Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Terimakasih Kakak ( l )



Saat Tammy keluar dari pintu gerbang sebuah mobil mewah masuk ke dalam gerbang rumah itu.


"Tammy? Astaga Tammy kenapa keluar rumah tanpa mengawasan, itu kenapa lagi nangis? Aku harus segera lapor ke Ayah," Ucap Claudia lalu masuk ke dalam


Yaa yang tadi adalah Claudia, Claudia pulang cepat karena perasaannya tidak enak..


Claudia kaget saat melihat Bundanya berlumuran darah dan sudah tergeletak tak bernyawa, dengan Ayah dan adeknya yang terus menangis.


"Astaga BUNDAAA." Claudia langsung lari ke arah bundanya ia syok, ia menahan air matanya supaya tak terjatuh..


"Ayah apa yang terjadi dengan Bunda Ayaah? Hikss" Akhirnya air mata Claudia tak bisa tertahan lagi..


Surya masih terdiam dan menangis, ia juga masih tak menyangka atas apa yang terjadi hari ini..


Karena ayahnya tak lekas menjawab akhirnya Claudia bertanya pada Satria, "Dek ini siapa yang ngelakuin pada Bunda, siapa dek yang udah ngebunuh Bunda sampai kayak gini?"


Satria juga cuman diam dan menangis, ia tak sanggup mengatakan bahwa yang melakukannya adalah Tammy, hati dan bibirnya menolak untuk mengatakan hal itu..


Yang mana membuat Claudia geram kenapa tak ada yang menjawab pertanyaannya sama sekali.


Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya hal lainnya.


"Ayah itu kenapa Tammy keluar rumah, dia kan nggak boleh keluar, itu bahaya untuknya, Yah!" Ucap Claudia dengan air mata yang terus mengalir..


"Cukup!! Kamu tidak usah menyebut nama anak sialan itu di depanku. DIA YANG SUDAH MEMBUNUH BUNDAMU, Ayah sudah mengusirnya, dan tak akan Ayah


izinkan dia menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. DIA ITU PEMBUNUH." Ucap Surya menekankan kata-katanya..


Claudia terkejut bukan main, "Enggak itu nggak mungkin. Ayah itu nggak mungkin, Tammy tak seperti itu. Claudia paham betul sifat Tammy gimana,"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, ayah mengatakan yang sebenarnya." Ucap Surya..


"Enggak mungkin Ayah, SEORANG ANAK TIDAK AKAN MEMBUNUH IBUNYA SENDIRI. Kenapa Ayah mengusir Tammy, dia tak salah. Tammy belum tau apa-apa." Kemudian Claudia pergi dari hadapan Surya hendak keluar rumah. Tapi sebuah kalimat seseorang membuatnya menghentikan langkah kakinya..


"Kakak jangan pergi, jangan tinggalin Satria. Kakak harus berusaha terima kalau Tammy ya---"


Ucapan Satria terpotong karena tiba-tiba kakaknya memeluknya..


"Kakak akan kembali suatu saat, kamu jangan sedih, kakak akan selalu ada di hatimu. Maafkan Kakak. Jaga dirimu baik-baik ya!" Ucap Claudia mengelus pundak adek laki-laki nya itu.


Kemudian Claudia langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu


"CLAUDIA!! KALAU KAMU PERGI MENYUSUL ANAK PEMBUNUH ITU, JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI KE SINI," Teriak Surya saat melihat Claudia sudah keluar dari pintu rumah..


Claudia yang mendengar teriakan ayahnya hanya tersenyum kecut, ia mengusap bulir bening yang terlihat di sudut matanya.


"Maafkan Claudia Ayah, Claudia sudah janji sama Bunda, akan selalu menjaga Tammy apapun keadaannya," Batin Claudia lalu segera lari mengejar Tammy..


🍂🍂🍂


Semakin Tammy menjauh dari kediaman rumah keluarga Pratama, semakin deras pula bulir air mata terjatuh dari matanya dan membasahi pipi chubby miliknya. Menangis Itulah yang bisa mewakili perasaan Tammy sekarang..


Rasanya begitu lelah, lelah hati dan lelah raga..


Senyuman yang tadi selalu terukir di bibir manisnya, kini senyuman itu telah hilang bersamaan dengan perasaan yang sudah hancur.


Tammy berjalan di pinggir jalanan mengikuti kemana arah jalan, ia sama sekali tidak mengenali jalan yang ia lewati.


Tammy tak tau ia harus kemana, selama ini Tammy tak pernah keluar rumah sampai sejauh ini, Tammy yang selalu dilarang oleh orangtuanya keluar rumah menjadikan ia tak mempunyai teman di luaran rumah dan ia juga tak mengenali semua orang yang ada di sekitarnya,, dan tetangga tetangga Tammy hanya mengira kalau Tammy hanyalah anak dari seorang pembantu yang bekerja di rumah mewah itu, mansion keluarga Pratama.


Tammy tidak pernah membayangkan ataupun memikirkan akan terjadi hal seperti ini. Tidak sekalipun pikiran itu melintas di otaknya. Hari-hari yang Tammy lewati sebelumnya penuh dengan canda tawa dan sekarang itu semua telah hancur, ia juga tidak tau akan bertahan hidup atau tidak..


Tammy merasa lelah kerena telah berjalan sangat jauh dari rumahnya, ia berhenti sejenak di sebuah taman yang ada di kota itu dan segera mencari tempat duduk,


Tammy berusaha untuk tidak menangis dan terus mengusap setiap air matanya. Tetapi bulir bening dari matanya itu terus mengalir, seolah tak akan bisa berhenti dan akan terus mengalir.


Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya. Tammy kaget ia mendongakkan kepalanya menatap siapa yang memeluknya..


"Kak Claudia?" Lirih Tammy


"Iya ini kakak," Balas Claudia mengusap pipi adeknya ..


"Kakak ngapain di sini?" Tanya Tammy dengan muka sembab nya..


"Siapa kak?"


"Astaga Tammy! Atau kamu bukan adek kakak?" Geram Claudia pasalnya kalau bicara dengan Tammy harus sabar dengan kepolosannya itu..


Tammy mengangguk, "Emang kakak mau ikut Tammy?" Tanya Tammy lagi.


"Astaga adek ku sayang kamu lupa tadi kakak bilang apa?" Balas Claudia dengan nada lembut.


"Iya Tammy inget, emang kak Claudia nggak be---,"


"Enggak," Jawabnya santai.


"Kak Claudia percaya sama Ta----,"


"Enggak."


"Berar-----,"


"Enggak."


"Kalau en----,"


"Enggak."


Tammy cemberut, "Kakak!! Tammy nanyanya serius, jangan memotong Tammy dulu."


"Enggak." Jawab Claudia lagi.


Tammy benar-benar geram, bisa-bisanya kakaknya membuatnya geram disaat seperti ini.


"KAKAK." Geram Tammy


"Adekk," Claudia menjawabnya dengan nada lembut selembut sutra..


"Kakak!! Tammy serius, jangan memotong perkataan ku lagi kak." Ucap Tammy menunduk.


"Iya kakak juga serius, jangan sedih, kakak minta maaf. Maafin kakak ya." Ucap Claudia mengelus punggung adeknya itu..


"Iya Tammy maafin,"


"Kakak kenapa nggak benci sama aku," Tanya Tammy masih tetap menunduk..


"Karena..." Claudia menggantung kata katanya.


"Karena kakak percaya kamu nggak akan ngelakuin seperti itu, apalagi sama Bunda. Kakak percaya itu. Seorang anak apakah membunuh ibunya sendiri? Hanya orang tidak waras melakukan hal itu."


Tammy kembali meneteskan air matanya, "Trimakasih kak, Kak Claudia udah percaya sama aku, aku sayang kakak," Tammy langsung memeluk kakaknya dengan erat seolah ia tak mau jauh dan kehilangan kakaknya


Claudia membalas pelukan adeknya. "Iya, kakak juga sayang kamu. Sekarang kamu jelasin ke kakak yang sebenarnya, kakak nggak akan motong lagi."


Tammy menjelaskan semuanya ke kakaknya tanpa mau melepaskan pelukannya kepada kakaknya. Tammy bercerita dengan bulir air mata yang terus keluar dari sudut matanya. Ia menceritakan semua dari waktu ia keluar kamar hingga ia keluar rumah. Claudia selalu mendengarnya, setiap kata yang dilontarkan dari mulut Tammy, ia memahaminya..


...Bersambung...


🌺🌺🌺


Jangan lupa buat:


🌹 Like


🌹 Vote


🌹 Tambah favorit


🌹 Komen


JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI YA.


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏