Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
Merindukannya



Tak lama kemudian mobil Chika sudah tidak terjebak dalam situasi kemacetan, dan akhirnya membuat Chika mengendarai mobilnya dengan menambahkan kecepatan dari sebelumnya..


Chika melajukan mobilnya menuju ke suatu bangunan yang pernah ia tempati kurang lebih sembilan tahun dan ia tinggalkan membawa luka di hatinya, dulu ia berjanji bahwa tidak akan menginjakkan kakinya di rumah itu.


Saat sudah mulai mendekati tempat itu Chika semakin menambah kecepatan hingga mencapai kecepatan penuh, entah apa tujuannya tidak ada yang tau. Yang mana itu membuat orang-orang yang ada di belakang kursi penumpang kehilangan keseimbangan sementara para teman Satria hanya bisa berdoa supaya dirinya bisa selamat.


Mereka tidak bisa berucap sepatah katapun, seolah-olah mulutnya sangat berat hanya untuk berbicara saja, mereka berusaha tetap tenang walaupun sebenarnya sudah takut setengah mati.


Sementara Chika, dia hanya duduk santai dan hanya tangannya saja yang bergerak. Chika dari tadi tidak menginjak remnya. Bagi Chika dkk itu adalah hal yang sudah biasa ya walaupun di hati sahabat Chika masih ada rasa takut. Diam-diam Chika Chika menyeringai ketika merasakan ada aura ketakutan para sahabat Satria, meskipun tak melihat Chika bisa merasakan apapun meski jarak jauh sekalipun. Entahlah apa yang sedang ada di dalam pikiran Chika itu.


Ciittt...


Tiba-tiba saja Chika mengerem mendadak tanpa memberikan aba-aba apapun. Satria dan Kinan sama sama kehilangan keseimbangan, apalagi saat sebelum mengerem mendadak mobil ini terlebih dahulu melewati tikungan dan tanpa di rem.


Tepat saat Chika ngerem mendadak kepala Kinan hampir saja terbentur kursi di depannya, tapi refleks tangan Satria terulur untuk menahan tubuh Kinan dan yang satunya lagi untuk menahan kening Kinan yang hampir terbentur kursi depan, mata Kinan terpejam sejenak. Kinan merasakan ada tangan yang menempel di keningnya dan menahan badannya, ia mengerjapkan matanya tiga kali. Manik mata Kinan langsung bertemu manik mata coklat milik Satria. Manik mata mereka beradu dengan intens. Entahlah!!


Ekhemm.... Ekhemm.... Maaf aku nggak bisa buat adegan tatap tatapan😂😂 Anggap aja begitu lah😁😁


Kejadian saat ini tak luput dari mata tajam seorang Chika Yoshida Samudra. Chika melirik ke arah kaca mobilnya yang langsung tertuju pada apa yang terjadi di kursi belakang. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai yang penuh arti. Entahlah apa yang sekarang ada di dalam otak liciknya yang selalu penuh kejutan.


Tiinnn.. Tiinnn...


Bunyi klakson yang sangat nyaring sengaja dibunyikan dua kali oleh Chika. Yang mana itu membuat dua orang yang berada di kursi belakang yang sedang beradu mata itu kaget mendengar klakson yang cukup nyaring di telinganya.


Mereka berdua sama-sama gugup dan langsung memposisikan ke tempat semula. Entahlah apa yang sedang mereka rasakan.


"So... sorry." Ucap Satria dan Kinan sama-sama gugup.


Keduanya hanya mengangguk, Kinan seperti tak bisa bernafas, dadanya terasa sedikit sesak saat berada sangat dekat dengan orang yang ada di sampingnya sekarang ini.


"Masih betah di mobil gue? Turun!"


Suara dingin dari Chika membuat Satria dkk kembali tersadar, mereka belum menyadari dimana Chika menghentikan mobilnya saat ini.


"Sekali lagi, thanks ya. Kalian udah nganterin kita." Ucap Satria sambil membuka pintu mobil.


Tidak ada jawaban dari siapapun. Chika langsung kembali menancapkan gasnya begitu saja begitu Satria dkk turun dari mobilnya.


"Satria bukannya ini depan rumah lo?" Tanya Cakra ketika sudah tersadar bahwa dirinya turun di depan gerbang rumah sahabatnya.


Satria sedikit terkejut. "Iya benar. Tapi bagaimana bisa mereka tau kalau ini rumah gue?"


Cakra hanya menaikkan kedua pundaknya pertanda bahwa dirinya juga tidak tau.


"Sumpah. Gue takut banget. Untung kita selamat. Itu cewek serem juga ya nyetir mobilnya." Ujar Pasha mengingat betapa cepatnya Chika mengendarai mobilnya.


"Bukan cuma lo aja." Ucap Yudha. "Eh Btw, itu cewek siapa ya? Kenapa kita nggak nanya tadi."


Satria menaikkan kedua pundaknya tidak tau. "Udah nggak usah dipikirin, yang penting kita selamat." Ucap Satria. "Kalian mau pulang kan? Biar gue suruh Pak Tirta nganterin kalian pulang."


Mereka hanya mengangguk. Kemudian Satria memanggil Pak Tirta, sang supir pribadinya. Beberapa detik kemudian, Pak Tirta muncul.


"Maaf Den, ada yang bisa bapak bantu?" Tanya Pak Tirta.


"Ini Pak. Tolong anterin mereka kerumah masing-masing ya!"


"Baik Den."


Satria menangguk. "Gue masuk dulu. Kalian hati hati ya."


"Iya. Thanks ya."


*****


"Astaga sayang, mukamu kenapa? Kamu terluka?" Ucap seorang wanita paruh baya khawatir ketika melihat putra tirinya pulang dengan keadaan terluka di bagian tangannya dan sedikit memar di bagian mukanya. Lebih tepatnya pura-pura khawatir.


"Tidak Ma. Aku tidak apa, aku tadi hanya terjatuh." Ucap Satria berbohong. "Oh ya Ma. Ayah kemana?" Tanyanya.


"Ada. Lagi di balkon kamar utama."


"Shela sama Putra?"


Putra, adalah anak dari Surya dan Tiara. Putra Ahmad Pratama nama lengkapnya. Dia baru menginjak usia delapan tahun.


Satria mengangguk. "Aku ke atas dulu ya Ma. Mau nyamperin Ayah."


"Iya. Kamu jangan lupa istirahat."


"Iya Ma." Satria segera menaiki tangga yang akan menuju lantai utama dimana kamar ayahnya berada.


Wanita paruh baya itu adalah si muka dua, Tania Lestari. Sepertinya menjadi seorang Nyonya di rumah ini belum cukup membuat dirinya puas. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Yang pasti otaknya sudah terisi dengan rencana jahat.


Dan sepertinya Satria sudah mulai menyayangi Mama tirinya, bertahun-tahun ia berada disisinya membuat perlahan merasakan sedikit memiliki rasa kasih sayang terhadap ibu sambungnya. Namun sayangnya ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Dirinya terlalu cepat mengambil keputusan.


Setelah sampai di depan pintu kamar utama, Satria segera mengetuk pintunya. Beberapa detik kemudian terdengar suara Ayahnya yang menyuruhnya untuk masuk. Satria segera masuk dan menuju balkon kamar.


Disana nampak seorang pria sedang bersantai ditemani dengan secangkir teh hangat tersaji di mejanya. Meskipun pria itu sudah berumur 39 tahun, pria itu masih terlihat tampan dan gagah.


"Ayah?" Satria duduk di kursi sebelah Ayahnya.


Surya mengalihkan pandangan ke arah putranya. "Astaga, Satria. Kamu kenapa bisa seperti ini?" Tanya Surya khawatir melihat putranya terdapat luka memar di mukanya dan juga di lengannya ada sedikit luka goresan.


Satria tersenyum melihat kekhawatiran Ayahnya. "Aku tidak apa-apa Ayah, hanya sedikit luka. Tadi saat aku dan sahabatku dalam perjalanan pulang kami melewati jalanan sepi, tapi tiba-tiba saja ada yang menghadang mobil kami. Tapi untungnya ada yang nolongin kita."


"Ya udah sekarang Ayah obatin luka kamu ya?"


Satria mencegah Ayahnya yang ingin mengambil kotak obat. "Tidak usah Ayah, Nanti aku bisa sendiri."


Surya hanya mengangguk dan kembali duduk. "Ooh ya, itu tadi mobil siapa yang nganterin kamu? Kenapa nggak disuruh masuk?!" Tanya Surya ketika tadi dirinya melihat dari balkon sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumahnya.


"Itu tadi mobil orang yang nolongin aku, Yah." Jawabnya. "Tapi anehnya, kenapa dia bisa tau rumah kita."


"Mungkin jalurnya sama dengan jalur rumahnya."


Satria hanya mengangguk dengan jawaban ayahnya. Tetapi rasanya masih ada yang mengganjal di hatinya. "Tapi aku merasa tidak asing dengannya, saat aku didekatnya aku merasa ada ikatan darah dengannya."


Surya masih sedikit bingung atas apa yang diceritakan putranya itu.


"Dia membuatku teringat dengan.....Tammy. Matanya sangat mirip dengannya." Sambung Satria sedikit menunduk.


"Satria, Ayah tau kamu sedang merindukan adekmu. Tetapi tidak semua orang kamu anggap seperti adikmu juga." Ujar Surya.


"Apa Tammy baik-baik saja di luaran sana?" Satria kembali sedih saat mengingat apa yang ia lakukan terhadap adiknya dulu.


"Percayalah Semoga adikmu baik-baik saja. Dia pergi tidak sendiri, ada Kakakmu juga yang menjaganya." Ucapnya menenangkan fikiran Putranya. "Kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan saudara-saudara mu, tapi sampai sekarang kita belum menemukan jejaknya."


"Ayah, apa Ayah percaya kalau Tammy yang udah ngelakuin itu pada Bunda? Aku merasa ragu, Ayah."


"Begitupun dengan Ayah. Tapi Mamamu yang telah menjadi saksi bahwa Tammy pelakunya." Jawab Satria mengingat penjelasan dari orang yang sekarang telah menjadi istrinya.


"Tapi perkataan Kak Claudia waktu itu yang membuat aku ragu bahwa Tammy yang melakukannya." Ucap Satria mengingat memori beberapa tahun lalu, dimana kakaknya mengucapkan kata-kata yang membuatnya ragu.


"Kalau begitu kita selidiki saja." Ucap Surya, dan hanya dibalas anggukan oleh Putranya.


Ck!... Kalian baru mau menyelidikinya sekarang? Kemana saja kalian selama ini? Setelah bertahun-tahun lamanya baru sekarang akan melakukannya. Semua sudah terlambat. Walaupun nanti kalian mendapat bukti bahwa dia tak bersalah, tetapi tetap saja kalian telah menggoreskan luka di hatinya, bahkan bukan cuman menggores tetapi juga menghancurkan. Dan tidak bisa diobati dengan kata, MAAF...


💙💙💙💙💙


Hallo para reader's tercinta, aku balik lagi...


Jangan lupa untuk vote, like, dan comment di novel ini ya!!


Saran dan kritikan para reader's akan sangat membantu aku dalam melancarkan membuat novel ini sampai tamat.


Jangan lupa juga buat klik tombol favorite supaya selalu mendapat notif saat aku up part baru atau buat episode selanjutnya.


Satu lagi, jangan lupa follow akun ini ya. Kalau kalian mau aku ikutin balik, kalian tinggal komen aja nanti bakalan aku ikutin balik ☺


Maaf ya kalau aku jarang up. Aku lagi nggak ada mood untuk update. Ini views nya lumayan banyak, tapi kenapa yang like nggak ada?!!


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏