Queen Of Black Angel'S

Queen Of Black Angel'S
She Is Fake Nerd



Ting!!


Pintu lift yang digunakan oleh Chika dkk terbuka setelah sampai dimana kelas. Begitu mereka sampai di depan pintu kelas, Melda langsung mengetuk pintu nya.


Tokk... Tokk.. Tokk...


Dosen yang mendengar pintu diketuk pun segera menyuruh orang tersebut masuk.


Begitu Chika dkk masuk, satu kelas langsung heboh kedatangan empat mahasiswi cantik itu.


"Sudah diam kalian jangan brisik!" Tegur sang dosen.


"Yang mahasiswi baru itu?" Tanya dosen kepada Chika dkk.


Chika dkk mengangguk sebagai jawaban..


"Oke. Perkenalkan diri kalian!"


Melda mengangguk. "Saya Melda Ishii Yamazaki, Melda."


"Kinanda Sero Yamamoto, Kinan."


"Inggita Kano Matsuda, Inggit."


"Chika Yoshida Samudra, Chika."


Sang dosen mengangguk. "Oke, sekarang kalian boleh duduk di sana. Kita akan segera memulai kelas!" Pintanya sambil menujuk empat bangku kosong.


Tanpa menjawab Chika dkk segera duduk di bangku kosong itu. Kemudian bimbingan pun segera dimulai.


Beberapa jam kemudian akhirnya para mahasiswa-mahasiswi diperbodohkan oleh dosen untuk keluar kelasnya. Keluar dari ruangan yang membuat otaknya harus terus bekerja supaya bisa menangkap dan memahami materi yang diberikan..


Begitupun dengan Chika dkk, mereka segera keluar kelas dan melangkahkan kakinya menuju kantin, tempat para mahasiswa-mahasiswi mengisi perutnya. Tapi ketika sampai di kantin, Chika pergi untuk ke toilet


"Chika mau kemana tuh?" Tanya Melda.


"Mungkin ke toilet." Jawab Kinan.


"Di sini kantin penuh, kita turun aja yuk cari yang kosong." Ajak Inggit melihat sekitar yang sudah ramai.


"Semua kantin penuh lah kalau jam istirahat. Mau atas mau bawah sama aja." Kata Melda.


"Ada yang kosong." Ucap Kinan tiba-tiba.


"Mana?"


"Itu!" Tunjuk Kinan pada empat mahasiswa tampan yang tidak lain adalah Satria dkk.


"Mereka kan..." Inggit menggantung ucapannya.


"Lo lupa? Chika nyuruh kita buat bersikap biasa-biasa saja sama mereka."


"Ya udah kalau gitu kita samperin." Ajak Melda.


Kinan dan Inggit mengangguk dan mengikuti langkah Melda.


"Boleh gabung?" Tanya Melda kepada empat mahasiswa tampan itu..


"Duduk aja." Balas salah satu dari mereka yang bernama Pasha.


Melda, Kinan, dan Inggit pun duduk di kursi yang masih kosong. Setelah itu Inggit memesan makanan untuk ketiga sahabatnya.


Setelah beberapa saat Inggit pun kembali ke meja makan. Hening, tidak ada yang membuka suara.


"Nama gue Pasha, boleh kita kenalan?" Tanya salah satu teman Satria yang bernama Pasha membuka keheningan.


Inggit mengangguk. "Gue Inggit."


"Gue Melda."


"Kinan."


"Kalau gue Yudha."


"Gue Satria."


"Cakra."


Mereka saling mengangguk. "Kalian mahasiswi baru?" Tanya Yudha.


"Ya." Kinan menjawab. Dibalas anggukan oleh Yudha.


Drrtttt... Drrttt..... Drrtt...


Tiba-tiba ponsel Inggit bergetar. Inggit mengambil ponsel yang ada di tas nya. Keningnya mengernyit melihat nama yang tertulis di layar ponselnya, tumben sekali.


"Siapa?" Tanya Kinan.


"Kevin."


"Angkat aja, siapa tau penting!"


Inggit mengangguk lalu menggeser tanda hijau ke atas.


Tersambung...


"Apa'an lo nelpon gue?" Tanyanya ketus.


"Kak Chika mana?" Seseorang yang di jauh sana berbicara.


"Lagi di toilet. Kenapa?" Tanyanya.


"Ini urusan kakak dan adik. Kak Inggit nggak perlu tau."


Inggit berdecak. "Terus kenapa nelpon gue?"


"Nomor Kak Chika nggak aktif."


"Terus?"


"Berikan ponselnya ke Kak Chika, gue mau ngomong."


"Ohhh, bentar nunggu dia balik, paling sebentar lagi."


"Kenapa dengan Kevin?" Tanya Kinan


Inggit menaikkan kedua bahunya tanda tidak tau. "Dia mau ngomong sama Chika."


"Kak mana. Bentar lagi gue mau take." Kevin berteriak dari jauh sana.


"Bentar lagi." Terdengar hela'an nafas dari sana.


Beberapa detik kemudian akhirnya pesanan makanan datang bersamaan dengan Inggit melihat Chika yang masuk area kantin. Sedangkan Satria dkk langsung menyantap makanannya.


Inggit melambaikan tangannya ke arah Chika. "Chika!" Dapat melihat bahwa Chika sedang berjalan santai ke arahnya.


Byurrrr.


Tanpa disengaja ada seseorang yang memakai kacamata tebal itu tidak sengaja minuman panas yang dibawanya tumpah dan mengenai tangan Chika yang putih mulus. Bisa membayangkan kan betapa panasnya air itu, air yang baru saja mendidih langsung mengenai tangan. Tapi itu tidak berlaku bagi Chika, dirinya bahkan tak merasakan apapun. Ketiga sahabat Chika terbelalak kaget tak terkecuali Satria dkk. Itu air panas.


"Ehh ma--maaf ya a-aku tidak se-sengaja." Ucap seseorang itu meminta maaf dan dengan reflek dia memegang tangan Chika dan mengelap dengan tisu yang tadi dia bawa.


Dan Chika membiarkan itu terjadi. Mata tajamnya mentap orang yang dengan berani memegang tangannya.


"Astaga kenapa gue ceroboh gini sih, jadi tumpah kan. Ehh bentar deh, kenapa tangannya baik-baik aja. Nggak ada luka nya." Batin orang itu sambil melihat tangan yang ia lap tidak ada luka sama sekali.


Seseorang berkacamata tebal itu mendongakkan kepada melihat pemilik tangan yang ia pegang. "Chika."


Bibirnya berucap lirih sambil membenarkan kacamatanya, namun bagi Chika itu terdengar jelas..


Siapa dia?! Chika tak mengenalinya.


"Maaf." Ucapnya lirih lalu melepaskan tangan Chika.


"Chika!" Panggil Kinan.


Chika mengalihkan pandangan ke arah meja dimana para sahabatnya duduk. Ia langsung melangkah ke arah meja itu menghampiri sahabatnya.


"Dia benar-benar tidak mengenal gue. Auranya sangat berbeda dengan dulu, banyak yang berubah dengannya. Apa di kembarannya ya." Gumam orang itu. Sepertinya dirinya melupakan penampilannya saat ini. Dirinya berpenampilan seperti seorang nerd, jelas saja siapapun tidak mengenali muka aslinya.


Sedangkan Chika langsung mengambil posisi duduk di sebelah Kinan tepatnya di depan Cakra, sahabat Satria.


"Tangan lo baik-baik aja kan?" Tanya Kinan dengan nada khawatir.


"Hemmm." Chika berdeham sebagai jawaban bahwa ia baik-baik saja.


"Oh ya. Ini Kevin mau ngomong sama lo." Ujar Inggit memberikan ponselnya ke arah Chika.


Chika menerimanya. Dia langsung mendekatkan ponsel Inggit ke telinganya.


"Kevin?"


"Kak Chika kemana? Kenapa nomornya nggak aktif?" Seseorang yang jauh disana sedikit berteriak.


"Sengaja." Jawabnya santai. "Kenapa?"


"Seseorang dengan berani menemuiku untuk ketiga kalinya, seolah dia ada di setiap tempat. Dia bilang begini 'Chika ada di mana Kevin, aku ingin menemuinya'. Namun aku bilang 'tidak tau'!" Ucap Kevin dari jauh disertai hela'an nafas panjang.


"Lalu?"


"Sepertinya dia menyesal, kak."


"Untuk?" Ucapnya pura-pura lupa.


"Karena dia su----"


Tut! Tut! Tut!


Tiba-tiba panggilan terputus oleh Kevin.


"Kevin?" Chika mencoba menghubungi Kevin ulang, namun nomor nya tidak aktif.


Akhirnya Chika mengembalikan ponsel Inggit.


Inggit menerimanya. "Kenapa?"


"Mati."


Brak!


"Siapa yang mati?" Melda reflek langsung menggebrak meja.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Karena kaget, Yudha langsung tersedak makanan yang tadi ia makan. Melda yang melihat itu langsung saja mengambil minumnya lalu memberikan pada Yudha dan membantu meminumnya. Yudha menerimanya, tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Melda. Pandangan mereka bertemu. Pandangan orang yang ada di meja itu mengarah ke arah Melda dan Yudha yang...... entahlah!


Cukup lama mereka terdiam dan saling pandang. Hingga sebuah suara membuyarkan kedua nya. Yang mana membuat keduanya salah tingkah.


"So-sorry."


Yudha hanya mengangguk


"Siapa yang mati Chik?" Ulang Melda menghilangkan kegugupan nya.


"Ponselnya yang mati, Melda." Inggit menyaut dengan malas.


Melda mengangguk sebagai jawaban. Kembali lagi mereka ke makanannya masing-masing.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat ke arah Chika dkk dan Satria dkk dengan tangan yang terkepal erat. Siapa lagi kalau bukan Shela dkk.


"Sial, jangan sampai mereka suka sama cewek sombong itu." Umpat Shela kesal.


"Iya, kita nggak boleh biarin mereka deket." Timpal salah satu teman sela yang bernama Mita.


Shela menyeringai. "Kita labrak sekarang juga." Pintanya ingin melangkahkan kaki ke arah meja Chika dkk dan Satria dkk.


Namun teman Shela yang bernama Dara mencegah. "Jangan! Kita nggak boleh gegabah, disana ada kakak lo kan, nanti kita dicap jelek sama mereka, bisa-bisa juga kakak lo laporin kelakuan kita ke orangtua lo lagi. Mau ditaruh mana muka kita." Ujarnya.


"Ya Dara benar, kali ini kita pake otak jangan pake otot!" Ucap Olive


Shela terdiam, benar juga apa yang dikatakan temannya itu. Kemudian Shela meninggalkan area kantin itu diikuti dengan ketiga temannya.


Tapi sayangnya mereka belum tau siapa Chika sebenarnya. Jika Shela licik maka Chika lebih licik.


Chika masih memikirkan, salah satu mahasiswi yang berpenampilan nerd tadi menyebutkan namanya dengan lirih, sepertinya dia terkejut melihat Chika. Yang jelas....


She is fake nerd!


...Bersambung...


NOTE:


Aku mau ngasih tau ke kalian, kalau episode sebelumnya banyak yang aku revisi jadi mohon untuk kalian membaca ulang ya, supaya di episode selanjutnya kalian tidak bingung dan tidak tanya-tanya..


💙💙💙💙💙


Hallo para reader's tercinta, aku balik lagi...


Jangan lupa untuk vote, like, dan comment di novel ini ya!!


Saran dan kritikan para reader's akan sangat membantu aku dalam melancarkan membuat novel ini sampai tamat.


Jangan lupa juga buat klik tombol favorite supaya selalu mendapat notif saat aku up part baru atau buat episode selanjutnya.


Satu lagi, jangan lupa follow akun ini ya. Kalau kalian mau aku ikutin balik, kalian tinggal komen aja nanti bakalan aku ikutin balik ☺


Maaf ya lama aku nggak update, kerena aku lagi di sibukan dengan kegiatan ku yang akhir-akhir ini padat. Mohon dimaklumi 😁🙏


Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏