Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Rencana



Setelah selesai sarapan, Chika dkk segera melajukan mobilnya menuju ke tengah hutan tempat dimana markas Black Angel's berada.


*****


Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai, memang jarak antara Mansion dan markas lumayan jauh.


Tak lupa sebelum turun dari mobil mereka menggunakan topengnya.


Markas Black Angel's dijaga dengan sangat ketet dan terdapat dinding pelindung yang tak sembarang orang bisa memasuki bangunan itu, bangunan yang terlihat sangat sepi namun siapa sangka bangunan itu bisa melenyapkan seseorang dengan sekejap. Bangunan itu bagaikan benteng yang dilindungi dengan keamanan yang sangat tinggi. Technology yang digunakan juga tidak main-main. Sensor sidik jadi dan bola mata. Semua yang ada di bangunan ini hampir sangat canggih. Dan beberapa waktu lalu Chika telah berhasil menciptakan technology yang sangat mutahir dengan sebagai asisten yang tak terlihat. Technology itu bisa melakukan apapun yang diperintahkan terkait yang ada di dalam markas ini dan hanya orang-orang yang terdaftar saja yang bisa melakukan itu.


Markas inilah yang dulu juga menjadi pusat saat masih Kakek Jee yang memimpin.


Begitu mereka masuk, semua anggota BA menunduk sebagai tanda hormat. Terlihat ada seorang laki-laki yang melangkah pasti mendekati Chika dkk.


"Selamat datang, Queen." Sapa Ares


"Kapan Anda bertiga sampai di Indonesia?" Sambungnya bertanya.


Yaa laki-laki itu adalah Ares. Ares adalah tangan kanan Chika di dunia bawah. Dia cucu dari teman kakek Fahri.


"Kemarin." Inggit menjawab dengan datar.


Ares hanya mengangguk tanda mengerti.


Chika dan sahabatnya segera meninggalkan Ares yang masih setia berdiri dan langsung menuju ke ruang pribadi milik Chika. Ruang itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari milik Chika sendiri.


Setelah terbuka terdapat sebuah ruangan yang luas dengan nuansa gelap dan hanya diterangi dengan lampu yang sedikit redup.


Chika segera duduk di kursi kebesarannya diikuti dengan sahabatnya duduk di sofa.


Hening.


Tak ada yang membuka pembicaraan semua fokus kepada urusannya masing-masing. Semakin lama Melda merasa bosan, tak ada yang ia kerjakan selain memainkan handphone nya yang entah harus dibuka apa lagi.


"Chika kapan kita membunuh dua manusia sialan itu?" Tanya Melda kepada Chika yang tengah fokus dengan laptopnya yang entah sedang mengerjakan apa.


Memang Chika sudah menceritakan semuanya kepada sahabatnya. Dulu mereka juga terkejut dan marah. Jadi mereka bertekat untuk membantu Chika dalam segala hal. Yang belum diceritakan hanyalah tentang pernikahan Surya dan Tiara.


Menurut Surya, Satria juga perlu sosok seorang ibu. Dan akhirnya terjadilah pernikahan antara pembantu dan majikan, Surya dan Tiara, pernikahan itu dilaksanakan ketika satu tahun setelah meninggalnya Clara. Dan mereka berdua mendapatkan keturunan laki-laki yang sekarang berumur delapan tahun. Yang mana itu membuat Chika semakin membenci Ayahnya..


Chika menutup laptopnya, menatap Melda datar. "Tidak semudah itu."


Kinan dan Inggit segera mengalihkan pandangan menyimak pembicaraan antara Melda dan Chika.


"Kenapa? Kita datengin rumah itu dan langsung serang dan bunuh dua wanita pengecut itu." Tanya Melda bingung.


Chika menggeleng. "Kalian tau?..."


Chika bertanya menggantung ucapannya. Chika langsung membuka laptopnya kembali dan keluarlah sebuah cahaya di dinding gelap itu seperti layar lebar. Di layar itu terdapat video pernikahan antara Surya Ahmad Pratama dengan Tiara Lestari.


Sahabat Chika tak percaya melihatnya. "Ja--jadi mereka menikah?" Tanya Inggit tak percaya.


"Hemm."


"Kapan?" Melda bertanya.


"Satu tahun setelah kepergian Bunda gue." Jawab Chika.


"Wahhh kurang asem tu orang. Sama anaknya saja tak percaya. Giliran sama orang lain aja langsung dinikahin." Geram Inggit melihat tayangan yang ada di depannya itu.


"Bener banget tuh. Pengen gue bunuh wanita penggoda itu. Jijik gue liatnya. Itu Kakak lo juga bodoh atau gimana main setuju aja." Maki Melda geram.


Chika membiarkan dua orang sahabatnya itu memaki tayangan yang ada di layar dinding tersebut.


"Dasar Bodoh." Ucap Kinan yang sedari tadi hanya diam menyaksikan. Ia hanya mengeluarkan dua kata namun sangat menggambarkan sosok seorang Surya Ahmad Pratama.


Kembali hening, semua terhanyut dalam fikiran masing-masing..


"Terus rencana lo apa?" Tanya Melda.


"Mencari Kakak gue dulu. Dan juga Gue mau lihat sampai mana Mereka melangkah." Ucap Chika.


"Oke gue sih setuju aja. Terus kita mulainya dari mana?" Kinan bertanya.


"Ke Universitas." Ucap Chika singkat


"Maksud lo, kita kuliah gitu?" Inggit mengulang.


"Tapi kan kita udah lulus, lo juga udah lulus di Harvard kan?!." Sambungnya.


"Terserah kalian mau ikut atau nggak." Ucap Chika dengan muka datarnya.


Mereka menghela nafas. "Oke oke, gue ikut." Ucap Inggit.


"Oke lah nggak masalah, gue udah janji sama kakek Fahri. Ya walaupun gue harus kembali ke bangunan yang bikin otak gue pengen meledak, gue nggak kuat lagi buat mikir." Batin Melda pasrah.


"Apapun yang lo rencanain Chik, gue bakal bantu dan ngedukung lo. Asalkan itu nggak bahaya buat lo." Batin Kinan tulus..


🌹🌹🌹🌹


"Kita mau kemana?" Kinan bertanya ketika mereka sedang di perjalanan entah ingin menuju kemana..


"Mall."


Kinan mengangguk setelah mendengar jawaban Chika dan segera melajukan mobilnya ke Mall terbesar di kota ini.


Setelah melakukan perjalanan sekitar lima menit ahirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Chika dkk segera turun dan masuk ke dalam Mall tersebut. Membeli keperluan untuk mereka besok kuliah..


Setelah semuanya terbeli ahirnya mereka membayar terlebih dahulu sebelum pulang.


Dalam perjalanan, Kinan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Memilih melewati jalan yang sepi supaya tidak terjebak oleh macet. Karena hari sudah semakin sore pasti para pekerja akan pulang ke rumahnya.


Cittt...


Saat di tengah jalan tiba tiba Kinan menghentikan mobil.


Inggit mendengus kesal. "Apaan sih. Kalau mau berhenti bilang dong."


"Iya nih, untung aja handphone gue nggak pecah. Kalau pecah awas aja lo, gue minta ganti rugi dengan yang lebih bagus." Gerutu Melda kesal sambil mengambil handphone nya yang terjatuh.


Sementara Chika diam saja melihat ke arah depan dengan datar apa yang terjadi sehingga membuat mobilnya berhenti mendadak..


"Yaa sorry. Gue juga kaget, kalian lihat tuh di depan." Ucap Kinan sambil menunjuk ke arah depan. Dimana disana sedang ada pertengkaran antara empat pemuda tampan yang sedang berusaha melawan sekitar dua puluh orang pria yang berbadan kekar.


"Waah ada apa'an tuh. Empat lawan dua puluh. Seru juga." Ucap Melda yang melihat pertengkaran empat orang lawan dua puluh orang dengan penyerangan yang sama..


"Apa'an lo bilang. Seru? Seru tapi tuh?" Kinan menunjuk keempat orang yang diserang kewalahan. "Liat. Lo nggak lihat apa, tu cowok udah kewalahan gitu."


"Iya juga sih. Nggak tega gue sama mereka. Itu siapa ya yang nyerang." Ucap Melda.


"Tolongin yuk." Ajak Kinan kemudian membuka sabuk pengamannya dan segera membuka pintu mobilnya..


"Topeng." Ucapan Chika menghentikan Kinan untuk membuka pintu mobilnya.


Kinan meringis. " Hehehe Gue lupa."


Kinan segera memakai topengnya. "Ayuk turun, mereka akan mati kalau kita nggak bantuin."


"Iya bentar." Ucap Melda dan Inggit. Mereka segera memakai topengnya.


"Lo nggak mau ikut Chik?" Tanya Inggit ketika melihat Chika hanya diam dan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun..


...Bersambung...


🌺🌺🌺


Jangan lupa buat:


🌹 Like


🌹 Vote


🌹 Tambah favorit


🌹 Komen


JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI YA.


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏