Rebirth To The Cupu Girl's Body

Rebirth To The Cupu Girl's Body
Chapter 33.



Lorong rumah sakit.


Didepan ruangan UGD seorang Lelaki tampan tidak henti-hentinya bolak-balik di depan pintu tersebut, menunggu dengan khawatir.


Penampilannya yang sangat berantakan, sudah 3 Jam Lelaki tersebut menunggu di depan UGD dengan perasaan cemas, tanpa memperdulikan sekertaris sekaligus sahabatnya yang sendari tadi berusaha membujuknya untuk makan dan berganti pakaian.


“Vino Elo ganti baju dulu dan makan, biar gue berjaga di depan UGD”


“Gue akan tetap disini”


Jawaban yang sama diberikan Lelaki tampan kepada sekertaris yang hampir sama tampannya dengan Keyvino, “Setidaknya Elo makan dulu, jangan keras kepala gitu, gue tahu elo khawatir sama dia, tapi kaga gini juga, kemana perginya teman gue yang kaga peduli sama orang lain” Satria berusaha membujuknya, Lelaki yang sendari tadi membujuk Keyvino adalah Satria Prasetyo, sekertaris sekaligus sahabat terbaiknya.


“Elo engga akan mengerti, dia adalah orang yang sangat berharga bagi gue, sekarang gue hanya memiliki dia, gue engga mau hidup dengan penyesalan lagi, dan gue engga mau kehilangan dia untuk kedua kalinya”


Keyvino mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang berada di depan ruang UGD, mengacak-acak rambutnya dengan frustasi dan menghapus air matanya dengan kasar, keadaannya saat ini semakin kacau membuat Satria yang melihatnya seakan tidak percaya.


Lelaki yang dikenal tidak peduli dengan orang lain sekarang sedang frustasi serta khawatir yang berlebihan menurut Satria, “Maaf gue engga tahu kalo dia sangat berarti bagi elo, emangnya dia siapa elo? kenapa elo khawatir banget sama dia?” Satria akhirnya memilih mengajukan pertanyaan yang sendari tadi mengganjal di pikirannya, Satria tidak tahu siapa Gadis tersebut, yang ia tahu Gadis tersebut orang yang dicari-cari oleh sahabat serta atasnya selama berapa hari ini.


Keyvino menghelakan nafas panjang sebelum menyandarkan punggungnya yang lelah, matanya menatap langit-langit rumah sakit sebelum akhirnya bercerita kepada sahabatnya.


“Hah, dia...adik gue....” perkataan Keyvino terjeda dan itu mampu membuat Satria membulatkan matanya sempurna, banyak pertanyaan yang mulai memenuhi otaknya, “Dia kembaran gue, orang yang telah gue anggap Sangat beruntung hidupnya, orang yang sangat gue benci, dia mampu membuat gue iri karena tinggal dengan Daddy dan Mommy, membiarkan gue berjuang sendiri melawan penyakit waktu itu, menelantarkan gue ke Keluarga Gerlad....Gue yang mengira dia hidup bahagia dan penuh kasih sayang....ternyata tidak....” perkataan Keyvino kembali terjeda, kepalanya mendongak berusaha menahan air mata yang siap tumpah, mencoba menguatkan hati yang terasa sangat sesak dan perih.


Satria mendengar dengan seksama, seiring bercerita ekspresi yang ditampilkan Keyvino mampu membuat Satria sangat tidak percaya, sosok yang dikenal dingin sekarang terlihat rapuh, sorotan matanya menampilkan penyesalan mendalam, benar-benar seperti bukan Keyvino.


“Gue bodoh Satria, sangat-sangat bodoh....Abang macam apa gue ini yang membiarkan adik gue hidup dengan keluarga yang telah memusnahkan keluarga kandung gue, kembaran macam apa gue yang membiarkan adik gue tumbuh dan hidup dengan penuh siksaan, membiarkannya kelaparan, kedinginan....”


“Hati gue sakit Satria, sakit banget, terasa pedih dan sangat perih sekali saat melihat gimana adik gue disiksa dengan sadis, diperlakukan kaya binatang, sakit hati gue sebagai kembarannya, gue merasa gagal, gue bodoh karena menganggap dia hidup bahagia padahal tidak...Dia hidup bagaikan di neraka, dia tetap hidup sesuai amatan tua Bangka busuk tersebut, bahkan di saat terakhir hidupnya dia tetap memegang teguh amat tersebut....gue benci diri gue sendiri, karena telat menerima kenyataan yang ada..... hahahaha kenapa takdir gue kaya gini amat Satria, kenapa gue harus menerima kenyataan bahwa keluarga gue musnah 20 tahun silam, membiarkan adik dan kembaran gue hidup dibawah bayang-bayangan kegelapan bagaikan neraka disisa hidupnya, dan sekarang saat gue dikasih kesempatan untuk bertemu lagi dengannya dan membahagiakannya, gue malah harus melihat adik gue terluka parah.....kenapa hiks kenapa takdir sepercanda itu Satria, kenapa tuhan tega merebut orang-orang yang gue sayangi Satria kenapa hiks....hiks”


Air mata Keyvino tidak bisa dibendung lagi, menetes dengan deras, wajahnya yang terlihat frustasi, tangannya memegang tepat dimana hatinya berada, berusaha meredakan sakit yang timbul dihati, rasa pedih yang membuatnya sesak nafas, matanya yang sembab menatap pintu UGD dengan kesedihan yang sangat besar.


Satria diam mematung, air matanya ikut menetes dengan deras, perasaan yang dirasakan oleh Keyvino seakan ia ikut merasakan kepedihannya, Satria sangat tahu hidup Keyvino seperti apa, karena mereka berdua tumbuh besar bersama, berbeda dengan dirinya yang anak broken home, Keyvino sendiri harus kehilangan orang-orang berharga dan menerima kenyataan yang sangat menyakitkan, kenyataan yang mampu membuat dia sampai di keadaan seperti ini, tangannya mencoba meraih Keyvino, menepuk pundaknya pelan, berusaha menguatkannya.


“Gue engga tahu hidup elo lebih menyedihkan dari gue, gue engga tahu caranya menghibur, cuman bisa bilang mulai sekarang jangan menyimpan beban sendirian Vin, ada gue sahabat elo dari kecil ini, gue siap jika elo mau berbagi penderita bersama dengan gue, mulai sekarang kita harus menjaga dia ya, jangan sampe dia terluka lagi”


Satria berusaha menguatkan sahabatnya, ia sangat tahu sekarang sahabat sedang sangat terpuruk, siapa yang tidak sedih kehilangan seluruh keluarga, ditambah harus menerima kenyataannya yang datang bertubi-tubi membuat dunianya terasa hancur.


Brak


“Dokter mau dibawah kemana adik saya!?”


“Adik anda harus segera dioperasi Tuan Gerlad, lukanya kembali terbuka dan dia kehilangan banyak darah”


Keyvino memegang tangan adiknya yang terdapat infusan dan ikut mendorong brankar yang diikuti Satria, matanya menatap luka yang terbalut perban dengan darah yang masih saja merembes, khawatirannya makin bertambah, air matanya kembali jatuh.


“Adik saya terluka karena apa dok?”


“Dari yang saya lihat adik anda terluka karena sebuah peluru yang tepat mengenai perutnya”


Bagaikan petir disiang bolong, jawaban yang diberikan dokter membuat Keyvino bungkam seketika, begitupun Satria. Mereka berdua menatap sosok Risa dengan air mata yang mulai turun deras, tangan mereka bergetar hebat berusaha untuk menyentuh luka Risa yang begitu banyak darah.


“D.... Dokter tapi a...adik saya engga kenapa-kenapa kan”


“Tuan tenang saja, adik anda hanya perlu dijahit dan transfusi darah saja, adik anda akan baik-baik saja”


Jawaban Dokter membuat kedua Lelaki tampan menghelakan nafasnya lega, mereka bersyukur tidak akan terjadi apa-apa dengan Risa.


“Tuan tunggu disini dulu, kami akan langsung melakukan operasinya”


“Baik Dokter, lakukanlah yang terbaik untuk adik saya”


Mereka segera mendorong brankar berisikan Risa memasuki ruangan operasi, tapi sebelum itu tiba-tiba brankar tersebut terhenti, tangan Keyvino ditarik oleh orang yang berada diatas brankar.


“Abang jangan khawatir sama Risa, adik Abang ini bukan Gadis yang lemah, Risa harap setelah selesai operasi Abang sudah berganti pakaian dan makan ya, Risa sayang Abang” Ujar Risa lemah lalu melepaskan tangan Keyvino, brankar akhirnya didorong kembali memasuki ruangan operasi.


Sedangkan Keyvino diam mematung, ucapan adiknya seakan seperti mantra bagi dirinya, jika ditanya saat ini Keyvino sangat bahagia dan terharu, adiknya ternyata masih sempat mengkhawatirkannya, Keyvino tersenyum dan berbalik arah meninggal ruangan operasi serta Satria.


Sedangkan Satria yang melihat dari tadi hanya diam saja dan dibuat takjub dengan kata-kata Risa yang mampu membuat Keyvino langsung melakukannya dengan senang hati dan tersenyum.


“Ajaib, hebat banget kamu Risa”


Hai author balik lagi nih, dikit lagi pembalasan dendam akan dimulai🤭, author minta dukungannya ya dengan cara Like dan Komen agar menambah mood author ya😘, salam sayang dari author manis😘