavin datar tanpa ekspresi sembari mengelus sayang pipi tirus Mika. Laki-laki itu menoleh ke arah ujung bawah peti mati yang di mana, di sana ada sebuah ruang kosong yang terbagi menjadi empat.


"Sebentar lagi, aku juga akan mengirim para pendosa itu untukmu." Kavin berucap dengan tatapan mata yang tajam ke arah empat bagian kosong yang ada di bawah kaki pucat Mika.


"Tempat itu sebentar lagi akan diisi oleh darah mereka semua," imbuhnya dengan seringai yang sangat menyeramkan.


"Para pendosa, mimpi buruk kalian sebentar lagi datang."


...T.B.C...


...Part dua, apa sudah punya gambaran untuk Kavin yang sekarang?...


...Btw aku enggak mau pakai visual, karena takut bermasalah dengan yang punya foto. lagian Kavin yang ini dalam otakku enggak ada di real life yang sesuai. Ini murni dari imajinasiku, kalian juga harus berimajinasi yah....