
Dan bersamaan dengan itu pula Surya dan Satria masuk. Mereka terkejut melihat Tammy yang memegang pisau di dekat perut Clara yangg sudah tergeletak tak bernyawa di lantai itu, itu membuat Surya dan Satria berfikir bahwa Tammy lah pelakunya
"TAMMY!! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN ISTRIKU," Bentak Surya beserta air mata yang terus mengalir..
"Ayah, Tammy hanya menca.... " Ucapan Tammy terpotong karena ayahnya kembali membentak nya..
"KAU YANG MEMBUNUH ISTRIKU, BUNDAMU SENDIRI, AKU MELIHATNYA. KENAPA KAU MELAKUKAN INI SEMUA TAMMY." Bentak Surya sambil menangis melihat istrinya tergeletak tak bernyawa di hadapannya.
Mata Tammy berkaca-kaca. "Bukan aku Ayah yang membunuhnya tapi si pem.... " Ucapan Tammy kembali terpotong karena ada dua orang yang muncul dari arah dapur..
"Astaga apa yang terjadi dengan Nyonya, Tuan? Kenapa Nyonya bisa begini," Ucapnya pura-pura kaget, siapa lagi kalau bukan Tasya dan anaknya Shela.
"Heh kau jangan pura-pura kaget, kau kan yang membunuh bundaku," Ucap Tammy sinis memandang Tasya yang tiba-tiba datang memotong pembicaraannya..
Mau tau Tasya bisa muncul dari dapur? Ya karena Tasya lewat lift yang ada di lantai dua, sebelah kamar Satria. Karena kamar Satria juga di lantai dua berhadapan dengan kamar Tammy..
"Apa maksud mu Nona, bukannya Nona Tammy yang tadi membentak bentak Nyonya Clara, kenapa jadi saya yang di salahkan." Jawab Tasya pura-pura bingung..
"Heh kau ja.... " Lagi-lagi ucapan Tammy terpotong kembali, tapi bukan Tasya yang memotong melainkan Surya, ayahnya..
"Cepat ceritakan yang sebenarnya terjadi, Tasya." Ucap Surya tegas, dan itu kembali membuat Tammy kaget karena mau mendengarkan penjelasan Tasya daripada dirinnya.
"Sebenarnya saya dan anak saya Shela tidak tau pasti Tuan, cuman tadi saya dengar sekilas dan melihat kalau Nona Tammy memarahi Nyonya Clara sambil membawa pisau dan ingin mendorong Nyonya Clara dari atas tangga, lalu saya mencegah Non Tammy supaya tak mendorong Nyonya Clara. Tetapi Non Tammy mengarahkan pisaunya ke saya, lalu Nyonya Clara membela saya, Non Tammy marah ketika melihat bundanya membela saya, alhasil yang di tusuk adalah Nyonya Clara dan Non Tammy mendorong Nyonya Clara. Putri saya juga melihat kejadian itu Tuan." Ucap Tasya panjang lebar.
Yang mana membuat Tammy kaget dan marah bisa-bisanya pembantu itu membolak-balikan fakta dan memfitnahnya. Ia cuman bisa berharap ayahnya tidak kemakan oleh omongan Tasya..
"Ayah it----"
Surya kembali memotong pembicaraan Tammy, "Apa benar yang dikatakan oleh ibumu itu, Shela?" Tanya Surya, Tammy hanya berharap bahwa orang yang sudah dianggap saudara olehnya akan menjawab 'tidak benar'.
"Iya om, aku juga di ancam sama Tammy supaya tak membantu ibuku dan tante Clara, kalau sampai aku membantunya maka aku akan dibunuh juga," Jelas Shela.
Deg!
Jawaban Shela bagaikan sayatan yang menyayat ulu hati Tammy, kenapa Shela juga memfitnah Tammy.
Dan dengan bodohnya Surya langsung mempercayai omongan Tasya dan Shela..
"Shela kenapa ka..." Tammy benar-benar tidak di kasih kesempatan apapun untuk menjelaskan satu kata pun. Setiap ingin menjelaskan selalu saja terpotong..
Surya mendekat ke arah Tammy, dan tiba-tiba...
PLAKK...
Surya menampar pipi kanan Tammy dengan sangat keras, hingga terdengar di seluruh ruangan itu..
"Ayah ke---."
"DIAMM!!!" Bentak Surya
"SEKARANG SUDAH JELAS KAN KALAU KAMU YANG SUDAH MEMBUNUH CLARA, ISTRIKU. DAN ITU BUNDAMU SENDIRI, KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN ITU HAH? Bentak Surya dengan Emosi yang sudah di ubun-ubun..
Tidaklah bisa ayahnya itu berfikir dengan logika. Kejadian yang di ceritakan oleh Tasya sangat tidak masuk akal di dalam pikiran Tammy. Tapi Ayah-nya....
Tammy masih diam mematung sambil memegangi pipinya yang memar karena bekas tamparan ayahnya sendiri. Ia benar-benar tidak dikasih kesempatan untuk menjelaskan, jangankan menjelaskan bicara aja selalu terpotong. Tammy berusaha untuk tidak menangis, tapi ia tak bisa menahan bulir air mata yang akan jatuh membasahi pipinya..
" KAU!!! JIKA BUNDAMU MASIH HIDUP, PASTI DIA AKAN MENYESAL TELAH MELAHIRKANMU, BEGITUPUN DENGAN AKU, BAHKAN AKU AKAN LEBIH MENYESAL AKAN ADANYA DIRIMU INI.DASAR KAU ANAK SIALAN." Bentak Surya dengan teganya..
Jedarr!!
Bagai disambar petir, hati Tammy benar benar sudah hancur mendengar semua kata-kata yang diucapkan ayahnya sendiri barusan, air mata semakin deras mengalir...
"Bukan aku Ayah pelakunya aku mohon pada ayah. Percayalah padaku." Mohon Tammy, berharap ayahnya tak mengeluarkan kata-kata pedih yang menggores hatinya..
"HAH!! APA KAU BILANG? AKU SURUH PERCAYA KEPADAMU?? AKU SUDAH TIDAK PERCAYA LAGI PADAMU, ANAK SIALAN." Bentak Surya kembali, hal itu juga yang membuat hati Tammy kembali tersayat dan hancur..
"Sudah Ayah, cukup!!" Tammy berucap dengan lirih. Ia benar-benar tak mampu lagi mengungkapkan bagaimana rasanya saat ini. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap berdiri tegak walaupun sejujurnya ia ingin berlari menghindar dari sini.
"Kenapa hah? Rasa sakit yang ada di hatimu tak sebanding dengan penyesalanku karenamu."
"DAN JANGAN PERNAH KAU MEMANGGILKU AYAH, KARENA AKU MERASA TAK PUNYA ANAK SEPERTI DIRIMU INI YANG SEORANG PEMBUNUH."
Lagi-lagi ucapan ayahnya bagaikan hantaman keras yang menekan ulu hatinya. Tammy hampir tak bisa menopang berat tubuhnya.
Sedangkan Tasya dan Shela, mereka diam diam tersenyum menyaksikan tontonan live yang ada di depannya itu
Tammy sedikit menatap Satria yang dari tadi hanya menatapnya sambil berlinang air mata tanpa sedikit membelanya.
Tammy berjalan ke arah Satria, "Kak? kak Satria percaya kan sama aku, kalau aku bukan pembunuh Bunda?" Tanya Tammy dengan air mata yang masih keluar. Namun yang didapatkan bukanlah kepercayaan namun....
PLAKK....
Satria menampar pipi sebelah kiri Tammy,
"APA KAMU BILANG? Aku percaya padamu? ITU TIDAK SAMA SEKALI. Aku tak pernah menyangka jika kamu yang telah membunuh bundaku. Ayah benar, jika saja bunda masih hidup maka Bunda akan sangat membencimu, begitupun dengan diriku aku juga sangat kecewa dan benci kepadamu. Tammy yang ku kira polos ternyata seorang pembunuh. Dan satu lagi, JANGAN PERNAH PANGGIL AKU KAKAK, KARENA AKU BUKAN KAKAKMU, AKU JUGA MERASA TIDAK MEMILIKI ADEK SEPERTIMU," Ucap Satria menekankan kata-katanya..
Bagai dijatuhkan ketinggian menuju jurang yang terdalam, dadanya terasa sesak, lehernya seolah tercekik sangat erat
Hati yang belum terobati kini kembali mendapatkan sebuah kata-kata yang sangat menggores di hati Tammy, apalagi kalau itu dilakukan oleh orang yang disayangi membuat hatinya hancur sehancur hancurnya.
Seperti vas bunga yang dibanting hingga pecah dan hancur berkeping-keping, dan itulah yang dirasakan oleh Tammy. Hati ini sudah hancur dan tak akan bisa di obati dengan kata MAAF. Dan kalaupun sudah dimaafkan, lukanya akan terus membekas dan tak akan pernah hilang seperti sedia kala..
Seperti vas bunga walaupun sudah di lem atau diperbaiki maka tidak akan jadi utuh seperti sebelumnya, dan pasti masih ada goresan goresan yang membekas di vas bunga itu karena pecah. Dan mungkin Tammy pun begitu...
(Lahh napa aku jadi bahas vas bunga? Tak apa lah itu hanya perumpamaan, kalian paham kan 🤣🤣)
"Dan sekarang CEPAT KAU TINGGALKAN RUMAHKU INI, DAN JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI DI RUMAHKU LAGI. SEMUA ORANG SUDAH TAK MENGINGINKAN MU TINGGAL DISINI. SEMUA YANG KU KASIH UNTUKMU, CEPAT KEMBALIKAN. KARENA AKU TAK MAU BARANG YANG KU BERIKAN DIGUNAKAN ATAU DIPAKAI OLEH PEMBUNUH." Ucap Surya dengan nada mengusir.
Tammy mendongakkan kepala menatap Surya dan Satria bergantian, "OKE BAIKLAH. AKU AKAN PERGI DARI SINI DAN TAK AKAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKIKU DI RUMAH INI, DAN AKU AKAN MENCARI BUKTI BAHWA AKU TAK MEMBUNUH BUNDAKU. TAPI SETELAH AKU MENDAPATKAN BUKTI DAN KALIAN MENGETAHUI KEBENARANNYA MAKA SETIAP KATA YANG KALIAN UCAPKAN SUATU SAAT NANTI AKAN KU ANGGAP KATA ITU HANYA HEMBUSAN ANGIN YANG MENGGANGGU PIKIRANKU SAJA. Yang artinya, SETIAP KATA YANG KALIAN UCAPKAN KEPADAKU SUATU SAAT NANTI ITU TIDAK AKAN BERGUNA BAGIKU." Teriak Tammy lantang. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan menahan seluruh air mata yang menginginkan untuk jatuh.
"Dan satu lagi ini gelang yang kau berikan kepadaku tiga bulan yang lalu, dan saat ini juga aku akan melepaskannya dan mengembalikan kepadamu. Dan kalau soal bajuku ini, ini bukan pemberian dari mu tapi ini pemberian dari bundaku." Ucap Tammy sinis sambil melemparkan sebuah gelang ke hadapan Surya.
Tammy beralih menatap sinis Tiara dan Shela, "Dan untuk kalian berdua, tunggu pembalasan dari ku, nikmatilah masa-masa keberhasilanmu, setelah itu aku akan datang dan menghancurkan kalian berdua. AKU PERGI BUKAN KARENA MENYERAH. INGAT ITU" Ucap Tammy sambil menunjuk Shela kemudian Tiara..
Dengan langkah yang pasti, Tammy mendekat ke arah Shela. Manik kedua mata mereka bertemu. Dulu mereka saling menatap dengan kasih sayang, sekarang penuh dengan kebencian. Sorot mata kebencian terlihat jelas dari mata kedua anak gadis tersebut.
Bibir Tammy berucap. "Sungguh. Aku sungguh sangat bodoh. Bodoh karena aku telah menyayangimu. Bodoh karena aku telah memberikan kasih sayangku kepadamu. Aku bodoh karena telah mempercayai dirimu, aku sudah memberikan kasih sayang, kepercayaan ku kepadamu. Tapi apa? Apa yang kau lakukan padaku. KAU MENGKHIANATIKU. AKU BENCI PADAMU, SHELA LESTARI."
Tammy menghapus air matanya dengan kasar. "Kalu tau apa yang aku rasakan saat ini? ITULAH YANG AKAN KAMU RASAKAN SUATU SAAT NANTI." Ucapnya menekankan setiap kata-katanya.
Tanpa menunggu ada yang berkata lagi, Tammy langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan mereka yang masih saja diam mematung dan Tammy langsung keluar dari rumah itu. Tammy juga tak tau kenapa ia sampai seberani mengatan kata-katanya tadi. Yang jelas hatinya sedang KACAU dan HANCUR..
...Bersambung...
🌺🌺🌺
Jangan lupa buat:
🌹 Like
🌹 Vote
🌹 Tambah favorit
JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI YA.
Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏