Rebirth To The Cupu Girl's Body

Rebirth To The Cupu Girl's Body
Chapter 31.



Happy reading.


Keramaian di bandara negara Paola tidak membuat semangat maupun senyum Risa luntur, dan hari ini juga akhirnya dia bisa bernafas dengan bebas. Beban yang ia pikul selama ini akhirnya menghilang, dirinya sangat bersyukur kepada Tuhan dan sangat berterima kasih kepada keluarganya yang menerima dirinya dengan tulus walaupun mengetahui kenyataan yang ada.


“Daddy, Mommy Bella bersyukur dan sangat senang karena mereka menerima Bella dengan tulus, walaupun mereka telah mendengar masa kelam-Ku dan kehidupanku sebelumnya tapi mereka tetap menerima tanpa merasa jijik ataupun terhina, mulai sekarang Bella akan menjalani hidup sebagai Risa dan berjanji akan selalu hidup dengan bahagia” Monolog Risa sambil menatap hamparan awan yang sangat indah dari jendela VIP pesawat terbang yang akan menuju ke Negara Quadro (Negara dimana kakaknya atau kembarannya berada).


“Hah, Apakah Abang akan percaya bahwa aku adalah kembarannya” Ujar Risa sambil menyandarkan tubuhnya yang masih lemah sambil menghela nafas, dirinya bersikeras untuk menemui kembarannya dengan keadaan yang belum pulih, tentu Risa mendapatkan penolakan dari keluarganya yang tidak mengizinkan dirinya pergi sebelum sembuh total, tapi bukan Risa namanya kalo menyerah begitu saja.


Flashback on


“Papi Ardian meninggal bukan karena kecelakaan” pernyataan Risa sukses membuat 3 orang dewasa membulatkan matanya sempurna.


“M... maksud Ka..kamu...” Lidah Rico terasa kaku, pikirannya blank seketika, dirinya tidak bisa mencerna ucapan Risa dengan baik begitu pun dengan ke 2 orang lainnya sama halnya dengan Rico.


“Papih Ardian meninggal karena dibunuh oleh kepala keluarga Smith yang sekarang” bagaikan petir disiang bolong pernyataan yang Risa beberkan seakan kembali membuka luka yang masih berbekas di hati mereka.


“B...bukannya Papih meninggal karena ke... kecelakaan?” Tanya Arion dengan wajah seakan mengatakan apakah benar Papih meninggal karena dibunuh? Itulah yang Risa lihat jelas di wajah Arion Abang keduanya.


“Mungkin kalian menganggap perkataanku seperti sebuah lelucon. Hah, tapi itulah kenyataan yang ada” Jawaban Risa semakin membuat mereka tidak bisa berkata-kata lagi, pikiran mereka blank pernyataan Risa bagaikan petir yang menyambar mereka di siang hari.


Risa yang melihat ekspresi mereka seperti itu sudah menduganya, dirinya menarik nafas panjang dan kembali bercerita tentang apa yang dialaminya selama koma.


Kata demi kata yang ia lontarkan semakin membuat ketiga orang di depannya tidak tahu harus berbuat seperti apa, mereka bertiga hanya bisa memasang wajah seakan tidak percaya.


Risa menceritakan bagaimana ia bertemu keluarga aslinya disaat koma, dan disana ia juga bertemu Papih Ardian serta Risa yang asli.


Risa menyampaikan pesan Papih dan juga Risa asli, dirinya menceritakan apa saja yang telah terjadi 20 tahun silam tentang pembantaian keluarganya dan meninggalnya Papih Ardian.


Fakta yang Risa beberkan dan cerita membuat ketiga orang di depannya semakin sulit berkata-kata, bahkan Mamih Fara sudah menangis dari tadi, dirinya gemetar hebat tangisannya semakin pecah dikala Risa menceritakan fakta tersebut, begitu pun Rico dan Arion mereka juga menangis tapi di kedua mata mereka menyimpan dendam dan amarah yang terlihat jelas di wajah keduanya.


“Itulah yang Papih katakan kepadaku, aku tidak memaksa kalian mau menerimaku atau tidak, yang pasti aku sangat berterima kasih karena kalian aku bisa merasakan kehangatan keluarga walaupun sebentar” Ujar Risa di akhir cerita dimana dirinya suruh menyampaikan amanah dan pesan yang Papih-nya titipkan untuk ketiga orang di depannya, “Tugasku telah usai menyampaikan pesan dan amanah dari Papih serta Risa, kalian tidak perlu memaksakan diri untuk menerimaku, aku juga sudah terbiasa hidup sendiri” sambung Risa sambil berusaha turun dari bangkar-nya untuk keluar dari ruangan ini, tugasnya telah usai tidak ada alasan untuk dirinya tetap tinggal dan lagi dirinya tidak akan memaksa keluarga Risa asli untuk menerimanyakah, dirinya sandari awal sudah tahu diri dan tidak ingin berharap lebih.


Risa yang berhasil turun dari bangkar-nya melepaskan cairan infusnya dan berjalan ke arah pintu keluar dengan tubuh yang masih lemah, meninggalkan ketiga orang dewasa yang masih diam mematung dengan pandangan yang sulit diartikan.


Bruk


Risa terjatuh saat dikit lagi akan sampai di pintu keluar ruangan VVIP ini, sontak ketiga orang dewasa tersebut kembali sadar dari lamunan mereka yang mencerna cerita Risa, mereka bertiga langsung melirik Risa yang tergeletak jatuh di lantai dengan tangan yang menopang tubuhnya untuk berusaha berdiri, mereka bertiga segera menghampiri Risa.


“Astaga Princess” Ujar Rico cemas dan mulai menggendong sosok yang telah dianggapnya adik, Yap Rico, Arion dan Mamih Fara telah menerima Risa dengan tulus, mereka tidak peduli macam mana masa lalu ataupun kehidupan Risa sebelumnya yang mereka tahu adalah bahwa diri mereka sudah telanjur menyayangi Risa.


Sedangkan Risa yang sedang merasakan sakit di bagian perutnya akibat bekas luka tembakan dibuat terkejut karena tiba-tiba tubuh mungilnya di gendong oleh sepasang tangan kokoh, sambil melihat siapa yang menggendongnya Risa dibuat terkejut dengan ekspresi mereka yang cemas dan juga khawatir terlihat jelas “K...kalian kenapa menolongku” pertanyaan yang Risa lontarkan saat sudah berada di atas bangkar-nya membuat ketiga orang di depannya tersenyum tulus.


“Karena kamu adalah adik kami dan putri kecil Mamih, tidak peduli engkau siapa di kehidupanmu sebelumnya yang pasti kami menerimamu dengan tulus sebagai anggota keluarga kami mulai sekarang” perkataan Rico sukses membuat Risa terharu, dirinya menatap ketiga orang di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Kau akan tetap menjadi adik bungsuku yang menggemaskan” Ujar Arion sambil mencubit pipi Risa pelan.


“Apa pun yang terjadi Mamih dan abang-abangmu telah menerimamu dengan tulus, mulai sekarang janganlah bersedih dan mulailah berbahagia, karena kebahagiaanmu prioritas kami sekarang sayang” perkataan Mamih membuat Risa tidak lagi bisa membendung air matanya, ada perasaan hangat yang menjalan dihatinya, rasa bahagia yang sulit diartikan dan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


“Terima kasih” Lirih Risa sambil tersenyum hangat dan memeluk Mamih-nya diikuti kedua abangnya yang mulai memeluknya dengan erat.


Pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari kejauhan, pemandangan keluarga yang harmonis.


“Bagaimana kamu akan membalaskan dendam Papih, Risa?!” Tanya Mamih sambil memegang tangan Risa dengan lembut dan menyalurkan kehangatan yang membuat Risa merasa tenang.


“salah satunya dengan Bisnis” Desis Risa sambil memasang smirik andalannya.


“Bisnis” beo Rico, Arion dan Mamih yang tidak mengerti ucapan Risa.


Risa yang melihat keluarganya kebingungan hanya tersenyum manis, “Abang tahu tempat Abang bekerja?” Tanya Risa mengalihkan pandangannya ke Rico.


“Kenapa memangnya?”


“Perusahaan tersebut milik Risa” Ujar Risa enteng sambil memposisikan tangannya ditelinga.


“APA” teriak mereka bertiga terkejut bukan main.


Risa yang sudah memprediksi akan terjadi hal ini bernafas lega setidaknya dirinya berhasil menyelamatkan gendang telinganya agar tidak pecah.


“K...kau serius Ri....Risa?” Tanya Rico hati-hati sambil menatap Risa, jawab selanjutnya membuat mereka semakin mengangga tak percaya.


“Iya, perusahaan tersebut milikku, aku membangun perusahaan tersebut saat menjadi Bella dan walaupun saat ini aku menjadi Risa perusahaanku tetap milikku” Ujar Risa dengan aura seorang CEO besar.


“Jadi Jack adalah se...”


“Iya Jack adalah sekretaris sekaligus tangan kananku bang” Ujar Risa memperkuat kenyataan yang ada.


“Jadi bisakah aku pergi ke Negara Quadro untuk bertemu kembaranku?”


Flashback off


Risa terkekeh geli saat mengingat ekspresi mereka ketika Risa memohon untuk pergi menemui kembarannya membuat dirinya tidak henti-hentinya tersenyum, membuatnya menjadi pusat perhatian di bandara internasional Quadro. Ya, Risa telah sampai di Negara Quadro yang terkenal musim gugur dan musim dinginnya.


Sambil berjalan dengan senyum manis terpatri jelas di wajah, ia tidak henti-hentinya memikirkan ekspresi keluarganya tersebut hingga ia tidak melihat jalan di depannya.


Bruk


Risa terjatuh menabrak seorang Lelaki yang sedang menelepon tanpa memperhatikan jalan, karena tubuhnya yang masih lemah membuatnya terpental sedikit ke belakang, ia yang kesal pun berdiri dan menghampiri Lelaki yang ikut terjatuh juga.


“Om kalo mau menelepon tuh harusnya menepi dulu, jangan menelepon sambil berjalan, akibatnya om menabrak saya” Ujar Risa kesal sambil menatap Lelaki yang melepaskan kaca mata hitamnya, ‘Ganteng’ satu kata yang terlintas di pikirannya saat melihat wajahnya.


“Nona apakah saya tidak salah dengar, jelas-jelas nona yang berjalan tidak melihat jalan mengapa Anda malah menyalahkan saya, terlebih lagi saya bukan Om nona” Desis Lelaki tampan dengan tajam sambil menatap Risa yang lebih pendek darinya ‘manis dan imut’ dua kata saat melihat Risa ditambah dengan wajah kesalnya ‘Menggemaskan’.


“Lah jelas-jelas Om yang salah, Om kan tinggi pasti bisa melihat saya yang kecil ini saat jalan kan” Desis Risa balik sambil menatap tajam Lelaki tampan yang diperkirakan berumur 27 tahun, sekarang Risa maupun Lelaki tersebut menjadi pusat perhatian di bandara internasional, mereka kira Risa dan Lelaki tersebut pasangan yang sedang bertengkar.


“Haish seterah denganmu, saya malas berurusan dengan gadis kecil sepertimu” Ucap Lelaki tampan sambil pergi meninggalkan Risa yang masih memasang wajah kesal, dirinya sangat terburu-buru sekali dan malas meladeni gadis kecil seperti Risa.


Risa yang mendengar ucapan Lelaki tampan tersebut semakin kesal ditambah dengan Lelaki tersebut meninggalkannya begitu saja tanpa berniat minta maaf.


“DASAR OM-OM MENYEBALKAN” teriak Risa tanpa memedulikan dirinya menjadi pusat perhatian, ia meninggalkan bandara dengan kaki di hentak-hentakan karena kesal dengan Lelaki tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk ke Swiss-Belhotel terlebih dahulu.


Jangan Lupa Like, Komen Dan Vote ya mohon dukungannya 🙏🏻