Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Kampus Tama Bangsa



Skip Pagi☀🌤


Pagi pun kembali tiba. Hari ini adalah hari pertama Chika dkk masuk Kampus yang ada di Jakarta. Meskipun sifat Chika seperti itu, tapi Chika juga tau peraturan ketika menjadi seorang pelajar atau mahasiswi.


Chika bangun lebih pagi kemudian mandi dan mengganti pakaiannya, setelah itu ia memoles wajahnya dengan make-up tipis membuat kecantikannya semakin menjadi.


Hari ini Chika tidak perlu mendaftar terlebih dahulu, ia tinggal masuk dan mengikuti kelas seperti mahasiswi lainnya. Karena memang Chika sudah menyuruh anak buahnya untuk mengurus pendaftaran dirinya dan para sahabatnya. Chika dkk mengambil jurusan yang sama yaitu bisnis dan manajemen.


Chika turun ke lantai dasar menggunakan lift dan segera sarapan bersama sahabatnya yang tengah menunggunya. Chika sarapan hanya memakan sepotong sandwich dan segelas susu hangat, itulah kebiasaan sarapan Chika. Dirinya tidak memakan nasi dan lauk pauk seperti sahabatnya.


Setelah selesai sarapan, Chika segera menuju ke garansi mobilnya diikuti oleh ketiga sahabatnya. Disana terlihat ada empat mobil sport dengan berbagai merek ternama yang dibelinya dengan harga yang sangat fantastis. Itu Chika membelinya khusus untuk ketiga sahabatnya. Chika mengganti mobilnya berbeda dengan yang ia pakai kemarin.


Empat mobil sport itu keluar dari halaman Mansion yang luas itu dan langsung menuju jalanan kota Jakarta. Karena ini jam para pelajar berangkat ke sekolahnya, jalan Kota Jakarta sedikit macet. Meskipun mereka bangun lebih awal, tapi tetap saja kena macet. Sepertinya kota Jakarta sangat berbeda dari kota Osaka.


Namun itu tidak untuk Chika, dirinya bahkan bisa dengan cepat menyalip kendaraan yang ada didepannya, meskipun dirinya mengendarai mobil. Sedangkan ketiga sahabatnya sudah terlanjur terjebak macet, mau tidak mau mereka harus bersabar dalam situasi kemacetan ini.


****


Kampus Tama Bangsa, Jakarta.


Kampus ini adalah salah satu Kampus terbesar dan ternama di kota Jakarta. Pemilik Kampus ini tentunya bukan dari kalangan orang sembarangan. Yaitu dimiliki oleh salah satu perusahaan besar, Pratama Group. Perusahaan yang pernah menduduki peringkat pertama se-Asia sebelum digeser oleh Chakar Inc.


Mahasiswa ataupun mahasiswi disini kebanyakan dari golongan anak seorang pengusaha atau pembisnis. Namun tidak jarang ada mahasiswa atau mahasiswi dari kalangan keluarga biasa bisa mmasuk kampus itu, mereka bisa masuk dengan kecerdasannya atau bisa melalui jalur beasiswa..


Kedatangan sebuah mobil sport di kawasan parkir mobil Kampus ini tentu menjadi pusat perhatian banyak para mahasiswa ataupun mahasiswi. Mereka terkagum-kagum dengan mobilnya dan penasaran siapa pemilik mobil tersebut, dari yang mereka pikirkan pemilik mobil itu pasti dari keluarga miliarder. Meskipun banyak mobil sport yang berjejer di parkiran kampus itu, mobil yang baru saja datanglah yang lebih sport dari yang lainnya.


Chika, ya mobil yang menjadi pusat perhatian itu adalah milik Chika. Chika memakai mobil yang berbeda dari yang kemarin. Dari dalam mobil Chika belum melihat ada tanda-tanda kemunculan mobil ketiga sahabatnya, dirinya sudah menduga bahwa sahabatnya itu terjebak macet. Tak ingin menunggu lama, Chika langsung mengambil tasnya yang ada di kursi samping dan segera keluar dari mobilnya.


Para mahasiswa dan mahasiswi langsung membuka mulut lebar-lebar, terkagum-kagum melihat sosok seorang gadis yang baru saja keluar dari mobil tadi. Bukan hanya mobilnya yang cantik tetapi juga pemiliknya, itulah yang ada difikiran mereka.


Chika tidak berpenampilan tomboy, dirinya memakai celana panjang tidak terlalu ketat dengan baju yang sangat cocok dipadukan dengan celananya. Sepatu bermerek berwarna putih melekat sempurna di kakinya, Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang membingkai mata tajam dan indahnya. Dengan rambut bergelombang tidak diikat dan dibiarkan tersapu angin menambah kesan cantiknya, perfect. Sederhana, tapi terlihat berkelas dan cantik.


Sebelum melangkah masuk, Chika melepaskan kacamata hitamnya. Chika segera berjalan memasuki koridor. Memasang wajah datar dan dinginnya dan berjalan dengan gaya angkuhnya namun terlihat anggun membuat para mahasiswa-mahasiswi menatapnya tanpa berkedip, sepertinya kelas sudah dimulai kelihatan kalau tinggal sedikit mahasiswa-mahasiswi yang masih ada di luar.


~Wawww bidadari turun dari langit nih...


~Perfect...


~Wahhh saingan Shela dkk nih...


~Aduhh gue kok jadi ngerasa ngaca ya...


~Duhh gue kok jadi dag dig dug ya...


Yahh begitulah kira-kira bisik-bisik para mahasiswa-mahasiswi yang ada di sekitar koridor itu. Sungguh disini sangat berbeda dengan Osaka. Sesekali Chika melemparkan tatapan tajam kepada mereka, yang mana itu membuat mereka menelan ludah dan menunduk takut.


Saat menekan tombol lift, ternyata lift nya sedang di tempati seseorang dan harus menunggu terlebih dahulu. Karena Chika malas kalau harus melewati tangga darurat, dirinya harus menunggu orang itu keluar. Lagipun dirinya bisa sambil nunggu para sahabatnya yang ketinggalan.


"Chika!"


*


Setelah sampai ke Universitas Tama Bangsa, mereka langsung memarkirkan mobilnya asal. Mereka segera mencari mobil milik Chika, dan ternyata sudah berbaris rapi di parkiran mobil itu, setelah itu mereka dengan buru-buru melangkah kakinya ke Universitas itu. Koridor di sini sudah sepi, mungkin karena sudah pada masuk semua.


Karena terburu-buru dan tidak fokus ke jalanan depan akhirnya tidak sengaja mereka bertabrakan dengan empat mahasiswa yang mungkin terburu-buru juga. Tanpa melihat siapa yang ditabrak, Kinan, Melda, dan Inggit segera pergi dari situ dan berjalan menuju lift tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Begitupun dengan keempat mahasiswa tadi, mereka hanya mengucapkan satu kata kemudian kembali melangkahkan kakinya dengan buru-buru.


*


Chika menoleh ke arah siapa yang memanggilnya. Dan ternyata itu adalah ketiga sahabatnya yang tadi ditinggalkan. Inggit, Kinan, dan Melda.


Mereka menghampiri Chika dan juga ikut menunggu lift terbuka.


Beberapa saat kemudian akhirnya lift terbuka, disana terlihat tiga orang mahasiswi yang tak lain adalah Shela dkk. Karena merasa lift terbuka akhirnya Chika dkk masuk tanpa melihat siapa yang baru saja akan keluar, karena mereka fokus ke handphone nya masing-masing dan tak melihat ke arah depan akhirnya mereka bertabrakan.


"Kalau jalan pake mata dong!!" Bentak salah satu mahasiswi itu yang tak lain adalah Shela.


Melda melihat siapa itu. "Dimana-mana kalau jalan pake kaki!!" Bentak Melda juga.


"Ya karena kalian nggak lihat depan kita jadi kena virus nih!!"


"Ngaca dong ngaca!!" Geram Melda. "Lo pikir kita nggak jijik apa lihat muka lo yang jelek itu."


Tangan Shela terkepal erat. "Kurang ajar!! Beraninya kalian ngehina gue. Kalian nggak tau siapa gue? Ohh gue tau, Kalian pasti anak baru kan. Ciihh anak baru aja blagu!"


Kinan menyeringai. "Ohh tentu, kita tau lo itu siapa. Lo kan anak tiri dari pemilik Universitas ini, bukan begitu?" Tanyanya dengan nada mengejek..


Shela mematung, bagaimana bisa mereka tau soal itu.


"Udah minggir, kita mau masuk." Inggit langsung mendorong Shela dkk namun mereka tidak sampai terjatuh. Sedangkan Shela dkk, mereka kesal sendiri. Inggit masuk langsung diikuti ketiga sahabatnya.


💙💙💙💙💙


Hallo para reader's tercinta, aku balik lagi...


Jangan lupa untuk vote, like, dan comment di novel ini ya!!


Saran dan kritikan para reader's akan sangat membantu aku dalam melancarkan membuat novel ini sampai tamat.


Jangan lupa juga buat klik tombol favorite supaya selalu mendapat notif saat aku up part baru atau buat episode selanjutnya.


Satu lagi, jangan lupa follow akun ini ya. Kalau kalian mau aku ikutin balik, kalian tinggal komen aja nanti bakalan aku ikutin balik ☺


Maaf ya lama aku nggak update, karena aku kemarin-kemarin lagi mengurus soal kelulusanku sama menguras pendaftaran sekolahku selanjutnya, di maklumin ya😁. Maaf membuat kalian menunggu...


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏