Revenge for My Wife (Kavin & Mika)

Revenge for My Wife (Kavin & Mika)
DENDAM 4: Keluarga Besar.



Sekarang Kavin tengah berada di dalam mobil, tepatnya di kursi penumpang bagian belakang. Sedari tadi laki-laki itu tidak mengeluarkan banyak suara, membuat Agler yang ada di sebelahnya bingung mau memulai percakapan dari mana.


Iya, setelah sampai di dermaga tadi. Agler sudah menunggu kedatangannya dan Kavin tanpa mau banyak bicara langsung masuk ke dalam mobil, membuat Agler merasa bingung.


Pasalnya dia tidak pernah melihat sikap Kavin yang terasa begitu dingin dan juga asing. Iya, asing. Dari sudut pandang Agler. Teman kecilnya yang dulu saling menikahkan tokek peliharaan mereka, berubah menjadi orang lain.


"Siapa saja di sana?" tanya Kavin dengan nada dingin dan tatapan mengarah ke luar mobil.


Agler yang mendengar itu sempat tersentak kaget, "Gue juga enggak tahu, Vin. Mungkin mereka mau merayakan kepulangan lu setelah dua tahun menghilang," jawab Agler dengan nada bicara yang bersahabat.


Kavin yang mendengar jawaban itu tidak lagi mengeluarkan suara. Dia kembali fokus melihat ke arah luar mobil.


"Oh, iya. Lu kemana aja? Pulang-pulang kenapa lu serasa jadi orang lain?" celetuk Agler mengeluarkan pertanyaan. Tadi tangan kanannya bergerak menepuk punggung tegap Kavin, tapi si empunya tidak bereaksi sedikitpun.


Padahal dulu, Kavin paling anti di sentuh pundaknya, "Mencoba sembuh dan mengubah diri dan pandangan tentang dunia ini," jawab Kavin dengan kata-kata misterius.


Agler yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan dia lagi-lagi bingung mau mengeluarkan pembicaraan apa lagi, "Oh iya, Vin. Gue makasih banget. Berkat bantuan lu. Gue sekarang bisa sedikit mengerti tentang sistem perusahaan."


Pada akhirnya Agler membicarakan tentang dirinya yang dulu kerja dengan Kavin selama tiga bulan.


Sementara Kavin yang mendengar itu tidak menanggapi. Dia hanya melihat ke arah jalanan yang siang hari ini terlihat lenggang, "Kenapa mobil ini melaju seperti siput? Apa kau tidak bisa menambah kecepatannya?" Kavin mengeluarkan gerutuan dengan wajah datarnya, membuat sopir yang sekarang tengah mengendarai mobil langsung menambah kecepatannya.


Sementara Agler yang mendengar itu hanya bisa menghela napas sabar. Pasalnya tadi dia mengira Kavin akan menanggapi perkataannya, tapi dia malah mengomentari sopir yang melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan.


Lama mereka dalam perjalanan. Akhirnya mobil yang ditumpangi Kavin sudah terparkir di halaman rumah besar keluarganya. Dia keluar dari dalam mobil membuat Agler lagi lagi mendumel kesel karena selalu ditinggalkan begitu saja.


Kavin terus berjalan dengan langkah angkuh. Dia bahkan menghiraukan anjing peliharaan Papanya yang sedari tadi menggonggong seperti memintanya untuk bermain, tapi Kavin yang saat ini sudah berubah hanya bisa menghiraukan.


Dia memilih untuk terus melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja Kavin masuk ke bangunan megah berlantai dua kediaman keluarganya itu, gendang telinganya langsung menangkap suara tawa dari arah ruang tamu.


Mereka semua yang berjumlah tujuh orang itu langsung diam dan menatap ke arah Kavin dengan senyum yang mengembang.


"Akhirnya, kamu pulang juga, Kavin!" jerit dia— Zely dan wanita yang berusia dua puluh sembilan tahun itu langsung berlari dan memeluk tubuh Kavin dengan sangat eratnya, "kamu pergi ke mana sih? Jujur, aku sangat-sangat menghawatirkanmu. Apalagi kamu pergi tidak memberi kabar ke kita semua," imbuh Zaly dengan raut wajah khawatirnya yang begitu kentara.


Sementara Agler yang baru saja berdiri di belakang Kavin langsung terkejut, saat menyaksikan Zely memeluk Kavin begitu eratnya, "Aku tahu kamu pasti merasa sangat kehilangan, tapi pergi dari rumah sendiri itu sama saja dengan kelakuan bodoh," ujar Zely dengan nada yang ceriwis.


Sedangkan Rama, Adena, Agam, Tuan serta Nyonya Adelio, dan juga Papanya Zely hanya tersenyum geli melihat tingkah khawatir yang wanita itu perlihatkan untuk Kavin.


Sementara Kavin yang melihat itu tidak memperlihatkan raut wajah apapun. Mukanya sekarang sedatar tembok, dan tatapan sedingin hawa di kutub utara.


"Jika kau memeluk anakku seperti itu, dia bisa kehabisan napas, Zely." Dia— Adena menyeletuk membuat Zely mau tidak mau mengurai pelukannya.


Wanita itu langsung memposisikan dirinya berdiri di sebelah Kavin dengan kedua tangan melingkar di lengan kekar pria itu.


"Habisnya, Zely kangen sama, Kavin." Zaly mendirikan kepalanya di lengan otot Kavin.


"Ada apa?" Kavin bertanya dengan nada datar dan itu berhasil membuat semua orang yang ada di sana bingung tentang arah pertanyaan Kavin.


"Ada apa, hingga kalian mengadakan acara berkumpul seperti ini?" ulang Kavin, membuat semua orang mengembangkan senyum.


"Tentu saja untuk membahas pernikahanmu dengan, Zely," jawab Rama tanpa ada beban di setiap katanya.


...T.B.C...


...Nah si Zely sama si Rama bertingkah nih...


...Komen yok!...