
Nara bangun dari tidurnya, melihat hari yang sudah gelap pertanda sudah malam (ya kli siang❎) ia segera pergi membersihkan diri. Ia berencana ingin menemui Shazero, dia ingin menanyakan sesuatu
Setelah membersihkan diri ia berlalu pergi, tetapi sebelum itu ia menatap Jay dan memberinya kecupan singkat didahi
Sepasang mata yang tertutup, terbuka. Menampilkan Senyuman manis yang hanya tertuju pada 'nya'
~
~
Kini Nara dan Shazero duduk bersama dibawah pohon yang disinari oleh cahaya lampu
"Jadi... bisa kau jelaskan kenapa kak Jay berkata seperti itu?" tanya Nara kepada Shazero
"aku tak sanggup melihatnya seperti itu.." lanjut Nara dengan sedih. Mengingat kakaknya berkata seperti itu membuatnya sedih apa yang terjadi setelah aku tiada? pikirnya
Flash Back
"Sudah lah Jay... ikhlas adikmu pergi" ucap Tn. Alexander menenangkan Jay yang terus meracau ingin adiknya
"dia tak pergi Dad!" ucap Jay menentang perkataan ayahnya
"dia hanya sedang bermain petak umpet bersama ku. Tapi aku tak bisa menemuinya" lanjut Jay membuat Tn. Alexander sedih menatap putranya, setelah pemakaman putrinya Jay menjadi Tertekan. Ia terus meracau ingin adiknya
"aku tak bisa menemukannya Dad! bagaimana ini?! aku takut terjadi sesuatu padanya" ucap Jay Frustasi, ia merutuki kebodohannya yang tak bisa menjaga adiknya
"semua sudah terjadi.. bagai mana kau mau menemuinya jika ia sudah bertemu dengan sang pencipta" batin Zero sedih, ia berdiri di belakang pintu dan mendengar percakapan ayah anak tersebut. Ia bisa keluar masuk kediaman keluarga Alexander karena ia sudah dianggap keluarga oleh mereka, dan sekarang ia ada dibalik pintu masuk kamar Jay
"*mungkin jika aku tak mengingat pesan darinya, aku sudah sepertimu aku mungkin sudah gila!"
" kak... bagai mana keadaan mu disana? apakah kau sudah tenang*?" batin Zero yang sangat terpuruk atas kepergian Nara, Namun ia mencoba tetap tegar
Tok...Tok... ia mengetuk pintu sebentar, kemudian masuk kedalam kamar milik Jay. Ia melihat Tn. Alexander yang berusaha menenangkan Jay, ia meringis melihat keadaan Jay. Ia berusaha agar tak menangis
"Kak~ Jika kau seperti ini terus kak Nara di atas sana pasti akan sedih" ucap Zero kepada Jay
"baiklah,, setidaknya kau harus makan sebelum menemui Nara" ucap Zero dengan tersenyum paksa
"Tapi aku ingin makan bersama dengan nya" ucap Jay
"ia sudah makan" ucap Zero dengan mengambil Makanan yang sudah disiapkan di atas meja
"dan sekarang kakak yang makan" ucap Zero dengan menyodorkan piring berisi makanan
"baiklah,, tapi aku ingin makan makanan kesukaan Nara" ucap Jay
"hm" gumam Zero dengan menarik piring yang ia pegang, ia berlalu pergi untuk mengambil makanan kesukaan Nara
"kak aku tak kuat melihatnya, aku tak kuat kehilangan mu" batin Zero dari balik pintu dengan sedih.
Ia sedih mendengar Jay berteriak senang untuk menemui Nara. Ia tak kuat membayangkan reaksi Jay yang melihat tempat terakhir Nara
Ia menghapus air matanya, berjalan kebawah mengambil makanan untuk Jay
Setelahnya mengambil nya, ia segera naik keatas. Masuk ke kamar Jay dan memberikan makanan kesukaan Jay
Zero sedih melihat Jay dengan keadaan seperti itu
Sebelum pemakaman Nara, Jay Melarang mayat Nara untuk di makamkan. Jay Frustasi melihat Nara pergi dan dengan terpaksa para tim medis menyuntik Jay dengan suntikan penenang
*
*
*
*
*