
🌹🌹🌹
2 Minggu Kemudian
Dua minggu sudah cukup untuk mengurus perpindahan Chika. Sahabat Chika juga sudah mendapatkan izin dari keluarganya.
Sekarang Chika dan sahabatnya termasuk Tania, Agam, Erik juga sudah berada di Bandara Haneda Tokyo penunggu jadwal penerbangan menuju Indonesia yang sekitar 5 menit lagi.
Yang tidak ada hanyalah Kevin dan kakek Neneknya. Kevin sedang disibukkan dengan aktivitasnya, aktivitas nya yang selalu padat membuat dirinya harus rela mengorbankan waktunya bersama keluarganya. Sesuai keinginannya, Kini dirinya sudah berhasil mencapai cita-citanya yang diidamkan sejak dulu, dirinya telah menjelma sebagai seorang aktor ternama. Nama Kevin Yoshida Samudra sedang naik daun di dunia entertainment tanah air, tidak ada yang tidak kenal dengannya. Dia juga sudah sering bolak-balik ke Indonesia untuk membintangi sebuah sintron ataupun FTV. Entah mengapa dirinya lebih suka berkarir di Indonesia daripada di Jepang, mungkin karena dirinya lahir di Indonesia..
Sementara Kakek dan Neneknya sedang pergi berobat ke dokter karena Nenek Sita yang sedang sakit demam. Jika saja Chika tau kalau Kakek dan Neneknya akan sakit makan ia akan menunda keberangkatannya, namun karena sudah memesan tiket pesawat seminggu yang lalu ia harus berangkat sekarang.
"Sayang kamu jaga diri baik baik ya. Maaf Mama tak bisa ikut denganmu. Kalau ada waktu Mama akan ke Indo." Meskipun Chika bukan anak kandungnya Tania tetap saja khawatir.
"Iya, kamu hati hati ya disana. Kami akan selalu merindukan kamu." Sambung Agam.
Chika mengangguk lalu memeluk Mama dan Papanya, dan langsung dibalas dengan mereka. "Mama sama Papa tenang saja aku akan baik-baik saja. Mama tak usah khawatir."
Tania dan Agam hanya bisa mengangguk. Kemudian Chika berpindah ke kakaknya.
"Kamu jangan aneh-aneh di sana. Jangan marah-marah sama orang." Ucap Erik
Chika berdehem. "Tidak janji kakakku yang tampan" Ucapnya santai
"Kamu bakal kembali ke sini kan dek?" Tanya Erik
"Entahlah kak, Mungkin aku akan lama." Balas Chika.
Erik mengangguk..
"Jangan bilang ke siapapun ya soal aku pergi ke Indo. Aku lagi pengen fokus ke urusanku." Ucap Chika melepaskan pelukan Kakaknya
Mereka mengangguk paham..
Terdengar suara pemberitahuan bahwa pesawat yang akan ditumpangi Chika dkk akan segera take-off ke Indonesia.
"Pa, Ma, Kak, aku pamit ya. Kalian jaga diri baik baik." Ujar Chika.
Mereka mengangguk, Chika pun segera pergi.
"Kalian tolong jaga Chika baik-baik. Jangan biarkan dia melakukan hal yang akan mencelakakan dirinya. Kalau ada apa-apa hubungi kami!" Ucap Tania kepada sahabat anaknya itu.
"Siap, Bibi!" Ucap mereka kompak.
"Oke kita pamit ya." Pamit Inggit. Mereka mengangguk.
🌹🌹🌹
Butuh sekitar tujuh jam perjalanan udara untuk sampai ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.
Chika menghela nafas pelan kini dirinya sudah sampai di negara kelahirannya, terlintas kata-kata yang menyakitkan hatinya.
~Dasar kau anak sialan
~Jangan panggil aku Ayah karena aku merasa tak memiliki anak sepertimu
~Aku menyesal akan adanya dirimu
~Aku sudah tak percaya lagi denganmu
~Dasar kau pembunuh
Ingatan menyakitkan itu kembali terngiang di kepalanya. Menampilkan wajah datar, Bulir air mata keluar dari sudut matanya. Dia segera mengusap air mata sialan itu dengan kasar..
"Indonesia, I'm back. The place where I gathered and the place where I was destroyed."
Menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan pelan. Chika memejamkan matanya sejenak. "Bunda, aku kembali. Bunda yang tenang ya di sana. Aku akan membalas yang setimpal atas kematian Bunda."
Chika membuka matanya kilatan merah di manik matanya, mengepalkan tangannya erat. "Sudah cukup gue ngasih waktu buat kalian bersenang-senang. Waktunya kalian yang HANCUR."
Chika memegang telinganya, bibirnya berucap. "Siapkan mobil."
Sahabatnya yang sedari tadi diam hanya menatap Chika heran. Dengan siapa dia berbicara?. Ternyata sedari tadi Chika memasang earphone di telinganya yang tertutup rambutnya yang terurai. Entah langsung tersambung ke siapa earphone tersebut.
Chika mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan sahabatnya terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Sebelum tiba di Mansion mereka akan mampir terlebih dahulu ke restaurant untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
🌹🌹🌹
Jakarta, Indonesia
Karena tadi Chika dkk mampir terlebih dahulu di sebuah restaurant untuk mengisi perutnya. Mereka sampai di rumah mendiang Kakek Jee malam hari.
Mansion yang dihuni Mendiang kakek Jee Young ketika berada di Indonesia. Mansion itu terlihat seperti istana yang megah, bagunan kokoh yang menjulang tinggi dengan desaign mewah membuatnya nampak sangat cantik..
Mereka segera masuk ke rumah itu. Di dalam terlihat hanya ada beberapa para pembantu saja, mengingat hari sudah malam. Mansion itu meskipun tak dihuni oleh pemiliknya, namun tetap rapi dan terawat.
"Malam Nona. Selamat datang." Sapa salah satu pembantu
Mereka hanya berdeham sebagai jawaban.
Chika dkk segera masuk ke dalam lift menuju ke kamarnya masing-masing.
Kamar Chika.
Sebelum tidur Chika terlebih dahulu mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaiannya, Chika segera merebahkan tubuhnya di ranjangnya.
Tiba-tiba terlintas pikiran tentang kakaknya. Sampai detik iini cincin yang diberikan oleh kakaknya beberapa tahun lalu masih melingkar di jari tengahnya, ia tak pernah sekalipun melepaskan cincinnya selama ini, bahkan sebuah cincin tunangan pernah melingkar di jari manisnya namun ia juga tetap tak melepas cincin pemberian kakaknya.
"Semoga kakak baik-baik saja dimanapun kakak berada. Maafkan aku kak telah membuatmu celaka. Kalau saja kakak tidak menolongku, semua ini tidak akan terjadi. Aku yang terlalu bodoh saat itu. Tapi aku janji akan mencarimu sampai ketemu. Aku yakin kakak pasti masih hidup." Ucapnya penuh keyakinan.
Terlintas ingatan tentang peristiwa kecelakaan yang memisahkan dirinya dengan kakaknya. Entahlah fikiran nya mengatakan bahwa orang yang akan menabrak dirinya waktu itu dilakukan dengan sengaja..
Chika akan fokus ke pencarian kakaknya terlebih dahulu. Baru setelahnya ia akan membalas kematian bundanya. Ia tak akan terburu-buru, ia akan bermain perlahan tapi pasti. Untuk sementara dirinya akan melepaskan cincin pemberian kakaknya, mengingat ia berada di kota yang sama dengan keluarga kandungnya. Demi menjaga supaya tidak ada yang mengenali dirinya..
Memejamkan matanya mengingat memori memori indah bersama kakak dan bundanya. Perlahan ia mulai tertidur dengan tenang
🌹🌹🌹
Skip Pagi Hari☀☀☀
Pagi hari. Sang Surya telah menampakkan sinarnya menyinari Bumi. Jendela kamar yang dibiarkan terbuka membuat sinar matahari mudah untuk masuk ke sebuah kamar mewah seorang gadis cantik yang masih setia dengan tidur nyenyak nya.
Perlahan Chika membuka matanya, mengedipkan beberapa kali untuk memastikan cahaya yang masuk di kornea matanya. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi.
*****
Setelah rapi dengan baju yang ia pakai saat ini, ia segera turun untuk ke lantai dasar.
Di meja makan terlihat di sana sudah ada sahabatnya yang menunggunya, Chika segera mendudukkan diri di kursi yang masih kosong.
"Lo mau ke markas?" Kinan bertanya ketika Chika duduk di sebelahnya.
"Hemm."
"Kita ikut." Ucap Melda.
Chika hanya mengangguk sekali. Setelah itu ia melanjutkan sarapan paginya begitupun dengan para sahabatnya.
...Bersambung...
🌺🌺🌺
Jangan lupa buat:
🌹 Like
🌹 Vote
🌹 Tambah favorit
🌹 Komen
~JANGAN LUPA JUGA BUAT IKUTIN AKUN INI~
Dōmo arigatōgozaimashita ☺🙏